
'Tio kenapa natap aku kayak gitu sih? apakah aku terlihat sangat aneh dengan penampilan seperti ini' dan Pricil buru-buru mengalihkan tatapannya.
"Ayo Pric, kok kamu bengong" Putri yang melihat Pricil hanya mematung segera menarik lengannya untuk melanjutkaj langkahnya.
"Semuanya udah pada kenyang kan? kita foto bareng sekarang aja yuk" ucap Putri sambil menatap temannya satu persatu.
"Yukk!"
Kini mereka telah berdiri bersisian dengan pengantinnya, bu guru Lisa terlihat sangat cantik berbalut pakaian pengantin adat Jawa.
Satu!
Dua!
Action!
Mereka berpose dengan gaya ala-ala anak ABG yang kekinian, dengan jari tangan membentuk love, sarangheo. Setelah itu mereka turun dari panggung pengantin. Karena sudah banyak yang akan memberi ucapan selamat di belakang mereka.
"Nanti, kirim ya guys foto-fotonya di grup" seru Putri sambil berjalan beriringan menuju ointu keluar. Karena tadi hape yang dititipkan ke kang fotographer hape Angga dan Wina.
"Eh, Put. Kalian duluan aja keluarnya, aku mau menemui pamanku dulu. Sampe lupa kalo kesini tadi sama pamanku!" ucap Pricil kemudian ia membalikkan badan hendak meninggalkan para teman-temannya.
"Tunggu dulu Pric," ucap Wina menahan tangan Pricil yang akan berbalik arah.
"Kenapa Win?" Pricil mengurungkan niatnya untuk melangkah.
"Kamu hati-hati ya, soalnya ada yang mencurigakan dari insiden tadi" Wina berbisik di telinga Pricil. Pricil mengerutkan keningnya karena merasa bingung. Namun akhirnya mengiyakan ucapan sahabatnya itu.
Setelah itu, ia kembali untuk menemui pamannya yang sudah beberapa saat lamanya ia tinggalkan. Teman-temannya melanjutkan untuk melangkahkan kaki mereka hingga ke halaman parkir.
Pricil celingukan mencari keberadaan pamannya, karena tidak menemukan ditempat yang tadi mereka tempati. Pricil memilih duduk di bangku kosong yang ditempati Chandra sebelumnya.
'Paman mana ya, kok nggak keliatan. Apa mungkin ke toilet' Pricil membatin. Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi, matanya mencoba menelisik tempat-tempat makanan dan minuman siapa tau pamannya berada disana. Namun ia tak menemukan.
"Hey.." sapa seseorang dari arah belakang Pricil, lalu orang itu berjalan mendekat dan duduk menghadap ke arah Pricil.
"Ya, ada apa?" Pricil menanggapi dengan santai. Ia tidak kenal dengan seseorang itu, tetapi wajahnya familiar.
__ADS_1
"Kakak yang bernama Pricil kan?" tebak gadis tersebut.
"Aku Diva kak, adik kelas kakak." Diva memperpenalkan dirinya.
"Oh, ada apa ya?" Pricil merasa tidak ada keperluan atau hal lain yang berhubungan dengan gadis ini.
"Cuman mau mastiin aja kok, ya udah. Bye kak" Diva beranjak dan meninggalkan Pricil dengan kebingungannya.
"Siapa Sil?" tanya Chandra yang tiba-tiba nongol.
"Paman dari mana, aku nungguin loh dari tadi." Jawab Pricil dengan jutek.
"Tadi ngobrol- ngobrol sama temen di samping sana" sambil menunjuk ke arah gazebo yang ada di sana.
"Kita pulang yuk," ajak Pricil.
"Kamu kok pakek blazer, itu punya siapa?" tanya Chandra yang tak kenggubris ajakan Pricil.
"Temen aku tadi yang minjemin ini, karena Baju aku tadi basah. Udah yuk kita pulang" ajak Pricil tidak sabar lagi.
"Oke, yuk kita pulang sekarang" mereka kemudian keluar dan langsung pulang kerumahnya.
"Danel mau makan buah? biar kakak ambilkan," Diva menawarkan makanan tambahan kepada bocah berumur 6 tahun dan bernama Daniel. Bocah itu hanya mengangangguk. Diva adalah keponakan dari Satria sang mempelai Pria.
***
Setelah selesai mengganti pakaian, Pricil kembali menatap blazer tersebut. Kemudian ia raih dan ia hirup aroma parfumnya, 'ini bau vanila lembut, aku sering menghirup tanpa sengaja. Seperti wanginya Tio, masak ia punya dia. Baik amat mau minjemin ini ke aku' Pricil meraih ponselnya dan ia mengirim chat pribadi ke seseorang.
[ Win, jawab jujur, ini blazer punya siapa? ] send Wina.
Tak butuh menunggu, pesannya langsung centang biru dan tertulis sedang mengetik..
[Punya Tio, maaf ya. Aku nggak kasih tau tadi. Nanti bakalan kamu tolak kalau di kasih tau ] Wina membalas pesan Pricil disertai emot dua jari membentuk huru V.
[ Tuh, kan bener dugaanku. Tapi nggak apa deh, aku ucapin makasih ] Pricil kembali mengirim pesan balasan.
[ Oke, nanti aku sampein ke orangnya. Bye ]
__ADS_1
[ Bye ]
Pricil keluar dari kamar, ia menuju teras. Diamatinya pohon Belimbing yang sedang berbuah, buahnya sudah mulai menguning. Pricil mencoba menggapai dahan yang rendah, namun tak sampai. Ia mencoba melompat-lompat untuk dapat meraih buah yang matang. Karena dia termasuk pendek, jadi tak sampai.
Tangan seseorang meraih buah yang tadi Pricil coba ambil. Dan buah itu diserahkan ke dirinya.
"Nih, cuci dulu baru dimakan" Chandra menyerahkan buah Belimbing itu ketangan Pricil. Kemudian ia kembali mengambil beberapa buah untuk dinikmati.
Pricil membawa buah tersebut untuk di cuci, dan dimasukkan ke dalam wadah. Setelah bersih, ia kembali membawa buah tersebut ke teras depan beserta sebuah pisau untuk memotong buah tersebut.
Pricil mulai memotong buah tersebut dan memakannya. Muncul nenek dan bibinya, mereka menikmati santap sore bersama buah Belimbing.
"Eh, Chan. Coba ambil lagi yang masih agak hijau. Kakak mau makan yang Hijau pakai bumbu ulek" perintah Cahyani, dan segera di laksanakan oleh adiknya.
Cahyani pergi kedapur membawa cobek, serta bumbu-bumbu untuk membuat rujak. Dan dibawa kembali ke depan teras. Tugas Pricil mencuci buah dan memotong-motong menjadi beberapa bagian, lalu mereka makan buah tersebut dengan cara di cocol-cocol ke bumbu tersebut.
"Huh! hah! huh, pedasnya kak, kebanyakan nih cabenya" Chandra kepedasan sambil mengipaskan lidahnya yang terjulur. Tetapi ia tetap terus memakannya.
"Kalau enggak pedas, mana enak" ucap Cahyani.
"Iya, dasar kamu aja yang nggak pinter makan pedas" sambung bu Yana.
"Sil, kok kamu cuma makan yang kuning, nggak mau nyoba yang ijo" tanya bibinya yang memperhatikan Pricil makan.
"Nggak bi, aku kurang suka. Enak yang kuning manis" jawab Pricil.
Arya tiba di rumahnya, ia baru pulang dari urusannya dan melihat keluarganya sedang berkumpul didepan teras rumah.
"Way,... pada ngerujak ya? kok cuma Belimbing, mana buah-buahan yang lain?" tanya Arya yang melihat isi piring buah di hadapan mereka.
"Nggak ada, tambahin lah kak, biar ada variasi" tutur Cahyani istrinya.
"Sebentar kakak pergi beli buah di simpang" Arya kembali pergi untuk membeli buah tambahan.
Hanya beberapa menit, Arya sudah kembali membawa buah-buahan. Ada buah Nanas kupas, jambu air, jambu *** dan kedondong. Setelah di cuci bersih oleh Pricil, kemudian ia kembali memotong-motong buah tersebut.
"Kok, kamu cuma makan Belimbing yang kuning sama jambu aja Sil, yang ini enak loh, asem-asem manis" Arya menunjuk buah nanas dan mencelupkan buah nanas ke piring berisi bumbu rujak miliknya.
__ADS_1
"Aku cuma suka ini paman, yang lainnya kurang" jawab Pricil apa adanya. Dia kurang menyukai buah nanas, karena lidahnya pasti gatal kalau makan buah nanas.