
Skip yang kemarin.
Tak terasa waktu terus berlalu, ujian kenaikan kelas telah tiba. Dan kini, ujian kenaikan kelas sedang berlangsung di setiap sekolah. Tanpa terkecuali.
Di setiap kelas masing-masing, siswa mengumpulkan tas di depan kelas. Dan hanya membawa alat tulis ke kursi masing-masing. Semua siswa yang berada di dalam kelas sedang fokus mengisi lembar jawaban yang baru saja selesai di bagikan dengan nama mereka. Lalu kemudian mereka mulai membaca lembaran-lembaran soal tersebut.
Pricil telah selesai mengisi data dirinya di kolom yang telah tersedia. Setelah itu, ia mulai membaca soal demi soal satu persatu dengan teliti. Lalu ia melingkari jawaban yang menurutnya benar.
Pengawas mulai berjalan meneliti setiap siswanya yang fokus dengan soal masing-masing. Guru tersebut berjalan mengitari tiap-tiap deretan meja.
Saat guru tersebut menghadap ke arah siswa yang duduk di dekat dinding. wina meminta kode jawaban nomor 10 ke arah Pricil dengan bahasa isyarat.
Mereka sebelumnya sudah sepakat dengan kode-kode nomor serta jawaban. Pricil pun menunjukkan jari kelingkingnya di atas pahanya. Wina menatap kode yang di berikan Pricil lalu ia menandai jawaban tersebut di lembar jawaban miliknya.
Sebelumnya mereka telah sepakat, untuk jawaban A di kode dengan jari kelingking, jika jawabannya B di kode dengan jari manis, lalu jawaban C di kode dengan jari tengah dan terakhir jawaban D dengan kode jari telunjuk.
Setelah waktu berjalan sekitar 60 menit, ada beberapa siswa yang langsung mengumpulkan jawaban ke meja depan.
Pricil baru selesai mengisi semua jawaban dan ia hendak mengumpulkan lembar jawabannya. Namun segera di kodel oleh Putri yang duduk di sebelah kirinya dan Wina di sebelah kanannya.
"Ssutt! ssuut!" Putri mengkode dengan berbisik mengarah ke Pricil. Soal ujian ia angkat agar menutup wajahnya yang menghadap ke Pricil.
"Nomor 30 sama 33 apa jawabannya" tanya Putri dengan waspada.
Pricil pun memberi kode jari tengah sebagai jawaban. Lalu kemudian jari tengah lagi ia tunjukkan ke arah Putri. Putri pun mengangguk samar lalu ia menurunkan lembar soalnya. Dan memindai jawabannya ke lembaran miliknya.
Kini giliran Wina yang kembali meminta jawaban pada Pricil. "Nomor 27, 29, 35 apa" tanya Wina dengan hati-hati. Hanya dengan gerakan bibir, Pricil mengerti yang di maksud oleh Wina. Ia pun kembali memberi jawaban ke sahabatnya itu.
Sungguh kompak sekali mereka ini, tanpa ketahuan bahwa mereka mencontek. Dan kini waktu sudah habis. Semua di haruskan segera mengumpul semua lembar jawaban.
"Waktu sudah habis, segera kumpulkan jawaban kalian" ucap guru pengawas tersebut dengan menatap ke siswanya secara bergilir.
Mulai dari meja depan hingga paling belakang mereka mulai meninggalkan kursi mereka. Ada 1 orang yang belum selesai dengan ujiannya dan ia meminta bantuan kepada Wina.
__ADS_1
Wina berjalan melewati siswa tersebut pura-pura tidak tahu. Tetapi tangan sebelahnya ia simpan di belakang, lalu memberikan kode jawaban. Sekilas Wina menoleh kebelakang mulutnya mengucapkan kata A tanpa suara, disertai gerakan tangan di belakang mengkode dengan jari kelingking. Berikutnya dengan jawaban selanjutnya hingga ia hampir sampai di meja depan.
Siswa tersebut tersenyum lalu segera mengumpulkan jawaban karena tinggal ia sendiri yang belum.
***
"Kantin guys" ucap Pricil ketika mereka telah menyusuri koridor untuk turun ke bawah.
"Kuy lah. Laper nih, butuh amunisi buat nyontek jawaban soal berikutnya" ujar Wina dengan wajah tanpa dosa.
Sekarang mereka sedang menikmati cilok kuah kacang. Setelah selesai dengan ritual makan, Pricil membaca sekilas materi yang sekiranya keluar di soal nanti.
Suasana kantin hening tak banyak yang bersuara. Seperti saat mereka sedang di dalam ruang ujian.
Sepertinya arus ujian terbawa sampai ke kantin. Hening tetapi ada orangnya.
Setelah membaca sebentar, Pricil menyimpan buku kecilnya ke dalam tas. Saat matanya memandang arah keluar kantin. Ia melihat Tio berjalan menuju kantin. Tetapi ada temannya yang mensejajari langkahnya.
Saat Tio masuk kedalam kantin dan melihat Pricil di sana. Pricil mengalihkan tatapannya. Pricil langsung mengajak kedua sahabatnya untuk cabut dari kantin.
"Udah kenyang kan? Yuk naik ke atas!" ajak Pricil sembari melangkah mendahului Putri dan Wina yang baru berdiri.
Tatapan mereka bertemu saat Pricil melewati Tio yang berhenti di tengah pintu masuk. Sebelahnya ada Diva, cewek yang pernah menemuinya di waktu kondangan waktu itu.
"Permisi! numpang lewat!" ucap Pricil dengan nada ketus dan menatap sinis ke Tio dan Diva.
Lalu Putri dan Wina mengekor di belakang Pricil.
"Angga mana? Kok kalian nggak bareng?" Wina menyempatkan bertanya dengan Tio.
"Toilet" jawab Tio dengan datar. Lalu ia melangkah menuju etalase kue. Dan masih di ikuti oleh Diva di sampingnya.
"Kamu ngapain sih? Ganggu aja!" ucap Tio dengan tatapan tidak suka nya.
__ADS_1
Ia memesan beberapa kue goreng seperti risol, bakwan dan tahu. Lalu ia membayar dan segera meninggalkan Diva yang baru akan membayar makanannya.
"Tio, tunggu!" seru Diva dengan gerakan cepat menyerahkan uang tanpa mengambil sisa kembaliannya.
"Apaan sih!! Udah sana. Jangan ikutin aku." Ucap Tio dengan dingin. Matanya terlihat sangat menyeramkan karena ia benar-benar tak ingin di ganggu.
Ketiga sejoli itu duduk di kursi koridor kelas.
"Eh, Pric. Kok aku kayak familiar sama cewek yang di samping Tio tadi" celetuk Wina.
"Nggak penting!" jawab Pricil dengan juteknya.
"Aku liat mata cewek itu, mirip mata orang yang waktu di gor saat itu" terang Wina.
Pricil mengernyitkan kedua alisnya dan menatap Wina penuh tanya.
"Yang bikin aku jatuh waktu itu??" tanya Pricil untuk memastikan pikirannya.
"Iya, kamu nggak merhatiin sih. Karena dia pakai masker dan kaca mata. Tapi, sorot matanya aku masih bisa meneliti" terang Wina.
"Loh, ada insiden apa? Kok aku ketinggalan berita" tanya Putri yang sedari tadi hanya menyimak.
"Jadi, kemarin itu. Pricil di celakai orang pas keluar dari nonton pertandingan basket waktu itu" Wina menerangkan kejadian yang menimpa sahabatnya.
"Loh, kok kalian nggak cerita ke aku sih. Jahat banget ih! Tapi... Gimana kondisi kamu waktu itu Pric, parah nggak?" tanya Putri dengan khawatir.
"Aku nggak apa-apa kok Put," jawab Pricil.
"Nggak apa-apa gimana? Kaki kamu sampe pincang gitu kok malah bilang nggak apa-apa" keluh Wina.
"Ya ampun.. Maafin aku ya Pric, aku malah nggak tahu kalau kamu dapet musibah waktu itu" ujar Putri.
"Nggak apa Put, aku beneran nggak apa-apa. Karena ada obat mujarap milik nenekku, jadi aku cepet pulih" terang Pricil. "Eh, ayuk masuk. Itu pengawasnya udah dateng!" Mereka segera bergegas masuk ke kelas mereka.
__ADS_1