Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Jalan


__ADS_3

''Papa nggak pulang ma,'' tanya Tio setelah sampai di meja makan.


''Tadinya mau pulang, tapi enggak jadi. Yo sini, Lia. Kamu jangan malu-malu gitu'' mama Andin mengambilkan makanan untuk Pricil.


''Makasih tan,'' ucap Pricil saat menerima piring bagiannya.


Setelah itu, mama Andin mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


''Loh, mama nggak ambilin juga buat aku?'' tanya Tio.


''Ambil aja sendiri, kamu kan punya tangan!'' ucap Andin dengan cuek.


''Mama pilih kasih!'' Tio menyendokkan nasi ke piringnya sendiri. ''Maura mana ma?, kok nggak keliatan'' tanya nya setelah selesai mengambil lauk.


''Dia pergi main ke rumah Yura, Lia, tambah sayang.. jangan malu-malu ya, anggap aja rumah sendiri'' ucap Andin.


Pricil hanya menganggukkan kepala, ia merasa sungkan. Baru pertama kali mendarat di rumah cowok, dan di sambut dengan sangat ramah oleh orang tuanya. Berbeda dengan karakter anaknya yang menyebalkan.


Usai makan siang, Pricil berpamitan untuk pulang sekaligus belanja sebentar. ''Makasih banyak ya tante, aku pergi dulu'' pamit Pricil sambil menyalami tangan Andin.


''Iya, hati-hati ya sayang. Besok-besok main lagi ke sini ya'' ujarnya.


''Iya tante, assalamualaikum''


''Walaikumsalam''


Andin mengantarkan Pricil hingga ke teras dan di iringi oleh Tio, ''ma, aku pergi dulu ya'' pamit Tio.


''Iya, hati-hati bawa anak gadis orang. Di jaga yang bener'' ucap mamanya dengan sedikit berbisik.


''Apaan sih ma, kayak mau bawa ke medan perang aja. Bye ma'' pamitnya menyusul Pricil yang sudah berdiri di sisi motor Tio yang terparkir.


Setelah sampai di toko peralatan sekolah, Pricil menitipkan tasnya di tempat penitipan barang. Hanya dompet yang ia bawa, setelahnya ia masuk bersama Tio menuju tempat khusus pakaian sekolah.


Memilah dan memilih ukuran yang pas, setelah setengah jam akhirnya ketemu dengan yang pas, setelah itu di bawa ke kasir untuk membayar pakaian tersebut. Saat Pricil akan membuka dompetnya, Tio sudah lebih dulu menyodorkan uang ke kasirnya.


Pricil menatap Tio ingin protes, namun sudah lebih dulu di potong oleh mbak penjaga kasir. Dan akhirnya Pricil mengurungkan niat protesnya. Usai belanja, mereka kembali ke tempat penitipan barang, lalu jalan pulang.


Saat dalam perjalanan, "Lia, kita jalan-jalan bentar mau nggak?" tanya Tio sambil fokus mengendarai motornya.


"Enggak, langsung pulang aja!" tolak Pricil.

__ADS_1


"Sebentar aja kok, mau yaa" Tio berusaha membujuk.


"Kok maksa sih!" ucap Pricil.


"Enggak maksa sih, cuman pengen kamu jawab mau aja" jawab Tio dengan santai.


"Emang mau kemana?"


"Nanti kamu akan tau, sekarang kamu pegangan. Aku mau ngebut biar cepet sampe" ucap Tio memberi instruksi.


Pricil berpegangan pada kedua bahu Tio. Namun, langsung mendapat semburan kata-kata.


"Kamu kira aku tukang ojek!" tukas Tio.


"Lah?? tadi nyuruh pegangan!" jawab Pricil dengan kesal.


"Iya, tapi jangan di bahu. Kesannya mirip kang ojek tauuk!! ucap Tio tak mau kalah.


"Jadi pegangan di mana??. Di besi belakang ini aja udah aman kok!!" protes Pricil.


"Mana tangan kamu??" Tio melepas koplin motornya dan mengulurkan tangannya ke samping.


"Sini buruan" menunggu beberapa saat, akhirnya Pricil menyerahkan tangannya. Tio meraih tangan Pricil lalu ia lingkarkan ke pinggangnya.


"Satu lagi" ucap Tio.


"Iihh... nyebelin ah!!" ucap Pricil, namun menurut. Kini kedua lengannya melingkar di pinggang Tio. Dan tubuhnya sebisa mungkin ia tahan agar tidak terlalu menekan punggung Tio.


Langsung saja, Tio melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, agar cepat sampai.


"Kamu mau ngajak aku mati!!!" teriak Pricil tepat di samping telinga Tio. Tubuhnya ia eratkan di punggung cowok nyebelin itu. Karena takut akan jatuh karena saking ngebutnya Tio memacu sepeda motornya.


Namun, teriakannya tak mendapat tanggapan. Hanya deru angin yang terdengar menerpa telinga. Serta rambutnya berkibar-kibar ke belakang. Kondisi jalanan lumayan sepi, jadi memudahkan pengendara untuk memacu kendaraannya.


Tak butuh waktu lama, sampailah mereka di taman Anggrek. Cuaca yang mendukung dan tidak panas, tetapi juga tidak terlalu mendung. Adem ayem aja cuacanya.


"Kamu tuh ya! kalau mau mati jangan ngajak-ngajak aku. Mati aja sana sendiri, bawa motor kok kayak Pedrosa'' omel Pricil sambil turun dari boncengan.


Sementara yang di omelin hanya cuek bebek tak ingin menanggapi. Tio melangkahkan kaki menuju pintu masuk, tak lupa tangannya menggenggam jemari Pricil.


''Plakk'' Pricil memukul tangan Tio.

__ADS_1


''Sakit tauk!! sadis amat sih!'' ucap Tio dengan ketus.


''Kamu tuh! cari kesempitan dalam kesempatan!! jangan pegang-pegang. BUKAN mukhrim!!'' ucap Pricil dengan tegas dan menekan kata bukannya.


Tetapi, Tio hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis juteknya. Lalu ia melenggang lebih dulu.


''Bukan mukhrim, tapi tadi meluknya erat banget!!'' ucap Tio tanpa menoleh ke belakang. Sementara Pricil yang berada di belakangnya berjalan mengekor. Dan ia mendengar yang Tio ucapkan tentangnya.


''Apa kamu bilang??'' ucap Pricil tak terima dengan ucapan Tio. Pricil melangkah mensejajari langkah kaki Tio.


''Nggak ada siaran ulang'' jawab Tio sambil terus melangkah.


Pricil menghentikan langkahnya sejenak. Ia merasa jengkel dengan jawaban yang ia dengar dari mulut Tio.


''Uhhh. Awas aja nanti ya!'' ucap Pricil sambil mengepalkan tinjunya ke udara dan di satukan ke tangan satunya.


Setelah langkah Tio sudah agak jauh darinya, Pricil berbelok ke arah kiri. Ia menuju bangku taman di bawah pohon besar yang rindang. Pricil langsung duduk di sana dan bersandar menikmati terpaan angin yang sepoi-sepoi. Ia menyisir rambutnya dengan jemarinya karena terasa kusut saat di perjalanan tadi.


Tio yang merasa langkahnya sudah jauh, menoleh kebelakang. Dan ia tidak mendapati Pricil berada di belakangnya. Tio langsung menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Pricil, tetapi tidak ia temukan.


''Kemana sih si cewek jutek itu?? maen ngilang aja'' ucap Tio mulai khawatir.


''Jangan-jangan dia ngambek!'' sambung Tio, lalu ia mulai mencari keberadaan Pricil.


Pengunjung yang hanya beberapa orang yang lewat, karena hari masih siang, jadi memudahkan Tio untuk meneliti setiap orang yang ia temui.


Tio telah berjalan berbalik arah, dan ia berhenti di mana saat ia terakhir berucap. Tio mengambil arah ke kiri dan terus berjalan sampai di bawah pohon yang rindang.


Terlihat di sana seorang gadis sedang memejamkan matanya menikmati udara siang. Tio berjalan mendekat, ia akhirnya lega bisa segera menemukan Pricil.


Tio langsung memencet hidung Pricil dengan gemas. '' Maen ngilang aja! di culik orang baru tau kamu!'' ucap Tio dengan gemas. Lalu ia duduk di sebelah Pricil.


''Iihh!! apaan sih, nyebelin banget. Nanti hidungku jadi pesek kalo kamu pencet!!'' ucap Pricil sambil mengusap hidung mancungnya.


''Enak ya, di sini adem'' ucap Tio mengalihkan perhatian. Ia bersandar di sandaran bangku sambil memejamkan mata. Menghirup udara yang sama.


Pricil menatap wajah Tio yang jaraknya dekat dari sisinya. Ia telusuri dari dekat, ''manis'' gumam Pricil. Tio yang mendengar gumaman Pricil langsung membuka mata dan menegakkan punggung.


Wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Pricil yang sedang mengamati wajahnya. Tio tersenyum mendapati wajahnya begitu dekat dengan wajah Pricil.


''Kamu mau minta di cium??'' ucap Tio tanpa filter.

__ADS_1


__ADS_2