Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Hadiah?


__ADS_3

Malam harinya, Chandra berniat bergabung dengan keluarga yang sedang berkumpul di bawah pohon belimbing sambil menikmati kue putu yang baru saja di beli di mamang-mamang yang jualan menggunakan gerobak dorong.


Terlihat di sana kakak ipar dan kakak perempuannya sedang asik bercerita sambil mengunyah kue putu. Sedangkan bu Yana sedang menuangkan teh panas ke dalam cangkir miliknya.


Tetapi, Chandra tidak melihat keponakannya ikut bergabung di sana dan ia mengurungkan niatnya. Chandra langsung saja masuk ke rumah kakaknya dan berniat menghampiri Pricil yang mungkin sedang ada di dalam kamar.


Tokk!!


Tokk!!


"Sil, kamu di dalam?" panggil Chandra sambil mengetuk pintu kamar tersebut.


Ckleekk


Pricil membuka pintu kamarnya dan ia segera keluar tanpa membalas sapaan dari pamannya itu.


"Sil, aku pengen ngomong sebentar sama kamu" Chandra menarik lengan Pricil dan di tuntun ke belakang tepat di bawah jemuran. Terlindung dari pohon-pohon dan Chandra mengambil dua buah kursi untuk mereka duduk.


"Ngapain sih, mau ngomong kok harus ke bawah tali jemuran gini!" gerutu Pricil sambil mendaratkan bokongnya di kursi plastik yang Chandra siapkan.


"Ini penting Sil, mumpung semua orang lagi kumpul di depan sana" ucap Chandra.


"Ya udah. Mau ngomong apa?" tanya Pricil langsung pada tujuannya.


"Sebenarnya, aku.." Chandra menggaruk lehernya untuk menetralkan rasa gugupnya.


Ia bingung harus ngomong seperti apa. Tapi kalau tidak di ungkapkan dadanya terasa sesak. Akhirnya Chandra memulai pembicaraannya.


"Aku mau tanya, kenapa kamu akhir-akhir ini kayak menghindar dari aku Sil," Chandra menatap wajah Pricil di bawah cahaya lampu yang remang-remang dengan serius.


Pricil pun menghembuskan nafasnya sejenak baru ia memulai berbicara.


"Aku cuma males. Apa yang paman lakuin ke aku, suka berlebihan. Dan aku akan menghindari itu," terang Pricil.


"Berlebihan gimana sih Sil, aku nggak ngerti" ujar Chandra dengan tatapan bingung.


"Paman, aku tau. Paman itu seorang lelaki, dan aku perempuan. Semua kejadian yang pernah kita lalui itu, semua nggak masuk di akal aku" Pricil mulai menjabarkan.


"Bagian mana yang menurut kamu nggak masuk akal Sil, biar aku bisa perbaiki"

__ADS_1


"Udah lah. Nggak perlu paman," Pricil menatap langit yang terdapat satu bintang sedang berkedip-kedip di langit.


"Sil, aku minta maaf kalau selama ini bikin kamu nggak nyaman. Jujur, aku sayang sama kamu" ungkap Chandra dengan jantung berdebar.


Pricil menatap keseriusan dari ucapan pamannya.


"Sayang seorang paman ke keponakan itu wajar kan? tapi, saat aku teringat paman waktu memeluk aku di jembatan kala itu. Aku jadi berpikir, kalau semua itu bukan rasa sayang yang wajar. Aku merasakan degup jantung paman yang begitu kencang" tanya Pricil dengan hati-hati.


"Aku,.." Chandra menjeda ucapannya karena tenggorokannya terasa begitu kering.


"Aku apa? paman kalo ngomong jangan suka setengah-setengah" sela Pricil.


"Aku, menyukai mu.." Chandra mengalihkan tatapannya dan memandang langit yang sama. Bintang masih setia di sana walau hanya sendirian.


Jantung Pricil berdegup dengan kencang mendengar penuturan pamannya. Ia tidak percaya, bagaimana mungkin pamannya ini mengatakan suka kepada keponakannya sendiri.


Untuk beberapa saat lamanya suasana di antara mereka hening. Dan Pricil kembali melontarkan kata pengulangan.


"Suka??" Pricil mengulangi kata yang di ucapkan oleh Chandra.


"Maafkan aku, tapi, aku harus ngomong. Kalau selama ini, aku memang menyukai kamu, Sil" Chandra menatap dengan lekat bola mata Pricil yang menatap matanya dengan heran.


"Paman, aku belum ngerti. Apa maksud paman?. Yang aku tau, kalau orang mengatakan suka itu ke gebetannya. Bukan ke keponakannya" jawab Pricil.


Selama ini, Pricil belum pernah mendengar seorang laki-laki mengatakan suka pada dirinya. Ia hanya menelaah dari hal-hal yang pernah di lalui bersama Chandra, itu tidak pada umumnya. Dan Pricil membuat kesimpulan sendiri.


"Apa aku perlu membuktikannya?" tanya Chandra dengan tatapan yang begitu dalam.


"Bukti?" Pricil menelan salivanya yang terasa sangat sulit di area tenggorokannya.


"Aku akan membuktikannya, apa kamu mau?" Chandra kembali bertanya.


Fikiran Pricil melanglang buana. Ia masih mencoba mencerna kata bukti dan yang di maksud dengan suka itu apa. Pada akhirnya Pricil menggelengkan kepala.


"Aku nggak perlu bukti" ucap Pricil sambil menggeleng pelan.


"Jadi, apa kamu mengerti dengan yang aku ungkapkan barusan" ujar Chandra.


"Paman kan bilang suka. Kalau kata yang di sinetron, itu berarti paman menyatakan perasaan yang tumbuh di hati paman, iya kan?"

__ADS_1


"Pinter..." Chandra mengusap puncak kepala Pricil dengan gemas. Jantungnya kembali normal karena ia mendapati keponakannya bersikap polos seperti biasanya.


"Apa itu artinya paman cinta sama aku?" tanya Pricil dengan segera.


Chandra tersenyum menatap lekat ke arah mata keponakannya dan ia menganggukkan kepala.


"Iya, aku memang memiliki rasa itu" Chandra menjawab dengan jujur.


"Tapi aku enggak paman!" sahut Pricil dengan begitu enteng.


Degh!


Ada yang terasa nyeri, dan sakit di dalam sana. Tapi tak terlihat. Keponakannya ini memang benar-benar polos.


"Udah selesai kan ngomongnya, aku masuk ya" ucap Pricil sambil menegakkan tubuhnya.


"Tunggu," Chandra langsung mencegah dan menahan lengan Pricil. Lalu ia membingkai wajah Pricil dengan kedua tangannya, di tatapnya dengan begitu lekat, Chandra mencari sesuatu di balik bola mata Pricil yang coklat.


"Nyari apa sih? aku kan nggak belekan paman" Pricil merasa sebal dan menurunkan tangan Chandra yang membingkai wajahnya.


Dengan gerakan cepat, Chandra meraih tengkuk Pricil lalu memajukan wajahnya dan menyatukan bibirnya ke bibir Pricil.


Pricil melotot mendapat perlakuan mengejutkan tersebut. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh pamannya dengan kasar. Pricil langsung mengusap bibirnya yang ternoda.


PLAKKK!!!


Tangan mungilnya mendarat ke pipi sebelah kanan Chandra. Pricil menampar pamannya yang sudah berani mengambil ciuaman pertamanya.


Dengan terburu Pricil masuk kedalam rumah, lalu ia masuk ke kamar dan mengunci pintu dengan rapat.


Sementara Chandra masih terpaku di tempatnya, ia mengelus pipinya yang terasa hangat. Lalu ia tersenyum miris.


'Makasih hadiahnya sayang' gumam Chandra, lalu ia mengembalikan kursi tersebut ke tempat semula.


Setelah itu, ia kembali kerumahnya. Perasaannya sudah lebih ringan karena semua uneg-uneg di dadanya telah di sampaikan.


Sederhana memang, bahkan tak begitu berarti. Tetapi, bagi Chandra itu beban berat yang luar biasa. Berkat ia bercerita dengan Andi, ia memberanikan diri berbicara empat mata dengan sang keponakan.


- Maafkan aku ya, aku sudah berusaha dengan keras untuk menulis part ini.

__ADS_1


- Tapi, nggak bisa greget kayak yang di bayangkan.


Ya sudah lah. Nanti belajar lagi.


__ADS_2