Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Plus-Plus


__ADS_3

Ada adegan sedikit menggelitik tubuh. Jika tidak ingin membaca, cukup like aja ya. Sejujurnya aku nggak bisa mendeskripsikan dengan baik. Tetapi lebih ahli ke prakteknya langsung, heheh. Chanda kok, damai ya.


"Akhirnya habis juga filmnya, aduh! leherku pegel" keluh Pricil sambil memijit tengkuknya.


Chandra kembali menyalakan saklar lampu, tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 23:00 wib.


"Sini aku pijit," Chandra kembali duduk di sebelah Pricil, lalu meraih tengkuk keponakannya yang pegal. Karena selama menonton, ia terus menempel ke dada pamannya.


Chandra mulai memijit dengan lembut, lalu di urut keatas lalu kebawah dan diulangi hingga Pricil mengantuk karena terasa enak di pijit.


"Udah enakan?" bisik Chandra di samping telinga Pricil yang merem melek menikmati pijitan.


"Hmm, udah..aku jadi ngantuk paman, aku kekamar ya" Pricil berusaha berdiri. Ia benar-benar mengantuk.


"Nggak jadi tidur di rumah sebelah?, kita kerumah sebelah aja yuk" ajak Chandra sambil memegangi tubuh Pricil yang limbung.


"Hmm, udah ngantuk banget," Pricil kembali terduduk di sofa. Tubuhnya terbaring, matanya sudah terpejam sempurna. Menandakan ia benar-benar lelah. Chandra membiarkan sejenak Pricil tertidur di sofa. Ia kemudian pergi kerumahnya untuk menyiapkan kamar yang akan di tempati Pricil.


Setelah itu, ia mengangkat tubuh Pricil ala Bridal style dan dibawa ke rumahnya. Setelah itu ia kembali lagi kerumah kakaknya untuk mengambil ponsel dan mengunci pintu.


Kembali ia masuk ke kamar yang di tempati oleh keponakannya, seketika setan lewat menghampiri dirinya. Setan itu membisikkan kata-kata kepadanya untuk mendekati gadis itu.


'Sentuh dia, sedikit saja. Sebagai ucapan selamat tidur' bisik setan merah di telinga kirinya. Kemudian bisikan di sisi sebelah kanan menyuruhnya untuk segera meninggalkan sang keponakan, biarkan ia istirahat.

__ADS_1


Chandra dengan perlahan duduk di sisi ranjang, ia menaruh ponselnya dan menyalakan kamera untuk merekam video keponakannya yang sedang tidur itu, lalu di elusnya kepala Priicil dengan lembut. Di sibaknya rambut yang menutup pipi mulusnya, kemudian ia mengecup keningnya dengan dalam dan lama. Di tatapnya lekat-lekat tubuh mungil itu. "Panas," Pricil berucap dengan mata terpejam, ia berusaha menaikkan kaosnya. Kemudian ia duduk sebentar dan meloloskan baju kaos yang tadi ia kenakan, dan kini tubuhnya hanya berbalut tanktop putih dan tipis. Pricil sudah biasa tidur hanya mengenakan tanktop. Jika ia memakai baju pasti akan kepanasan.


Chandra menelan ludah dengan susah payah, saat ini pandangan bukit kembar itu terlihat nyata di depan matanya. Ingin sekali ia menyentuh benda empuk itu, tetapi ia ragu. Takut sang empunya terbangun. Namun, rasa penasaran dalam dirinya mengalahkan logikanya yang mencoba berontak.


Di ulurkan tangan kanannya mendekati kedua bukit itu, dengan perlahan ia menyentuh permukaan bukit di balik kantong busa berwarna hitam. Lalu di elusnya dengan hati-hati. Dan, sesuatu di dalam dirinya terasa sangat sesak.


Pandangan matanya kini mulai berkabut, matanya menjadi sayu. Perlahan-lahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Pricil, di kecupnya dengan sangat pelan. Dihirupnya aroma tubuh sang keponakan di sisi lehernya yang mulus. Ia kembali mengecupnya dengan pelan, tangannya kini mencoba untuk menelusup ke dalam bukit.


Pricil mulai bergerak dan melenguh, karena merasa tubuhnya seperti geli. Ia memiringkan tubuhnya menjadi ke samping kiri menghadap ke posisi Chandra duduk.


Mata tetap terpejam, sepertinya ia memang tidur tanpa merasa terganggu. Kembali tangan Chandra menelusup masuk ke area bukit kembar, menjalar kebelakang untuk mencari pengait kantong busa yang melindungi bukit kembar itu. Setelah berhasil terlepas, ia kembali menyentuh bukit itu dengan hati-hati.


Tangan sebelah kirinya mencoba meredam gejolak si sotong cokelat di dalam segitiga bermuda. Perlahan ia mengelus miliknya, tangan satunya lagi mengelus bukit itu dan merambah turun ke pusat.


'Ahhh... aku benar-benar nggak tahan' Chandra merutuki dirinya dalam hati.


Akhirnya ia mengeluarkan si sotong dari dalam persembunyiannya, ia berdiri menghadap ke Pricil yang tertidur lelap. Perlahan di urutnya si sotong cokelat itu, dari gerakan lambat berirama kini mulai meningat sedang dan meningkat lagi ritmenya menjadi lebih cepat. Matanya terfokus pada bukit kembar, sesekali ia memejamkan matanya untuk meresapi yang ia rasakan.


Setelah itu, ia mulai tak tahan ingin segera mengeluarkan lava dari dalam sotongnya. Kembali ia menggerakkan tangannya mengurut si sotong dengan ritme lebih cepat. Dan, sijii, loro, telu......


Akhirnya, lega...


Tubuhnya terasa lemas, ia duduk sebentar dan merapikan pakaian pricil yang terlihat tersingkap, tak lupa ia memasang kembali pengait kantong busa tersebut.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Chandra meraih tissue yang ada di meja nakas untuk membersihkan lavanya yang menyembur di lantai. Setelah dirasa sudah bersih, ia menyelimuti tubuh Pricil dengan selimut lalu kembali di kecupnya kening itu dengan lembut dan dalam 'terima kasih sayang, love you' gumamnya dalam hati. Lalu di raihnya ponselnya dan menyimpan rekamannya.


Kini Chandra meninggalakan keponakannya sendirian di dalam kamar itu, ia menutup pintu kamar tersebut dengan pelan. Lalu ia membuang sampah tissue itu kedalam tong sampah di kamar miliknya.


'Akh, aku benar-benar sudah gila. Kenapa rasa ingin menyentuh tubuhnya begitu menggebu' Chandra meremas rambutnya dan menyugarnya kebelakang.


Chandra menaiki ranjangnya, ia merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya agar bisa menjemput mimpi indahnya di dini hari. Namun, masih sangat sulit matanya untuk di ajak tidur.


Ia kembali meraih ponselnya, kembali ia menyalakan video yang tadi ia buat. Kini Chandra kembali mengulang rasa nikmat yang tadi ia rasakan. Setelah merasa puas dan begitu lelah, barulah ia terlelap.


Tepat pukul 04:30 Pricil terbangun, ia merasa tenggorokannya sangat kering. Ia menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya. Dengan mata yang masih setengah melek, ia mengamati situasi kamar yang ia tempati.


'Apa aku sekarang sedang tidur di kamar paman Seno, seingatku tadi aku di rumah bibik deh, kok udah sampe sini aja. Nggak mungkin Sleep Walking. Apa jangan-jangan??' Pricil bertanya pada dirinya sendiri. Lalu ia membulatkan matanya, menggelengkan kepala.


Pricil berdiri mengamati tubuhnya, ia melihat dirinya hanya mengenakan tanktop, bajunya tergeletak disisi bantal yang tadi ia gunakan.


'Aku nggak di apa-apain sama paman jomblo kan? kok bajuku bisa lepas sendiri?. Oh... nggak, ini kan memang udah kebiasaanku kalo tidur cuma begini. Bisa aja tadi pas lagi tidur aku melepas kaosku' Pricil mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berfikir yang positif.


Kini ia membuka knop pintu dan berjalan keluar dengan perlahan menuju dapur untuk mengambil air minum. Pricil mengamati satu pintu yang sedikit terbuka pintunya, dan ia tahu itu adalah kamar paman Chandra.


Pricil mencoba mendekati pintu itu, ia mencoba melihat isi di dalam kamar tersebut. Seketika matanya terbelalak menyaksikan pemandangan di hadapannya.


"Haaahhh!!!" Pricil dengan menahan nafasnya terkejut, dan langsung menutup mulutnya dengan rapat menggunakan telapak tangan agar tak ketahuan telah mengintip.

__ADS_1


__ADS_2