
"Benerkan ini rumahnya kak" tanya Angga begitu sampai di depan halaman rumah yang besar dan luas halamannya itu.
"Ya bener dong, kamu kan bisa lihat sendiri itu ada tenda yang baru tiangnya aja dipasang" jawab Wina.
Siang itu, setelah pulang dari sekolah. Pricilia dan teman temannya langsung meluncur kerumah bu guru Lisa. Yang sampai duluan di tempat itu adalah Angga dan Wina, sementara Pricil dan Putri mengisi bahan bakar terlebih dahulu.
"Heheh... iya kakak, kan aku mau memastikan. Siapa tahu ada yang punya acara juga selain bu Lisa di sini" jawab Angga.
Mereka memarkirkan kendaraannya di bawah pohon Jeruk purut. Tak lama setelah Angga memarkirkan kendaraannya, muncul Tio yang langsung parkir disisi motor Angga.
"Mana Pricil sama Putri?" tanya Wina ke Tio.
Tio hanya mengedikkan bahu sebagai tanda ia tidak mengetahui posisi yang sedang ditanyakan.
"Kita tunggu mereka sampai sini dulu deh, baru masuk kedalam" ucap Wina sambil mencari tempat untuk duduk.
"Nah, kita duduk di sana aja yuk" Wina menunjuk salah satu Gazebo yang berada di sisi depan halaman rumah gurunya tersebut.
Dan kedua adik kelasnya itupun menurut. Mereka duduk sambil bersila, lalu mengeluarkan ponsel masing masing.
Setelah Dua puluh menit menunggu, Pricil dan Putri tak kunjung sampai.
"Kok mereka lama banget ya?" tanya Wina pada keduanya.
"Coba kakak telpon dulu," ucap Angga memberi saran.
"Iya ini aku lagi menelpon, lagi nunggu di respon." Wina menempelkan ponselnya ketelinganya. Namun, hanya suara operator yang menjawab.
"Cckk!! nggak aktif nomornya si Putri," Wina berdecak sambil menurunkan ponselnya dari telinganya.
"Ya telpon kak Pricilnya dong kak Wina," saran Angga.
"Pricil belom punya ponsel," jawab Wina apa adanya.
Tio yang mendengar bahwa Pricil tidak memiliki ponsel, ia langsung menegakkan wajahnya menatap Wina dengan serius.
"Hari gini nggak punya handphone??... kok bisa hidup" celetuk Tio tanpa filter.
Buggh!
Angga langsung memukul kepala Tio dengan botol air mineral kosong, karena isinya baru saja ia habiskan.
Tio langsung mengelus kepalanya yang kena keplak oleh Angga sambil meringis kesakitan yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Cocot mu Tio, nggak pernah di amplas. Kasar!!" ucap Angga mengomeli temannya yang asal bicara.
"Ya biasa aja dong Ngga, nggak perlu pake botol juga" keluh Tio yang tak terima kepalanya dipukul.
"Udah! udah!, kok kalian malah debat sih!" ucap Wina melerai kedua adik kelasnya.
"Lebih baik, susulin aja. Siapa tau ada apa-apa sama mereka berdua, buruan gih!" perintah Wina kepada Tio.
"Kok Aku sih kak!" Angga aja lah yang pergi" tolak Tio dan langsung melempar ke Angga.
"Udah lah, kamu aja Tio. Aku jagain kak Wina disini. Nggak mungkin kan aku tinggalin kakakku yang manis ini sama kamu disini cuma berdua" ucap Angga dengan sedikit menggombal.
"Halah! moduss!" seru Tio sambil berdiri hendak pergi.
"Suka-suka dong, kakaknya aja nggak masalah tuh dimodusin sama aku. Iya kan kak??" tanya Angga sambil menatap Wina yang sedang mengirim pesan dari ponselnya.
"Iya," jawab Wina tanpa menoleh. Tio segera berlalu dari tempatnya duduk, lalu pergi menyusul kakak kelasnya yang tak kunjung sampai itu.
Tio langsung tancap gas melewati jalan lorong tersebut menuju pom bensin tempat Putri berhenti saat berpapasan dengan dirinya.
Sesampainya disana, ternyata Pricil dan Putri tidak ia temukan. Tio kembali berbalik arah menyusuri lorong yang ia lewati tadi dengan memelankan laju motornya.
Tio menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan berharap bisa menemukan sosok yang sedang ia cari. Dan, ia melihat seseorang duduk memunggungi jalan di seberang bengkel yang sedang Tio pandang.
Tio celingukan mencari Putri, tapi ia tak menemukannya.
"Kak putri mana Pric?" tanya Tio setelah berdiri dibelakang Pricil yang memunggunginya. Pricil yang sudah mengenal suara orang dibelakangnya, langsung saja ia menoleh ke sumber suara.
"Tuh, lagi beli minum." Tunjuk Pricil dengan dagunya.
Sementara Tio langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Pricil. Dan bisa ia lihat, Putri sedang berjalan kembali kearah bengkel.
Tio duduk disamping Pricil, tempat duduk yang sebelumnya dipakai oleh Putri.
"Ehh, disitu tempat Putri duduk. Kamu awas sana." Pricil langsung mengusir Tio yang sudah duduk menyilangkan kaki.
"Ogah!" jawab Tio singkat.
"Loh, kok kamu kesini Tio? mana Yang lain" tanya Putri yang hanya melihat Tio seorang.
"Mereka udah nungguin kalian dirumah bu Lisa sampai ketiduran. Kalian lama amat sih kak, kemana aja" ucap Tio sambil bersedekap tangan didadanya.
"Kamu lihat pakek mata dong Tio!! ini motornya Putri sedang diperbaiki" ucap Pricil dengan nada jengkelnya.
__ADS_1
Tio hanya menyunggingkan senyum separuh bibir. Seolah mencemooh.
"Ya liat pakek matalah. Masak pakek mulut" ucap Tio dengan santainya.
"Haduuhh! udah ya, ini bengkel motor. Bukan bengkel ribut" ucap Putri menghentikan perdebatan mereka.
"Emang bener ini bengkel ribut kok dek," jawab si abang montir yang baru saja selesai memperbaiki motor Putri.
"Maksud abang?" tanya Pricil sambil menautkan alisnya.
"Coba adek baca spanduk diatas dengan cermat, apa yang tertulis disana." Tunjuk abang montir tersebut.
Pricil langsung saja berdiri untuk memastikan yang dikatan oleh abang tadi, sementara Putri pergi membayar biaya perbaikan kendaraannya.
"Oh iya, bener ribut namanya." Ujar putri membenarkan penglihatannya.
"Udah, ayok kita lanjut!" ucap Putri yang sudah duduk dimotornya.
Mereka langsung menuju rumah bu Lisa dengan jalan berurutan. Setelah sampai, mereka langsung menyusul ketempat Wina dan Angga berada ke gazebo.
"Ya ampun Put, aku telponin kamu loh dari tadi" ucap Wina langsung berdiri melihat kedatangan mereka bertiga.
"Hapeku pingsan Win," ucap Putri sambil menunjukkan layar ponselnya yang gelap.
"Ya udah yuk, kita langsung masuk. Pasti udah ditungguin sama bu Lisa didalam." Ajak Putri ke semua temannya.
Mereka beranjak dari gazebo tersebut dan melangkah menuju teras rumah bu Lisa, ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tak lama setelah pintu rumah itu diketuk, terdengar suara sahutan dari dalam rumah. Pintu tersebut dibuka lebar, muncullah wajah bu Lisa dengan senyumnya menyambut kedatangan murid muridnya.
"Ayo masuk," ajak bu Lisa.
"Iya bu," jawab muridnya.
Mereka masuk kedalam dengan membuka sepatu masing-masing. Langsung menuju ruang tengah rumah tersebut.
"Duduk disini sebentar ya, ibu ambilkan minuman dulu," bu Lisa pergi kebelakang menuju kulkasnya, ia mengambil minuman kaleng dari dalam sana dan dibawa kedepan.
"Ini minum dulu, kalian belum makan kan?" tanya bu Lisa sambil menatap muridnya Satu persatu.
Mereka hanya menganggukan kepala, saat ditanya oleh gurunya tersebut.
"Ibu sudah masak, kalian bawa baju ganti masing-masing kan? setelah ganti kita makan bersama dulu." Ucap bu Lisa sambil meninggalkan mereka kebelakang lagi.
__ADS_1