Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Melepas Rindu


__ADS_3

Chandra merasa risih karena di peluk oleh Alya. Baginya, hanya pelukan Pricil yang terasa nyaman di tubuhnya. Sementara dalam hati Alya, ia bersorak gembira.


Pokoknya, aku akan terus berusaha untuk bisa mendapatkan hatimu, Chand, ucap Alya dalam hati. Senyumnya mengembang sempurna di balik punggung Chandra. Dia begitu senang, ini merupakan momen langka dalam hidupnya.


Sebelum benar-benar sampai di rumah, Alya meminta Chandra untuk berhenti di sebuah warung. Dia membeli sekantong gorengan di pinggir jalan. Setelah selesai, mereka kembali naik motor menuju rumah Alya.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai. Alya meminta Chandra untuk mampir terlebih dahulu. Namun, Chandra menolak karena hari sudah malam. Tak berapa lama, keluarlah ayah Alya dari dalam rumah.


''Chand? masuk dulu, sini!'' ajak pak Ahmad. Akhirnya, mau tidak mau Chandra ikut masuk. Mereka duduk di depan teras dengan saling berhadapan.


''Iya, Pak.'' Ucap Chandra.


Alya masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan air minum bagi tamunya. Tak berapa lama, Alya muncul dengan membawa baki berisi minuman dan juga gorengan yang tadi dia beli. Mereka menikmati makanan yang tersaji dengan mengobrol santai.


''Sudah sampai mana hubungan kalian?'' tanya pak Ahmad begitu mereka selesai bercanda.


Alya dan Chandra sama-sama terdiam saat pertanyaan ayahnya meluncur mulus begitu saja. Mereka saling pandang beberapa saat seperti saling berunding melalui tatapan mata.


''Baik, Yah.'' Jawab Alya.


''Baik, Pak.'' Jawab Chandra.


Pak Ahmad menatap ke arah Alya dan juga Chandra secara bergantian. Terbaca sudah gelagat dari keduanya jika mereka saling kompak.


''Maksud, Ayah, kapan kalian akan melanjutkan ke hubungan yang lebih serius.'' Ujar pak Ahmad.


Chandra menatap lekat ke arah Alya. Bagaimana dia bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, sedangkan dia tidak memiliki perasaan apa-apa pada Alya. Chandra hanya bisa menjawab dengan senyum yang di paksakan pada pak Ahmad.


''Bagaimana, Al? apa kalian sudah memikirkan hal itu?''


''Itu, .... '' Alya menggaruk kepala bagian belakangnya karena bingung.


''Nak, Chandra. Bapak sudah tua, umur tidak ada yang tahu sampai mana.'' Pak Ahmad memperhatikan Chandra dengan sorot matanya yang penuh harapan. Yang di tatap merasa gugup, Chandra meraih gelas minumnya dan hendak menyeruput isinya.


''Kami sudah membahas masalah masa depan kalian waktu itu, bagaimana jika kalian tunangan lebih dulu. Setelah itu, baru kalian menikah.'' Ungkap pak Ahmad.


''Uhuk, uhuk!'' Chandra tersedak air minumnya. Dia terkejut mendengar penuturan pak Ahmad yang terkesan memaksa secara halus.


''Nanti kita bicarakan lagi, Yah.'' Ucap Alya. Dia paham dengan reaksi Chandra. Pak Ahmad menarik napas lalu menghembuskan dengan lelah. Beliau masih belum bisa memaksa kehendaknya.


''Saya pamit pulang dulu ya, Pak. Hari sudah larut,'' ucap Chandra.


''Iya, hati-hati.''


Chandra pun pergi meninggalkan rumah Alya. Pikirannya benar-benar rumit saat ini. Di sisi lain dia ingin melupakan cintanya pada sang keponakan. Namun, di satu sisi lagi belum bisa memenuhi keinginan orang tuanya.


Sepanjang perjalanan pulang, Chandra hanya melamun. Beruntung suasana jalanan lengang, membuat Chandra leluasa memacu sepeda motornya. Tak terasa akhirnya dia sampai di rumah.


***


Pagi-pagi sekali Chandra sudah mengenakan pakaian olahraga. Dia akan pergi lari pagi ke lapangan daerah perkantoran. Chandra mengeluarkan sepeda motor miliknya lalu memanaskan sebentar. Tak berapa lama, dia sudah melaju menuju rumah Andi. Tidak butuh waktu lama, dia sudah sampai di rumah sahabatnya. Suasana mendung-mendung tapi tidak hujan. Jadi, masih terlihat rada gelap.


''Tumben, kamu ngajakin lari pagi ke daerah sana. Biasanya cuma keliling kampung doang.'' Tutur Andi. Chandra pindah ke posisi boncengan karena Andi yang akan mengendarai motor miliknya.


''Sekalian mau cuci mata, Ndi. Jangan pohon tetangga terus yang dilihat!'' tukas Chandra. Mereka sudah berada di perjalanan. Suasana pagi di hari libur ini lumayan ramai oleh orang yang akan jogging.


Sekitar lima belas menit, Chandra dan Andi sudah sampai di lokasi. Mereka memarkirkan kendaraan lalu setelahnya mulai berlari kecil mengelilingi tempat tersebut. Udara pagi terasa begitu sejuk dan menenangkan. Banyak gadis-gadis remaja yang jogging di sana berbarengan dengan Chandra.


Chandra dan Andi berpisah, mereka memilih rute yang berbeda setelah suasana semakin ramai. Chandra ke arah utara sedangkan Andi ke arah timur. Chandra menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya dengan handuk yang tersampir di bahu. Terlihat begitu mempesona di mata wanita yang membuntut di belakangnya.


Chandra telah selesai berlari mengelilingi lapangan. Kini, dia duduk di bangku taman yang tersedia. Matanya menelisik sekitaran untuk mencari keberadaan Andi. Dari sisi kiri, ada sebuah botol minuman yang tersodor ke arahnya.


''Minum dulu, nih!'' ucap seseorang.


Chandra pun langsung menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah gadis yang semalam dia antar pulang.


''Alya?'' Chandra menaikkan sebelah alisnya saat melihat Alyalah yang memberinya minum.

__ADS_1


''Makasih,'' Chandra menerima pemberian Alya. Alya pun tersenyum. Dia masih setia berdiri menatap ketampanan Chandra yang bermandikan keringat. Sangat mempesona di matanya.


''Duduk sini, Al!'' perintah Chandra. Namun, Alya masih saja tetap berdiri.


''Aku tahu, aku memang ganteng! jadi, jangan di pelototin!'' seru Chandra membuyarkan lamunan Alya.


''Eh! emm, sok kepedean. Siapa juga yang mandangin kamu?'' Alya melengos, tetapi dia menaruh pantatnya di sisi Chandra. Tangannya dia lipat ke depan dada dan menyilangkan kaki.


Chandra hanya tersenyum miring menanggapi Alya. Dia mencoba untuk tidak cuek dan juga dingin pada gadis di sampingnya. Dia harus bisa membuka hati untuk gadis lain agar bisa melupakan cinta sebelumnya. Cinta yang tidak seharusnya dia tanam dalam relung hati. Belajar dengan pelan-pelan membuka lembaran baru. Memang tidak mudah, tetapi harus di coba.


Chandra menatap lekat-lekat wajah Alya yang sedang menatap lurus ke depan. Mulut yang manyun seperti bebek dan mirip dengan Pricil jika sedang kesal.


''Kamu sama siapa, Al?'' tanya Chandra mengawali obrolan.


''Sendiri, sambil cari yang bening-bening!'' jawab Alya. ''Wahh! itu ganteng banget, coba kamu liat deh!'' seru Alya. Dia menunjuk ke arah ujung lapangan yang terdapat gerombolan cowok-cowok ABG.


''Kamu kira aku jeruk makan lemon?!'' kesal Chandra.


''Loh? emang bener kok yang aku tunjuk itu ganteng. Tapi, lebih ganteng yang di sebelahku!'' tutur Alya. Dalam hati, dia berusaha mati-matian menahan rasa malu karena sudah berusaha menggombali laki-laki yang tak lain adalah laki-laki yang dia sukai.


''Apa, Al? aku nggak denger kamu tadi ngomong apa. Coba ulangin!'' pinta Chandra.


''Enggak kok, aku nggak bilang apa-apa!'' kilah Alya.


''Kamu jadi mirip anak ABG itu, Al!'' ujar Chandra.


''Aku dewasa, Chand! enak aja nyamain aku sama bocah ingusan!'' gerutu Alya.


''Lah! tadi memuji, kalo ABG itu ganteng. Giliran di samain nggak mau!'' ledek Chandra.


''Ish! apaan, sih!'' Alya mencubit lengan Chandra karena gemas.


''Aww!'' Chandra mengelus lengannya yang terkena cubitan rasa semut dari Alya.


''Rasain! emang enak!''


Hari sudah semakin siang, panas matahari menyinari bumi beserta isinya. Dari kejauhan, Andi melihat aksi Chandra dan juga Alya yang sedang berkejaran satu sama lain. Dia hanya bisa geleng-geleng memperhatikan ulah sang sahabat.


Gedebugh!!


Chandra dan Alya terjatuh saling menindih saat mereka berebutan handuk. Karena mereka saling pukul menggunakan handuk bekas keringat dan berujung terjatuh. Wajah mereka saling beradu hanya berjarak beberapa centimeter. Chandra menatap manik hitam milik Alya yang terlihat bening. Sangat terasa degub jantung Alya di dada Chandra karena saling menempel. Sangat terasa sekali benda kenyal milik Alya tergencet oleh beban tubuhnya.


''Maaf!'' ucap Chandra. Dia bangkit lalu berdiri sambil mengibaskan bajunya yang terdapat rumput lapangan.


Sementara Alya, dia terpaku dan tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena gugup. Chandra mengulurkan tangan untuk membantu Alya berdiri. Namun, Alya hanya mematung karena tubuhnya benar-benar kaku seketika.


''Ah! lama, ayo buruan berdiri!'' titah Chandra. Dia membantu Alya dengan cara menarik kedua tangannya dari arah depan.


Wajah Alya terlihat sangat merah seperti kepiting bakar di beri saos barbeque. Chandra membersihkan kotoran yang menempel pada rambut Alya.


Mereka berjalan beriringan menuju halaman parkir karena sudah selesai dengan urusan olahraganya. Chandra dan Alya akan pergi ke suatu tempat terlebih dulu dengan mengendarai mobil Alya. Motor Chandra Andi yang akan membawa pulang ke rumahnya.


Chandra akan mencoba sering-sering bersama agar dapat cemistry. Tekadnya sudah bulat untuk melupakan kisahnya bersama sang keponakan. Lembaran baru akan ia buka lebar-lebar bersama gadis pilihan orang tuanya.


***


Siang ini, selepas makan siang. Pricil sudah janjian akan bertemu teman-temannya di terminal. Mereka akan berbelanja peralatan sekolah bersama. Setelah ijin pada paman dan bibi, Pricil langsung berangkat menuju jalan raya sembari menunggu angkot.


Pricil duduk di halte sambil memperhatikan kendaraan yang lewat. Namun, angkot belum datang ada sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapannya. Mobil serba hitam dan kaca tertutup rapat membuat Pricil mengerutkan alis. Pikirannya sudah melanglang buana. Dia berfikir bahwa mobil di hadapannya ini adalah penculik. Pricil langsung melangkah menjauh dari mobil tersebut.


Tiinn


Mobil tersebut mengikuti langkah Pricil yang semakin cepat karena ketakutan. Sementara pengemudi mobil tersebut malah terkekeh melihat gadis di depannya ketakutan.


Tepat di sebuah lorong, Pricil berbelok dan langkahnya langsung terhenti karena mobil tersebut memepet tubuhnya. Keluarlah seseorang yang mengenakan hoddie menutup kepala, mulut tertutup masker dan berkaca mata hitam.


Tubuh Pricil langsung di dorong masuk ke dalam mobil. Belum sempat Pricil berteriak, seseorang itu memberi isyarat dengan telunjuknya.

__ADS_1


''Tolong! jangan culik saya!'' ujar Pricil dengan suara bergetar. Sementara orang itu malah terkekeh geli. Pricil merasa tidak asing dengan suara yang dia dengar. Perlahan rasa takutnya berkurang, dia berusaha untuk membuka tudung hoddie orang tersebut. Tangannya bergetar untuk meraih bagian belakang kepala orang yang sedang menatap ke arahnya.


Haph


Belum sempat tangannya mendarat, sudah di tangkap oleh orang tersebut. Perlahan-lahan orang itu membuka kaca mata hitamnya lalu membuka masker penutup mulut.


Pricil melotot dan hampir saja lepas bola matanya saat mengetahui siapa orang yang hampir menculik dirinya.


''TIO!'' kaget Pricil.


''Hay, sayang!'' Tio langsung memeluk tubuh Pricil yang sangat dia rindukan. ''Aku kangen banget sama kamu,'' ucap Tio. Tangannya memeluk erat tubuh kekasihnya.


Pricil terpaku di peluk dengan begitu eratnya, ini adalah momen pertama kali di peluk oleh cowok. Jantungnya berdegub dengan kencang. Tangannya hanya diam tanpa membalas pelukan dari Tio.


''Kamu nggak kangen sama aku?'' tanya Tio dari balik punggung Pricil.


''Sayang, kok kamu diem aja? masih bernapaskan?'' ulangnya lagi.


Tio mengurai pelukannya dan merangkum wajah Pricil yang terlihat memerah terlihat begitu manis dan sangat menggemaskan.


''Ini beneran aku, bukan penculik! kok kamu bengong sih, sayang!'' ujar Tio.


Pricil masih terpaku antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan dirasakan olehnya. Tatapan matanya terfokus pada wajah Tio yang terlihat begitu bahagia.


Tio mengelus lembut pipi Pricil yang tak kunjung merespon dirinya. Satu-satunya cara yang terlintas di benak Tio adalah mengecup pipi sang kekasih agar tersadar.


Cup!


Pricil merasa ada yang dingin-dingin dan lembut menempel di pipinya. Di raba pipi yang terkena kecupan tersebut dengan jemarinya.


''Ini beneran nyata!'' lirih Pricil.


''Iya, ini aku loh, sayang! kamu gemesin banget sih!'' Tio kembali memeluk tubuh Pricil. Rasa rindu yang selama ini tertahan ia curahkan begitu punya kesempatan seperti saat ini.


''Aku juga kangen sama kamu, walaupun kemarin udah ketemu. Tapi, cuma sebentar!'' ujar Pricil. Dia membalas pelukan sang kekasih dan menumpukan dagunya pada bahu Tio. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang selalu membuat dirinya bergetar.


Begini ya rasanya pelukan sama cowok, nyaman banget. Tuhan, aku ijin ya, tolong jangan di catat dosanya.


Pricil bergumam dalam hati, untuk kali ini, dia ingin egois pada keadaan. Cukup lama mereka berpelukan dan saling megurai satu sama lain. Tio menyibakkan rambut Pricil dan merapikannya dengan tangan.


''Makasih,'' ucap Tio.


''Buat apa?'' tanya Pricil.


''Buat segalanya, kamu mau belanja kan? aku anterin, ya!'' titah Tio. Dia mulai menjalan mesin mobil untuk berputar dan kembali ke jalan raya.


''Kamu bawa mobil siapa, Yang?'' tanya Pricil.


''Mobil papanya Angga yang jarang banget di pake. Kamu panggil aku apa barusan?'' Tio sangat senang mendengar panggilan yang terlontar dari bibir Pricil.


Pricil tertunduk malu, ingin rasanya dia menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Namun, hal itu tidak bisa dia lakukan. Tio melihat kekasihnya itu malu-malu, dia semakin senang menggodanya.


''Kamu cantik banget, pengen beneran aku culik terus bawa ke KUA!'' ungkap Tio.


''Jadi, kalo nggak cantik, nggak kamu bawa ke KUA?'' Pricil menatap dengan sengit.


''Hahaha, ya enggaklah. Mending aku cari yang baru!'' seloroh Tio. Dia semakin senang menggoda Pricil yang marah padanya.


''Isshh! STOP!'' Pricil semakin kesal mendengar ucapan Tio. Dia meminta Tio untuk berhenti.


''Ya ampun! kamu tuh gemesin banget, sayang. Jadi makin cinta deh!'' tangannya bergerak mencubit pipi Pricil dengan satu tangan.


''Jangan pegang-pegang!'' Pricil mengerucutkan bibirnya.


''Aku bercanda, sayang. Aku itu cinta kamu apa adanya, sayang sama kamu lahir dan batin. Jangan ngambek dong! apa mau di cium lagi?''


Nyesss!

__ADS_1


Adem banget denger gombalanmu Tio. Pricil membuang muka dan menatap ke luar jendela.


__ADS_2