
Tio mendekat ke sumur tersebut, ia menurunkan tali timba yang tergantung di katrol dan mencemplungkan ember yang sudah terpasang di tali tersebut. Kemudian, ia menarik tali timba tersebut setelah airnya di rasa sudah penuh.
Sementara Angga menunggu air yang sedang Tio isi dan di di bawa ke hadapannya. Ia tersenyum meledek.
"Nih, cukupkan kalo seember?" tanya Tio. Ia meletakkan ember berisi air di hadapan Angga.
"Loh, ngapain nimba air? Kan mesin airnya ada di samping sumur itu, tinggal kamu colokin aja." Ujar pak Yuan.
"Lah, kenapa nggak bilang dari tadi, Om!" sungut Tio.
"Kalian kan nggak nanya!" jawab pak Yuan. Kemudian ia berlalu dari dapur tersebut dan membiarkan anak semata wayangnya berusaha mengerjakan tugasnya.
"Iya jugak, ya!" sahut Angga dan Tio bersamaan.
"Udah, buruan selesain! Ntar kita jalan-jalan di kebun sebelah!" ujar Tio. Ia berlalu meninggalkan Angga yang sedang membilas piring dan gelas.
"Hmm," Angga hanya mencebik dan melakukan tugasnya dengan baik.
Setelah selesai menyusun piring pada keranjang kecil di atas meja. Angga langsung menuju ke ruang tamu. Disana papanya dan juga Tio sudah menunggunya.
"Yuk, kita berangkat sekarang!" ajak pak Yuan. Ia berjalan keluar pintu lebih dulu.
Angga masuk ke kamar terlebih dahulu untuk mengambil ponselnya. Ia berencana untuk berfoto-foto nanti saat sudah tiba di kebun.
Mereka bertiga sudah siap pergi. Dengan naik mobil menuju kebun yang saat ini sedang di panen. Bukan hanya di seberang jalan, tetapi masih ada di tempat lain. Agak sedikit jauh dari rumah singgah. Sebelah kebun sawit yang di kunjungi pagi ini dekat dengan kebun sayuran yang sangat luas.
Mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di dekat sebuah warung kecil. Di situlah mereka akan memarkirkan kendaraannya.
"Yang mana kebunnya, Pa?" tanya Angga penasaran.
"Yang itu, ayo kita ke sana." Ajak pak Yuan.
Mereka berjalan melewati jalan setapak menuju ke perkumpulan para pekerja. Ada Troly atau gerobak dorong yang sudah terpajang di sana. Para pekerja tersebut langsung berdiri dan menyapa tuan pemilik kebun yang datang menghampiri mereka.
"Selamat pagi, Bapak-bapak, serta Mas-mas sekalian. Apa kabar?" sapa pak Yuan. Di hadapannya terdiri enam orang tua semuruan pak beliau dan juga pemuda berumur sekitar dua puluh lima keatas.
"Selamat pagi, pak. Kami semua sehat," jawab mereka dengan serentak. Angga dan Tio hanya memperhatikan orang-orang yang sudah ahli dalam bidang memanen buah sawit.
__ADS_1
Setelah selesai saling sapa dan memberikan informasi mengenai kebun, pak Yuan mempersilahkan para pemanen untuk memulai pekerjaan mereka.
Tio dan juga Angga hanya menjadi penonton, mereka memperhatikan cara mendodos sawit di setiap para pekerja.
"Apa kalian tertarik untuk mencoba?" tanya pak Yuan.
"Eh, enggak, Pa, sulit kayaknya." Tolak Angga.
"Kamu, Tio?" pak Yuan beralih bertanya pada Tio.
"Enggak berani, Om. Takut kena timpuk!" kelakar Tio.
"Yang ada-ada aja, kamu!" sahut pak Yuan. Ia pun ikut terkekeh dengan ucapan Tio.
"Pa, aku sama Tio ke ujung sana, ya! Mau liat yang ijo-ijo." Ujar Angga.
Angga menunjuk ke arah ladang sayuran yang di tumbuhi sayuran kacang panjang, kecipir, dan gambas (bahasa sundanya, oyong).
"Itu jauh tempatnya, kalo kalian tersesat bagaimana?" ucap pak Yuan.
"Nggak, Pa, kita kan udah gede. Masak iya, bisa hilang di di telen sama pohon kacang." Canda Angga.
"Ya ampun, Pa, enggak akan! Kita nggak akan ngapa-ngapain, kok. Janji, deh!" tutur Angga. Ia mengacungkan jarinya membentuk huruf V.
"Dasar anak keras kepala. Ya sudah, sana pergi. Tapi ingat! Segera kembali sebelum jam makan siang." Ujar pak Yuan. Ia melirik jam di pergelangan tangan sebagai kode. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
"Makasih, Papa," Angga langsung melangkah menuju jalan keluar. Diikuti Tio di belakangnya. Masih melewati jalan setapak, hingga sampai ke jalan aspal.
Mereka menyusuri jalan aspal kurang lebih sepuluh menit menuju jalan setapak menuju ladang hijau tersebut. Saat akan berbelok ke arah ladang, ia di hentikan oleh seorang pemuda yang baru saja keluar dari jalan setapak tersebut.
"Maaf. Kalian siapa? mau kemana? Ada kepentingan apa, ya?" cegah Ali. Ia pun memberondong banyak pertanyaan kepada dua remaja di hadapannya. Kebetulan sekali Ali habis membantu ayahnya mengantar pupuk untuk tanaman di ladang.
"Eh, iya, Mas. Maaf, apa boleh kalau kami masuk? Kami ingin melihat kebun sayuran itu," ucap Angga. Ia mencoba meminta izin terlebih dahulu.
"Maaf, yang boleh ke sana hanya yang berkepentingan." Tukas Ali.
"Mas, kami cuma sebentar, kok. Janji enggak akan ngerusak secuil pun tanaman di sana," mohon Angga.
__ADS_1
"Maaf, Mas, kami berdua anaknya pak Yuan. Pemilik kebun sawit itu," Tio menunjuk arah kebun sawit yang tadi mereka singgahi.
Ali yang merasa kenal dengan pak Yuan pun berfikir sejenak. Ia masih belum yakin dengan dua bocah yang ada di hadapannya saat ini. Tio pun berusaha kembali meyakinkan Ali. Akhirnya, dengan kesepakatan, Ali mendampingi bocah kota itu ke ladang tempat ayahnya menanam sayuran. Dengan syarat yang harus di penuhi tentunya.
"Baiklah, saya izinkan. Tapi, kalian harus membeli sayuran kami." Ali membuat penawaran.
"Baiklah, Mas. Kami nanti akan beli sayurannya." Tio menyetujui syarat yang diberikan oleh Ali.
"Nah, gitu dong! Ayo, ikuti saya." titah Ali.
Ali berjalan mendahului Angga dan juga Tio. Angga berbisik-bisik pada Tio dan menjaga jarak dengan langkah Ali sekitar lima meter. Mereka berdua melambatkan langkahnya.
"Kamu bawa duit nggak, Yo?" bisik Angga.
"Uangku sih ada, tapi udah sakaratul. Uang kamu aja, ya!" Tio balas berbisik di telinga Angga.
"Aihhh, gimana sih, selama libur sekolah jarah uang jajan berkurang, Oneng!" gerutu Angga.
"Udah, seberapa ada, yang penting beli sayurannya. Enggak mungkin juga kan, kita harus borong kayak buat jualan di pasar!" ujar Tio.
"Kalian lama sekali, jadi atau enggak, nih!" ucap Ali. Ia menoleh kebelakang dan melihat kedua bocah itu malah berbisik-bisik dan jalan pelan seperti siput.
"Oh! jadi kok, Mas." Jawab Tio dan Angga berbarengan. Kemudian mereka mempercepat langkah kakinya.
"Aku cuma pegang uang lima puluh ribu, kamu ada berapa?" tanya Angga masih dengan berbisik sambil melirik ke depan. Takut-taku kalau ucapannya terdengar oleh Ali.
"Udah, cukuplah itu, Ga. Biasa juga harga kangkung tiga ribu udah dapet seiket." Sanggah Tio.
"Eh! Benar juga katamu, Yo! Ayo cepat," Angga langsung mempercepat langkahnya menyusul Ali.
"Wahh, seperti ini rupanya sayur kacang panjang ketika berada di pohonnya." Tutur Angga. Ia kagum melihat banyaknya kacang panjang yang bergelayut di kayu kecil yang saling menopang.
-
-
Hay, semoga kalian enggak bosen ya sama tulisanku ini. Mohon maaf jika terlalu banyak drama. Cerita ini memang prosesnya panjang sebenarnya.
__ADS_1
Sambil nunggu up selanjutnya, mampir yuk ke karya temanku yang satu ini.Semoga kalian suka.