Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Rindu


__ADS_3

Setelah selesai mengganggu keponakannya, Chandra ikut duduk bersama kakaknya yang sedang mengobrol.


"Iya kak, emang bagus itu bulunya. Halus dan lembut banget" sambung Chandra pada pembahasan kedua kakaknya tersebut.


"Iya kan Chan, tu kak Arya nggak percaya sih." Bibi Cahyani membenarkan.


"Masak sih, besok kita beli kalo gitu." Ucap paman Arya.


"Iya kak, beneran bagus. Tapi, kita harus rajin merawatnya kak. Rutin lah pokoknya, biar dia tetep cantik bulunya." Timpal Chandra.


"Ah, kalo serepot itu nggak jadi lah!" sambung paman Arya.


"Loh, harus jadi dong kak! kan pengen punya," bibi Cahyani memasang ekspresi seimut mungkin.


"Hah, kalo sudah begini tampangnya. Mana bisa nolak!"


"Hahaha, ayo beli! beli! beli!" dukung Chandra pada keputusan kakak iparnya tersebut.


"Asikk, jadi di beliin." Bibi Cahyani tersenyum dengan riang. Mirip anak yang dikasih mainan sama orang tuanya.


"Baiklah, baiklah." Paman Arya mengalah pada akhirnya.


Mereka sedang membahas tentang kucing Anggora yang berbulu lebat, karena kucing itulah bibi Cahyani sangat antusias ingin memiliki hewan tersebut. Walaupun tidak semua orang menyukai jenis hewan berbulu itu.


Yang namanya kepengen harus di turutin biar nggak ngences nantinya. Itu kalau kata orang yang sedang mengidam.


Pricil selesai dengan makan sorenya, ia segera kembali ke kamarnya, mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Usai mandi, Pricil duduk di ruang depan Teve. Sedangkan paman dan bibinya telah membubarkan diri dari obrolan sore mereka. Chandra kembali datang menghampiri keponakannya tersebut.


"Wah, ada yang sudah wangi nih! humm" Chandra mengendus-endus mendekat ke arah rambut Pricil.


"Iihh! resek. Sana mandi, paman bau!" Pricil menghindari endusan dari pamannya. Emangnya kucing, pakai acara endus mengendus. Dasar Chandra.


"Mandinya nanti dulu deh, mau memandang bidadari cantik yang turun dari pohon kelapa ini." Chandra menoel hidung mancung milik Pricil.


"Mana ada bidadari dari pohon kelapa. Yang ada tu dari khayangan paman" Pricil menyela ucapan dari Chandra.


"Berarti kamu tadi dari khayangan dong!"

__ADS_1


"Udah sana ih," Pricil mendorong bahu Chandra untuk menjauh darinya. 'Sungguh, paman yang Satu ini sangat menyebalkan ternyata.'


Setelah puas menggoda sang keponakan, Chandra balik ke rumahnya. Tinggal lah Pricil sendiri di rumah itu, paman dan bibinya sedang pergi.


'Mau ngapain ya. Nonton Teve nggak ada acara yang seru' ucap Pricil dalam hati. Ia memutuskan untuk ke kamar. Kembali ia menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran.


***


Malam ini begitu indah, bintang yang bertabur di langit memancarkan keindahan dengan iringan cahaya bulan. Pricil sedang duduk di bawah pohon Belimbing memandangi langit.


Ia mulai merindu, rindu kebersamaan dengan orang tuanya. Tak terasa sudah sebulan ia tinggal di rumah ini, bersama paman dan bibinya. Ia ingin segera bisa mencari uang, agar bisa membeli ponsel. Hampa hidupnya tanpa benda pipih yang satu itu, walaupun orang-orang di sekelilingnya dapat memberikannya alternatif hiburan. Tapi, beda rasanya.


Pricil mengingat kepingan-kepingan masalah yang terjadi hingga ia bisa tinggal di sini bersama paman dan bibinya. Rasanya sangat sedih.


Pricil masih menikmati keindahan langit tersebut tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ia tak menyadari jika ada orang yang sudah duduk di sebelahnya ikut memandang ke arah atas sana.


Tak lama Pricil mulai merasakan kantuk, ia menguap. Cuaca dingin pada malam yang sunyi ini, menambah kesan kerinduan yang mendalam. Ia ingin segera tidur, agar dapat bermimpi indah. Siapa tau dengan tidur, ia dapat bertemu dengan pangeran. Eh! dengan keluarga di kampung maksudnya.


Pricil mulai menurunkan pandangannya dari langit, dan ia hendak berdiri. Tiba-tiba ada yang mencekal lengannya. Pricil terkejud, dan ia segera menoleh ke samping pelaku pencekalan lengannya.


"Ehh! paman lagi rupanya yang ngusilin aku ya." Pricil memutar bola matanya malas. Lagi-lagi pamannya ini mengusilin dirinya.


"Mau kemana, sini duduk lagi." Chandra menarik lengan Pricil untuk duduk kembali di tempat semula. Disisi Chandra duduk.


"Sedang mikiran apa Sil," tanya paman Chandra dengan suara yang begitu lembut.


"Enggak ada," suara yang melunak keluar dari bibir mungil Pricil.


"Kok mukanya ditekuk kayak cucian kering gitu,"


"Aku... cuman kangen." Ucap Pricil lirih.


"Kangen sama siapa, sama ayah dan ibu kamu ya" Chandra pun menanggapi dengan suara lirih juga.


Pricil hanya mengangguk, ia menunduk untuk mengalihkan perasaan di da da nya yang terasa sesak. Sesak karena rindu, air mata ingin segera keluar dari kedua matanya. Dengan cepat Pricil mengedip kedipkan matanya agar air mata itu tak jadi menetes.


Chandra merangkul bahu Pricil, ia mengelusnya dengan lembut. Agar bisa memberikan perasaan tenang pada keponakannya itu.


Pricil tidak berontak, ia hanya diam dengan perlakuan sang paman. Akhirnya perasaannya sudah sedikit tenang. Sang paman melepaskan tangannya dari bahu keponakannya itu.

__ADS_1


"Paman," ucap Pricil sambil menatap mata Chandra.


"Apa Sil," Chandra pun membalas tatapan sendu Pricil.


"Bagaimana cara menghilangkan perasaan rindu?"


"Hmm?" Chandra yang di tanya seperti itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia tersenyum hangat.


"Kok senyum," Pricil memanyunkan bibirnya.


"Coba kamu senyum,"


"Hmm," Pricil menarik bibirnya ke atas untuk memperlihatkan senyum buatannya.


"Nah, gitu kan manis. Kalau rindu itu di fikirin, nggak akan terlepas. Coba dengan bertemu baru bisa hilang rindunya."


"Kapan ya ibu sama ayah main kesini," gumam Pricil, namun masih bisa didengar oleh pamannya.


"Kamu yang sabar ya," kembali ia merangkul bahu itu, dan mengelus dengan lembut. Ingin sekali Pricil memeluk pamannya yang usil ini. Namun ia tak berani.


"Ya udah, masuk gih. Udah malem banget,"


"Iya paman, makasih" Pricil mulai berdiri di ikuti Chandra yang juga menegakkan badan.


"Istirahat dan tidur yang nyenyak ya," dengan senyum yang sangat manis Chandra tampilkan lalu ia mengelus puncak kepala Pricil.


Pricil tersenyum kecil, lalu ia masuk kedalam rumah. Ia lalu mengunci pintu dan masuk kekamarnya.


Setelah di dalam kamar, ia mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan tanktop seperti biasa. Karena ia lebih nyaman tidur dengan pakaian minim seperti itu.


Chandra tidak langsung balik ke rumah, tetapi malah duduk di kursi teras rumah kakaknya. Ia tersenyum senyum sendiri mengingat kejadian yang barusan ia alami bersama sang keponakan.


Walaupun ia merasa deg deg'an memegang dan mengelus bahu Pricil, namun ia berhasil melakukannya dengan sangat tenang. Tidak grogi sama sekali.


Senyum itu masih melekat di bibirnya, ia berjalan kembali ke rumahnya. Masuk ke kamar dan langsung memeluk guling. Bayangan wajah Pricil begitu menggemaskan baginya, ia peluk dengan erat guling itu seolah olah itu adalah tubuh sang keponakan. Dan ia cium ciumi dengan sangat lembut.


Direemas reemas sarung gulingnya dengan jari jemarinya, dengan tetap mencium ujung guling tersebut dengan lembut. Ia tak menyadari kenapa dia jadi seperti itu. Keponakannya sudah membuat ia merasakan perasaan aneh pada hatinya.


-

__ADS_1


Hayoo, kamu ngapain Chandra. Author geli liat kamu mencium guling dengan cara seperti itu.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Kiss.


__ADS_2