
Usai rujak'an, pricil membereskan sisa buah yang masih utuh ke dalam rumah di bantu oleh bibinya. Karena sudah mau magrib, mereka membubarkan diri.
Di dalam kamar, paman Arya sedang menerima telpon. Bibi Cahyani pun ikut masuk kedalam kamarnya. Sementara Pricil pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Innalillahiwainnalillahiroji'un!" seru paman Arya dan bibi Cahyani berbarengan.
"Kami akan segera berangkat bu" ucap Arya. Lalu menutup panggilannya.
"Kita siap-siap sekarang kak, selesai sholat maghrib kita berangkat"
"Iya,"
Bibi Cahyani menyiapkan beberapa potong pakaian dan di masukkan kedalam tas. Setelah itu bibi membawa keluar tas yang sudah berisi pakaian itu keluar kamar.
"Loh, mau kemana bi?" tanya Pricil yang habis mandi.
"Mau berangkat, Sil" bibi kembali masuk ke kamar, setelah suara azan berkumandang, mereka segera melaksanakan sholat maghrib.
Paman dan bibi kemudian pergi kerumah nenek untuk berpamitan, mereka hanya akan berangkat berdua untuk pulang kesemarang. Bapak angkat dari paman Arya baru saja meninggal dunia.
"Bu, kami berangkat sekarang. Titip Pricil ya bu, Chandra, jagain Pricil ya" pesan bibi pada adiknya sambil berpamitan.
Setelah itu mereka langsung berangkat ke bandara. Sementara Pricil tinggal sendirian di rumah bibinya.
Nenek kembali masuk ke dalam rumah setelah menyaksikan anak dan mantunya naik ke mobil yang akan mengantarkan mereka ke bandara. Sementara Pricil kembali masuk ke rumah bibinya.
Chandra menyusul Pricil yang akan menutup pintu rumah. "Sil," panggil Chandra setelah masuk ke dalam. Pintu kembali di buka lebar.
"Ada apa paman?"
"Kamu berani di rumah sendirian?" tanya Chandra sambil duduk di ruang makan, karena Pricil akan makan malam.
"Berani kok, kenapa" sambil nyendok nasi dan lauk.
"Tidur di rumahku aja lah Sil, nanti kalo ada apa-apa aku nggak khawatir mikirin kamu" ucap Chandra memberi saran.
"Iya deh, tapi aku tidur dimana?" tanya Pricil.
"Di kamar kak Seno aja kamarnya kosong kok, kan dia juga nggak ada di rumah."
"Oke, paman nggak makan?"
__ADS_1
"Belum, mau juga lah makan."
"Nih, piringnya" Pricil memberi piring kosong kehadapan Chandra.
"Ambilin dong, nasi sama sambal ayam aja, sayurnya nggak usah" perintahnya.
"Nih, cukup apa tambah nasinya?" sambil menyendok nasi lalu lauknya.
"Udah, makasih ya" Chandra meraih sendok dan mulai menikmati makan mereka.
Di sela-sela mereka menikmati makan malam, nenek Yana datang menghampiri. "Chand, ibu pergi ke rumah uwakmu belakang ya, uwak tiba-tiba sakitnya kambuh. Anaknya dinas malam nggak ada yang jaga," ucap nenek Yana.
"Jadi, ibu tidur di rumah uwak belakang?" tanya Chandra.
"Iya, kasihan uwak kamu, besok pagi ibu pulang kalau anaknya sudah pulang. Kamu nyusul aja kebelakang kalau ada perlu ya Chand, ibu pergi" pamit nenek sambil berlalu.
"Iya bu," jawab Chandra.
"Uwak paman sakit apa" tanya Pricil sambil membawa piring kotornya ketempat cuci piring.
"Sakit asma, anak-anaknya pada di luar kota. Cuma satu yang tinggal sama uwak" jelas Chandra sambil menghampiri Pricil ke tempat cuci piring dan meletakkan piring kotornya untuk di cuci.
Pricil memilih chanel yang akan mereka tonton, Dangdut Akademi menjadi pilihannya. Sambil mendengar nyanyian yang akan di tampilkan oleh para peserta.
Chandra duduk di sisi Pricil yang telah lebih dulu memposisikan dirinya bersandar di sofa yang langsung menghadap ke layar.
Pricil sedang memainkan ponselnya, ia sedang mencari sebuah aplikasi untuk di download.
"Hape baru, Sil?" tanya Chandra sambil ikut memperhatikan layar yang Pricil pegang.
"Iya, aku mau download pesbuk"
"Minta nomor kamu dong," Chandra mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya. "Berapa nomornya?"
"Sebentar paman, aku belum hapal" ucap Pricil yang masih menunggu download'annya selesai.
Setelah selesai, Pricil membuka kontaknya untuk melihat nomornya, lalu menyerahkan ke Chandra.
"Nih, catet sendiri"
Chandra mengamati layar yang di suguhkan Pricil lalu ia mulai mengetik nomornya. Setelah tersimpan, ia meletakkan ponselnya di atas meja.
__ADS_1
"Sil, kamu nggak belajar malam ini?" tanya Chandra sambil ikut memperhatikan layar teve di depannya.
"Nggak, lagi nggak ada PR, dan juga hari libur. Jadi biar libur juga otaknya" jawab Pricil sekenanya.
"Nonton film horor aja yuk, ngantuk denger lagu dangdud yang ini" ucap Chandra yang mulai bosan mendengar lagu yang mendayu-dayu syahdu itu.
"Nonton dimana?" tanya Pricil.
Chandra kembali meraih ponselnya, "disini" tunjuknya lalu mulai mencari film yang akan di tonton.
"Kamu mau yang mana?" sambil menunjukkan judul film yang tampir di layar hape pamannya.
"Insideus, kayaknya bagus tuh" Pricil memilih jenis filmnya.
"Oke, kita matikan teve dan matikan lampu biar tambah seru" Chandra bangkit untuk menekan saklar lampu, lalu meraih remot dan mematikan televisi, lalu duduk di sisi Pricil kembali dan mulai memutar video film tersebut.
Video mulai berputar. Film ini di sutradarai oleh James Wan dan ditulis oleh Leigh Whannell. Seorang wanita tua bayangan terlihat di dalam sebuah rumah saat penghuninya sedang tertidur. Sebuah keluarga baru pindah ke rumah yang terlihat seram itu. Film pun dimulai, setelah menonton setengah jam, suasana di film tersebut semakin seru.
"Hii, serem paman!" Pricil menaikkan kakinya lalu dipeluk kedua lututnya. Matanya tetap terus memperhatikan ke arah layar, suasana sangat mencekam. Pricil memejamkan matanya tetapi setelahnya ia kembali mengintip kelayar. Terlihat disana seorang ibu sedang memperhatikan gambar-gambar seram di lembaran kertas.
Chandra merangkul pundak Pricil sambil mengelusnya pelan. "Jangan takut, kan ini cuma film" ucap Chandra dengan tetap fokus menatap layar.
"Deg-deg serr nih jantungku paman!" ucap Pricil pelan, dengan matanya tetap mengintip kelayar, karena penasaran pada adegan selanjutnya.
"Masak sih, aku cuma tegang aja nontonnya" jawab Chandra dengan suara yang juga di pelankan.
"Iya, coba kecilin dikit suaranya. Pasti kedengaran deh suara jantung aku"
Chandra tetap seperti semula, dan malah menambah volume suaranya.
"Astaga! malah di gedein" suara dentuman menyeramkan kembali menggema, Pricil menyembunyikan wajahnya di dada Chandra.
Chandra meraih tangan Pricil yang sedang memeluk lututnya. "Ya ampun, dingin banget tangan kamu," Chandra meremas jemari Pricil yang saling bertautan.
"Namanya juga liat film mencekam begitu, siapa yang nggak tegang dan skot jantung" ucap Pricil kembali menatap layar.
"Turunin kakinya," Chandra menurunkan kedua kaki Pricil dengan tangan yang tadi menyentuh jemari Pricil. Setelah kakinya turun, Chandra menggenggam tangan Pricil kemudian di letakkan di atas perut Pricil. Kini, kepala Pricil menyandar di dada Chandra yang bidang.
Mereka kembali fokus menonton, "gantian kamu yang pegang Sil," Chandra menyerahkan ponselnya ke Pricil. Pricil merasakan dada pamannya berdegup dengan kencang, 'katanya nggak takut, tapi kok jantungnya konser' batin Pricil yang memang telinganya menempel di dekat jantung pamannya.
Chandra tersenyum senang, karena tanpa sadar, keponakannya itu begitu lengket di tubuh pamannya, dan kepalanya bersandar dengan nyaman.
__ADS_1