
''Mau ngapain ngajakin aku kesini!'' tanya Pricil tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
''Enak ya yang dapet perhatian dari cowok lain!'' sinis Tio.
Pricil langsung menoleh ke arah Tio mendengar tuduhan yang tak masuk akal. Dan menatap Tio dengan tajam.
''Kamu ngomong apa sih! aku nggak ngerti!'' jawab Pricil.
Dalam hati Tio, ia sedang bingung harus bagaimana. Ingin mengeluarkan unek-unek di hatinya tetapi begitu sulit. Betapa ia sangat cemburu saat memperhatikan teman sekelasnya itu bernyanyi sambil menatap Pricil dengan tatapan penuh damba. Sepertinya, ia harus gerak cepat sebelum di dahulin orang itu.
'Tapi, bagaimana cara ngomongnya ya' Tio bingung sendiri. Ia akan menghubungi Angga nanti untuk berguru sejenak karena dia baru saja jadian dengan sahabat Pricil.
''Heh!! aku dari aku ngomong nggak di tanggepin. Aku pergi nih!'' ancam Pricil dan hendak berdiri untuk meninggalkan Tio. Namun, Tio dengan cepat menahan gerakan Pricil dan Pricil mengurungkan niatnya.
''Aku, mau ngomong, serius sama kamu!'' ucap Tio dengan gugup dan dingin.
(Aneh deh kamu Tio, kamu itu mau nembak apa mau marahin Pricil sih. Author serius nanya nih)
''Ya udah. Buruan mau ngomong apa! ini sekolah udah sepi banget. Nanti gerbangnya di kunci kita nggak bisa keluar!'' desak Pricil.
__ADS_1
''Emm, aku mau ngomong, kalau aku...'' dengan susah payah Tio menelan ludahnya karena rasa gugup. Ingin sekali menelepon Angga untuk saat ini juga, tapi gengsi.
''Astaga, Tio......kamu sebenarnya mau ngomong apa??? kok di lama-lamain gini sih!'' Pricil sudah mulai kesal dan emosi. Namun ia menahannya.
''Kamu enggak boleh deket-deket sama Abdul!'' ucap Tio dengan lancar tanpa tersendat. Tetapi setelahnya ia menepok jidatnya sendiri. Dan mengumpat dalam hati 'bodohh sekali kamu Tio, bukan itu yang harus kamu bilang. Susah amat sih mau bilang suka sama dia' Tio merutuki dirinya yang tidak Gentle.
Padahal, setiap malam ia sudah menonton drakor atas saran dari Angga. Tetapi, giliran untuk di praktekan malah dia kesusahan sendiri.
''Kenapa kamu melarang aku deket sama Abdul? Dan kamu tahu dari mana?? terus apa masalahnya?'' cecar Pricil dengan heran.
''Aku cemburu!'' ucap Tio dengan lirih dan tidak begitu jelas di pendengaran Pricil.
''Kamu bisa nggak sih, lembut dikit kalo ngomong sama aku! judes melulu. Pedes tau telingaku!'' ujar Tio dengan sedikit menaikkan volume suaranya.
Pricil tersentak, ia pun tak sadar bahwa setiap berbicara dengan Tio selalu kasar dan ketus. Alih-alih untuk menjawab, Pricil memilih meninggalkan Tio dan berlari menjauh dari sana.
''Kamu emang cowok ternyebelin sedunia, Tio!'' ucap Pricil dengan sangat kesal. Pricil menoleh ke belakang dan tidak ada siapa-siapa. Ia melangkahkan kakinya dengan begitu cepat dan keluar dari pintu gerbang.
Sementara itu, Tio berjalan dengan gontai meninggalkan bangku kosong yang tadi mereka gunakan untuk duduk berdua.
__ADS_1
Pikirannya kini tambah runyam. Ternyata sulit sekali untuk menyatakan perasaan yang sudah tumbuh di hatinya. Kini ia meraih ponselnya dari saku celana dan menghubungi Angga. Ia akan bertandang ke rumah Angga dan meminta pertolongan sang sahabat untuk masalah isi hatinya yang penuh agar bisa di tumpahkan ke hati yang lain. Yaitu, hati gadis pujaannya. Pricilia Atmaja. Gadis yang sudah membuat dirinya berubah dan mengusik ketenangan hatinya. Hati yang selama ini belum pernah disinggahi oleh gadis manapun.
''Halo Ga, kamu di rumah kan?'' tanya Tio dengan ponsel yang menempel di telinganya.
''Iya, kenapa?'' sahut Angga di seberang sana.
''Aku ke rumah kamu sekarang!'' ucap Tio dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia bergegas menuju motornya yang terparkir sendirian di sana. Saat ia sudah keluar dari area sekolah. Di ujung jalan sana, Tio melihat Pricil di bonceng oleh seseorang. Dan ia sangat jelas melihat dengan mata kepalanya yang masih waras. Siapa yang menghampiri Pricil dan menyuruh gadisnya untuk ikut dengannya.
''Asemm!! ternyata dia tikungan tajam!'' Tio memutar gas motornya dengan kencang hingga menimbulkan suara yang sangat berisik. Suara motornya meraung-raung di tepi jalan, mewakili suasana hatinya yang panas. Setelah itu, ia menekan tuas gigi dan koplinnya. Melesat secepat kilat, dan hanya dalam waktu tiga puluh detik, ia sudah sampai di depan rumah Angga. Padahal, kalo di tempuh dengan jarak normal, memakan waktu 4-5 menit jalan kaki.
(Kok enggak di susulin aja Pricilnya Tio... kamu sebenarnya niat apa enggak mau pacaran ama Pricil. Author gerem loh sama sikapmu ini)
Pricil sedari tadi hanya diam tak berniat menyahut ucapan dan pertanyaan Abdul yang di lontarkan padanya. Pricil hanya mengamati jalan raya dan kendaraan yang berjalan. Fikirannya sedang di penuhi oleh ucapan terakhir Tio tadi. Ucapan yang menyatakan bahwa ia selalu ketus dan judes.
'Apa aku seketerlaluan itu ya' gumam Pricil.
''Kak, kakak kenapa dari tadi diem aja nggak jawab omongan aku'' tiba-tiba suara lembut Abdul menelusup ke dalam telinga Pricil dan membuatnya tersadar dari lamunan. Kini, mereka sudah sampai di depan rumah Pricil.
''Maaf. Kakak enggak denger, makasih udah nganterin kakak pulang'' ucap Pricil dan langsung meninggalkan Abdul yang ingin mengeluarkan suara dari bibirnya. Pada akhirnya Abdul tersenyum puas dan pergi dari sana.
__ADS_1
''Hahaha, aku akan gerak cepat dari kamu, Tio Prayoga. Kita lihat saja nanti'' ucap Abdul di dalam perjalanan. Ia bersiul-siul dengan hati yang gembira.