
"Haaahhh!!!" Pricil dengan menahan nafasnya terkejut, dan langsung menutup mulutnya dengan rapat menggunakan telapak tangan agar tak ketahuan telah mengintip.
Setelah itu, Pricil segera meninggalkan pintu itu menuju dapur. Tenggorokannya benar-benar kering. Dengan segera ia meraih gelas yang berada di atas meja makan lalu menuangkan air di dispenser. Segera di teguknya hingga tandas. "Ah.. Lega rasanya"
Setelah itu, Pricil kembali lagi masuk ke kamar. Melanjutkan tidurnya yang terjeda. Namun, bayang di kamar sebelah tadi malah mengisi ruang kepalanya. "Dasar, kenapa malah kebayang itu sih!!" Pricil menggerutu sambil memukul kepalanya yang di rasanya sengkleh.
Setelah itu ia memejamkan matanya dan kembali untuk tidur. Hingga pagi menjemput.
Pricil dengan segera ia keluar dari kamar, untuk pulang ke rumah pamannya. Ia membuka pintu rumah neneknya dan berjalan keluar, sesampainya di rumah pamannya ia meraih handle pintu. Namun masih terkunci, ia balik lagi kerumah neneknya untuk kencari kunci rumah pamannya.
Ia mencoba mencari di dekat tempat tidur yang ia gunakan semalam, tetapi tidak ia temukan. Ia beranjak keluar ingin bertanya pada pamannya di kamar sebelah.
Masih sama, kondisi pintu kamar Chandra masih terbuka sedikit, dan Chandra pun masih dengan posisi yang sama. Celananya melorot hingga di paha tanpa tertutup apa-apa.
Pricil menutup matanya, dan ia mengetuk pintu itu dengan posisi berjarak agar tidak bisa meoihat isi di dalam sana.
Tokk
__ADS_1
Tokk
Tokk
Perlahan, Pricil memanggil pamannya dari balik pintu. "Paman,... Aku mau minta kunci, mau berangkat sekolah" ucap Pricil dengan kuat. Ia mencoba menetralkan jantungnya. Karena ia takut kalau pamannya akan marah jika ia melihat kondisi pamannya yang seperti itu.
Tak kunjung mendapat jawaban, Pricil kembali mengulangi panggilannya. Dan terdengar suara sahutan dari dalam sana.
"Astaga!!!" Chandra kaget melihat dirinya sendiri dengan penampilannya. Buru-buru ia menaikkan dan memasangnya dengan benar celananya.
Chandra meraba kantong celananya yang semalam ia gunakan untuk menyimpan kunci rumah kakaknya. Dan ia berjalan keluar untuk menyerahkan kunci itu ke keponakannya.
"Mana kuncinya, nanti aku telat" Pricil menengadahkan tangan untuk meminta kunci. Chandra pun mengulurkan kunci tersebut ke tangan Pricil.
"Nih, nanti biar aku yang anter kamu sekolah" Chandra menaikkan dagu Pricil untuk menatap dirinya.
"Nggak usah paman, aku berangkat sendiri aja" Pricil meraih kunci itu lalu pergi keluar mebuju rumah bibinya. Ia tak sanggup menatap pamannya itu.
__ADS_1
"Pasti dia udah liat aku, makanya dia begitu. Hah!! Bodohnya aku, bisa lupa ngunci pintu" Chandra merutuki dirinya sendiri. Setelah itu, ia pun bergegas untuk kandi dan besiap untuk ke sekolah.
Setelah beberapa menit, Pricil sudah rapi dengan seragamnya. Ia pergi ke rumah neneknya itu untuk menitip kunci rumah bibinya. Di lihatnya Chandra sudah rapi dengan seragam miliknya. Chandra mencoba bersikap biasa.
"Kamu sudah siap, aku antar aja, jangan nolak"
"Loh, udah mau berangkat ya Sil, udah sarapan? Sini sarapan dulu. Masih ada waktu kan. Biar nenek buatkan dulu sebentar" sahut nenek Yana yang tiba-tiba udah ada di samping Pricil berdiri.
"Eh, biar aku sarapan di sekolah aja nanti nek, nenek kan baru pulang, nggak usah repot-repot" ucap Pricil.
"Iya bu, nanti aku ajak Pricil sarapan di simpang aja" ucap Chandra.
"Loh, kamu mau nganter Pricil ke sekolah? Ya udah sana. Nanti malah telat, ibu nggak jadi mau bikin sarapan" nenek Yana masuk ke kamarnya dan meninggalkan anak dan cucunya di luar.
"Tunggu sebentar ya Sil, aku ambil motornya dulu" ucap Chandra dan berlalu menuju garasi motornya. Ia memanaskan sebentar setelah itu menhampiri Pricil.
"Ayok naik"
__ADS_1
Pricil akhirnya menurut saja, ia naik ke boncengan. Ia masih canggung, kenapa malah pamannya ini bersikap biasa saja. Pricil masih saja terbayang-bayang hal yang lebih horor dari film horor Insideus yang semalam ia tonton.