
Setelah berisitirahat mengisi kembali tenaga, Chandra beserta timnya mulai melanjutkan kembali perjalanan mereka. Jalan yang akan mereka lalui semakin terjal dan sangat menguras tenaga.
Mereka memilih santai dan tidak terburu-buru untuk sampai di puncak Sumatra. Karena medan yang mereka lewati begitu sulit dan banyak sekali akar-akar.
Tak di sangka dan tak di nyana, saking asiknya mereka berjalan dan fokus pada langkah mereka. Tiba-tiba hujan turun, tidak terlalu deras. Namun, membuat jalan menjadi licin. Jangan di tanya lagi bentuk celana dan sepatu mereka seperti apa. Sudah mirip habis berkubang di lumpur payau.
''Awww... '' pekik Alya sambil memegangi keningnya. Baru saja ia kejedot pohon yang memang posisinya di atas jalan yang mereka lalui.
''Hati-hati, Al. Jalan licin dan kamu harus liat ke depan juga.'' Seru Lia yang posisinya di depan Alya.
''Iya,'' jawab Alya singkat.
Sementara di belakang Alya ada Chandra. Chandra yang mendengar pekikan Alya pun langsung menatap Alya penuh khawatir.
''Kamu enggak apa-apa kan, Alya?'' tanya Chandra khawatir.
Alya tidak ingin menjawab pertanyaan dari Chandra. Ia memilih kembali melanjutkan langkah. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak dilakukannya.
Kini, mereka tengah melewati trek yang biasa di sebut jalan tikus. Jalan yang lebih banyak akar pepohonan yang harus mereka lewati dengan cara saling tarik menarik agar bisa sampai ke atas. Alya tengah kesusahan untuk manjat akar. Sementara Lia tengah sampai di atas. Badannya yang kecil dan ramping, membuat ia mudah menggantung pada akar sebagai pegangan.
''Geser dikit, Al. Biar aku yang naik duluan, nanti aku tarik kamu'' usul Chandra.
Alya tak mengindahkan ucapan Chandra. Ia lebih memilih memanggil Ilham yang posisinya sudah lebih dulu sampai sebelum si Lia.
''Ham, tolongin!'' seru Alya seraya mengulurkan tangannya. Ilham langsung dengan segera membantu Alya menarik lengannya dan berhasil naik.
Kemudian, barulah Chandra dan satu lagi temannya yang posisinya di belakang Chandra. Akhirnya, mereka sampai di shelter tiga. Mereka kembali beristirahat. Karena hari sudah sore. Mereka kembali mendirikan tenda untuk melepas lelah, serta menginap untuk melanjutkan kembali kegiatan mereka esok pagi.
Untuk mempersingkat waktu, author enggak nulis banyak drama di malam saat mereka menginap. Untuk lain waktu aja nanti mungkin akan di tulis. Tapi, enggak janji. Soalnya udah rindu sama Pricil yang lagi di kampung.
Summit Atack
Tepat pukul empat pagi, dalam gelap mereka memulai kembali melanjutkan perjalanan untuk segera sampai di puncak. Dengan lampu senter yang di taruh di kepala sebagai cahaya penerangan mereka.
__ADS_1
''Al, kok kamu malah di belakang. Ayo kamu di depan aku jalannya.'' Pinta Chandra saat mereka memulai melanjutkan tujuan.
''Iya, minggir'' ucap Alya.
''Kamu kenapa, sih. Tumbenan jutek terus dari kemarin'' tanya Chandra.
''Enggak apa kok!'' sahut Alya.
Kemudian, merek fokus dengan langkah kaki mereka dengan penuh kehati-hatian. Kondisi gelap membuat mereka tidak bisa melihat medan dengan jelas.
''Auhhh...'' Alya terpeleset dan huyung kebelakang. Beruntung Chandra tepat berada di belakangnya dan langsung sigap menahan tubuh Alya.
''Hupp'' Chandra menahan beban tubuh Alya secara refleks.
Cahaya senter di masing-masing kepala mereka saling beradu menyinari bola mata keduanya secara bersamaan. Mereka beradu pandang dalam waktu singkat, dan keduanya pun langsung memejamkan mata karena silau.
Chandra menaikkan senternya kearah atas dan menutup cahaya senter Alya dengan telapak tangannya yang sebelah.
''Eng, enggak apa-apa. Makasih,'' Alya langsung menegakkan tubuhnya. Jantungnya berdisko saat berada dalam dekapan Chandra yang menyangga tubuhnya.
Setelah itu, mereka kembali melangkah. Sementara yang lainnya sudah terlihat jauh.
***
Sekitar pukul setengah enam pagi, mereka sampai di tugu Yudha.
Tugu Yudha tentu sudah dikenal oleh mereka yang telah mendaki Gunung Kerinci. Nama tugu tersebut juga mungkin pernah didengar oleh para pendaki yang belum berkesempatan menapaki kaki di Atap Sumatera tersebut. Lalu, sebenarnya apa atau siapa itu Yudha?
Tugu Yudha ternyata adalah sebuah tugu dengan plakat yang dibuat untuk mengenang seorang pendaki muda yang hilang di tengah perjalanan. Dalam plakat tugu tersebut tertulis ‘Tempat berpisahnya saudara kami YUDHA SENTIKA, 23 Juni 1990.'
Kisahnya, pada saat itu Yudha Sentika baru berusia 17 tahun merupakan siswa penggiat alam yang terpisah dengan teman-temannya ketika turun dari Puncak Kerinci saat itu, kabut tebal menyelimuti perjalanan mereka di area ini. Yudha terpisah menghilang, jasadnya pun tidak diketemukan sampai saat ini.
Chandra beserta rombongan menyempatkan untuk berdoa sejenak di tugu tersebut. Setelahnya, mereka kembali melanjutkan pendakian.
__ADS_1
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk mereka sampai di puncak Indrapura. Mereka ingin melihat keindahan Sunri**se dari atap Sumatra ini.
Helaan nafas penuh kelegaan dari mereka yang mendaki terdengar begitu merdu dan penuh kekaguman. Mereka tidak lupa mengabadikan momen mereka di puncak gunung tersebut.
''Wahhh,...'' seru Alya yang baru saja membuka penutup hidungnya. Kalau author nyebutnya masker.
''Akhirnya, kita sampai juga disini,'' seru Chandra.
Wajah dan tubuh lelah mereka terbayar sudah saat melihat keindahan danau tujuh dari puncak gunung Kerinci.
Pemandangan yang sangat indah serta cuaca yang mendukung menjadikan tempat tersebut sangat menarik perhatian untuk dinikmati mata para pendaki.
''Alya, fotoin aku dong.'' Pinta Lia sembari menyerahkan ponselnya.
''Oke! kita gantian ya, Lia'' sebut Alya dan mulai membidik objek.
Setelah beberapa pose di dapatkan, kini giliran Alya yang berfoto. Alya mulai merentangkan kedua tangannya dan tersenyum dengan lebar. Ia sangat menikmati keindahannya. Pose tersebut di ambil beberapa kali oleh Lia, dan juga Chandra yang tanpa di minta juga memotret Alya.
Setelah pukul delapan pagi, mereka mulai bersiap-siap untuk turun dari puncak gunung.
-
-
-
Halo teman-teman, terima kasih banyak. Aku minta maaf jika ada kesalahan atau kata-kata yang tidak sesuai dengan yang aku tulis. Sesungguhnya author pun belum pernah naik ke puncak gunung. Cuma pernah manjat pohon ubi taun, pohon jengkol, pohon cempedak dan pohon buah-buahan. Buah-buahan seperti belimbing, jambu dan pohon jeruk. Jujur amat, sih! Ketahuan kan kalau enggak pernah kemana-mana.
Oh, iya, sambil menunggu aku up bab selanjutnya, aku mau rekomendasiin cerita novel karya temanku. Ceritanya sangat menarik dan lucu. Dijamin bisa bikin kalian baper, emosi, ketawa dan sedih bercampur seperti Salad with sauce peanut. Halah, kebanyakan cerita nih si author. Maaf, sedikit curhat. Biar rileks pikiran.
Jangan lupa mampir ya, kiss buat kalian yang selalu setia membaca karya recehku ini.
__ADS_1