Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Sebuah perubahan


__ADS_3

"Hahaha, itu barusan kamu nunjukkin buktinya!" Wina terlihat senang mendapati sahabatnya itu menunjukkan kejutekkannya ketika membaca pesan tersebut.


"Bukti apa sih, Win. Kamu malah cengengesan nggak jelas!" Pricil melengoskan wajah kesalnya.


"Eh, angkotnya udah berhenti. Yuk lanjut di rumah aja nanti by chat. Oke??" Wina menggandeng Pricil untuk naik ke dalam angkot.


Sesampainya di rumah, Pricil segera menuju rumah neneknya untuk mengambil kunci rumah bibinya agar ia bisa segera berganti pakaian dan melepas lelahnya di kasur.


"Nek, aku mau ambil kunci rumah" ucap Pricil sambil menghampiri neneknya yang sedang duduk di teras sambil menampi beras menggunakan tampah rotan.


"Ambil aja di dalam Sil, ada pamanmu di dalam" ujar nenek Yana sambil menjimiti gabah di tampah.


"Iya nek, aku masuk dulu" Pricil berlalu masuk ke dalam rumah. Ia bertanya pada Chandra yang sedang duduk di depan ruang Tivi sambil main ponsel.


"Paman, aku mau ambil kunci" ucap Pricil sambil kendekat ke arah Chandra.


"Oh, udah pulang kamu Sil, itu kuncinya di deket remot tv" tunjuk Chandra mengarah meja samping tivi.


"Udah, aku mau ganti baju dulu" Pricil meraih kunci lalu berlalu meninggalkan pamannya.


Pricil meletakkan tas dan menanggalkan seragamnya, ia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek. Lalu merebahkan tubuh lelahnya, dirainhnya ponsel di sisinya yang tadi ia keluarkan dari kantong roknya.

__ADS_1


'Apa bener ini nomornya Tio, coba aku cek di grup dulu deh, biar pasti' Pricil masuk ke laman grupnya. Dan meneliti nomor Tio dengan jeli. Benar saja, ternyata itu adalah nomor Tio.


'Ternyata iya, ini nomor dia. Aku namain apa ya di kontak ini??' Pricil mengetuk-ngetuk jarinya di dagu sambil berfikir.


'Nyebelin bin ngeselin' Pricil mengetik kata-kata itu lalu menyimpannya sebagai nama kontak.


'Ini udah cocok kok sama sifatmu dan perlakuanmu ke aku, Tio... Eh.. Nama panjangnya dia siapa ya??' tiba-tiba Pricil penasaran dengan nama lengkap Tio, cowok nyebelin di teritori hidupnya.


'Aku bales nggak ya!..' Pricil masih saja mengetukkan jarinya di dagu. Setelah itu, ponselnya kembali bergetar tanda ada pesan masuk. Pesan dari 'Nyebelin bin ngeselin' segera ia buka.


[ Di read doang kagak di bales! nggak minat nyimpen nomor cowok cakep ini kah?? ] isi pesan Tio kembali membuat Pricil uring-uringan.


"Tuh kan!! emang pantes aku bikin nama kamu ini, cocok banget dan nggak melezet!! emang dasar nyebelin!!" Pricil mengomel sendiri di kamarnya.


Pricil samapai memelototkan biji matanya dan hampit keluar saking ia kesel sama orang yang bernama Tio itu. Setelah itu, pesan balasan dari Tio kembali masuk dan langsung terbaca.


[ Jangan lupa bikin nama aku yang bener ya! TIO PRAYOGA. ] dengan emoticon smile yang banyak. Otomatis Pricil yang membaca pesan itu melengkungkan bibirnya menjadi senyuman mengikuti emot tersebut.


Pricil kemudian keluar dari aplikasi hijaunya, karena hari sudah terlalu sore, ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


……

__ADS_1


Sementara itu, di atas balkon. Tio sedang tersenyum-senyum membaca pesan di ponselnya. Pesan balasan dari kontak yang bernama 'si jutek emot love'


[ Sudah ku simpan! PUAS!!! ]


"Ya ampun, kamu tu emang jutek banget ya jadi cewek. Tapi... kamu manis!" Tio menggelengkan seperti orang yang sedang tidak percaya dengan sesuatu.


Eh, tunggu dulu! kenapa dia ngerasa seneng gitu!


Tanpa di sadari, Tio merasa senang dengan yang barusan ia lakukan. Untuk pertama kali ia mengirim pesan dengan pedenya menyuruh seseorang menyimpan nomornya ke seorang cewek. Serta di lengkapi dengan nama panjangnya. Diva yang notabene nya teman sekelas dengannya tidak ia gubris waktu meminta nomor hapenya.


Tapi dengan kakak kelasnya ini, ia malah dengan suka rela mengirim pesan duluan. Padahal sebelumnya ia bersikap begitu cuek.


Setelah Azan berkumandang, Tio segera masuk ke kamarnya. Ia bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib.


Kembali Tio mematut dirinya di depan cermin, ia sudah mengenakan peci hitam serta kain sarung motif lurik-lurik warna coklat.


"Kamu itu mau sholat, apa mau kondangan Tio!!" ucap mama Tio yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar Tio.


Tio hanya nyengir saat kepergok oleh sang mama.


"Ini mau sholat kok ma," dengan segera Tio membentang sajadahnya mengarah ke kiblat. Ia sholat di dalam kamarnya.

__ADS_1


Kemarin-kemarin dia jarang sholat, entah angin apa yang menghembus ke dasar hatinya ia ingin sekali rajin sholat mulai malam ini.


__ADS_2