Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Dikebun Ali


__ADS_3

Setelah mereka puas melihat-lihat, kini mereka berfoto ria seperti orang yang tidak pernah berfoto sama sekali di tempat seperti itu. Memang belum pernah kali thor.


"Sudah puaskan foto-fotonya?" tanya Ali.


"Sudah, Mas!" jawab Angga dengan semangat.


"Sekarang, mau beli sayur yang mana?" tanya Ali.


Sedangkan di dekat mereka, orang tua Ali tengah memetik sayuran untuk di panen. Melihat tingkah laku anak dan juga dua bocah pendatang itu, ayah Ali hanya tersenyum.


"Campur-campur boleh nggak, Mas?" tanya Angga.


"Boleh," jawab Ali.


Angga merogoh kantong celana dan menyerahkan uang lima puluh ribu ke Ali.


"Beli segini aja ya, Mas. Kami enggak punya uang lebih," ujar Angga. Ia takut-takut saat menyerahkan uang tersebut.


"Tunggu sebentar, ya. Saya ambilkan dulu." Ali dengan cekatan memetil kacang panjang. Setelah dapat kira-kira tiga kilo, ia menaruhnya di atas karung. Ali lanjut mengambil sayuran gambas/oyong sekitar lima belas biji dan di gabungkan dengan kacang panjang. Angga dan Tio terbengong melihat tumpukan sayur tersebut. Tak lama kemudian, Ali kembali menaruh sayuran kecipir di atas tumpukan sayur sebelumnya.


"Nah, yang ini bonus!" ujar Ali. Ia menaruh bungkusan cabe rawit setan yang sudah dibungkus dengan daun pisang.


"Mas, mau nyuruh kita jualan, ya?" tanya Tio dan Angga berbarengan. Mereka tak menyangka, dengan uang lima puluh ribu bisa mendapat sayuran segitu banyaknya.


"Kalau beli di kebun langsung, harganya lebih murah. Makanya dapat banyak," tandas Ali.


"Ini saya bawa pulang dulu ke rumah. Kita pindahkan ke kantong plastik yang ukuran besar." Ucap Ali.


"Ayo, ikut, saya!" ajak Ali agar dua bocah remaja itu mengikuti langkahnya meninggalkan ladang sayuran milik keluarganya.


Mereka kembali menyusuri jalan setapak menuju jalan aspal. Saat sampai di pinggir jalan, Tio dan Angga melihat sebuah rumah yang terlihat ramai. Sebelum masuk ke area ladang tadi belum ramai, setelah mereka keluar rumah tersebut sudah ramai.


"Mas, itu ada apa kok rame-rame, ya?" tanya Angga. Ia selalu saja penasaran dengan apa yang ia lihat di desa tersebut.


"Oh, itu rumahnya pak Atmaja, anaknya lagi selamatan habis sunatan." Jawab Ali. Ia terus melanjutkan perjalanannya menuju rumah.


"Ohh," jawab Angga singkat. Tio yang mendengar nama Atmaja seperti tidak asing baginya. Dengan terus melangkah, ia mengingat-ingat nama Atmaja tersebut. Hingga sampai di rumah Ali. Ia belum menemukan jawabannya.


"Tunggu sebentar, ya. Duduk aja dulu," Ali mempersilahkan Tio dan Angga duduk di teras. Sementara ia masuk ke dalam untuk mengemas sayuran yang tadi di petik.

__ADS_1


"Ga, kamu tau, nggak? Yang di maksud mas itu tadi?" tanya Tio. Ia masih penasaran dengan nama Atmaja yang di tuturkan oleh Ali.


"Maksudnya?" Angga menaikkan sebelah alisnya. Ia masih belum paham dengan pertanyaan Tio.


"Itu,..." jawab Tio.


"Itu apa, Yo, kalau nanya tuh yang lengkap!" jelas Angga.


"Pak Atmaja yang di maksud sama mas tadi, aku enggak asing dengan nama itu, kira-kira siapa ya teman kita yang namanya ada Atmajanya?" Tio menjelaskan secara rinci pertanyaannya.


"Emm,..." Angga terlihat berfikir dengan serius. Ia mengingat-ingat teman sekelasnya. Namun, tak ada yang namanya ada Atmajanya. Kemudian, ia mengingat nama-nama anak yang sering ikut kerja sampingan. Ia pun tak menemukan nama Atmaja.


"Kayaknya, enggak ada, deh!" Angga mencoba mengingat kembali. "Tapi,..." ia berusaha keras saat teringat nama seseorang.


"Tapi apa, Ga? Siapa yang namanya ada Atmajanya?" Tio semakin penasaran.


"Ha! Aku ingat sekarang!" Angga menjentikkan jarinya.


"Siapa, Ga?" Tio semakin di buat penasaran oleh Angga.


"Masak kamu nggak ingat, sih." Sungut Angga.


"Hahaha," Angga tertawa melihat sahabatnya ini menggerutu seperti perempuan yang sedang datang bulan.


"Aku butuh jawaban, bukan butuh ha ha ha mu itu!" gerutu Tio.


''Coba kita absen siapa nama-nama teman kita yang ada di grup chat kita." Ujar Angga. Ia memberi kemudahan untuk Tio mengingat nama-nama yang sangat penting itu.


"Hmm?" Tio malah mengernyitkan alisnya.


"Yang pertama," sebut Angga.


"Angga," jawab Tio.


"Nama lengkapnya, oneng!!" geram Angga.


"Angga Yuanda." Sahut Tio.


"Terus?" lanjut Angga.

__ADS_1


"Tio Prayoga, Putri Amalia, Wina Agustin, dan,..." jawaban Tio terhenti seketika.


Seketika itu juga, Tio langsung berdiri dari duduknya. Ia mengingat nama pacarnya yang bernama lengkap Pricilia Atmaja.


Ali keluar dari dalam rumah menenteng dua kantong plastik berisi sayuran yang sudah ia bagi rata beratnya. Dan di serahkan ke pembelinya tadi.


"Ini, sayurannya sudah saya bagi rata beratnya," Ali menyerahkan kantong tersebut ke Angga.


"Makasih banyak ya, Mas." Ucap Angga.


"Kita harus pastiin sekarang juga, Ga! Ayo!" ujar Tio. Ia merasa tidak sabar dan ingin segera mendatangi rumah orang yang sedang ada acara tersebut.


"Gila, kamu! Nanti kita di sangka tamu tak di undang kalo nyelonong ke sana, dodol!" sungut Angga kesal.


Tio hendak menarik tangan Angga agar segera beranjak dari rumah Ali untuk mendatangi rumah pak Atmaja.


"Mas, maaf, saya mau nanya lagi," Angga mengajukan pertanyaan pada Ali. Dari tadi, Ali terus memperhatikan gelagat Tio yang gelisah.


"Pak Atmaja itu, apa punya anak perempuan yang bernama Pricilia Atmaja, Mas." Angga melanjutkan pertanyaannya yang terjeda.


Ali semakin heran dengan dua bocah di hadapannya saat ini. Ia merasa ada sesuatu, Ali pun balik bertanya untuk memastikan prasangkanya.


"Pricilia Atmaja?" Ali balik bertanya.


"Iya, Mas. Dia anak SMA Nusa Bangsa, sama dengan kami. Apa mas kenal?" Angga masih terus meyakinkan pertanyaannya.


"Oh,..." Ali mengerti sekarang. "Jadi, kalian teman sekelasnya?" tanya Ali.


Tio hendak menjawab, namun langsung di cegah oleh Angga. Dan Anggalah yang menjawabnya.


"Iya, Mas. Kami teman sekelasnya, kelas XI A." Jawab Angga selengkap mungkin.


"Oh, iya, itu rumah orang tua Sisil. Dia ada di rumah terus tuh, selama libur sekolah dia di sini." Terang Ali.


Bagaikan mendapatkan timbunan emas di dalam pasir kali. Tio bersorak girang dalam hati. Wajahnya menampilkan senyum mengembang. Ia mengontrol rasa senangnya agar tidak jingkrak-jingkrak di depan teras rumah orang. Saking senangnya, Tio tidak dapat berkata-kata lagi. Angga menyenggol lengan Tio sebagai kode agar ia mau mengucapkan terima kasih atas informasi yang di berikan oleh Ali. Namun, Tio malah membeku.


"Makasih sekali lagi ya, Mas. Temen saya ini sepertinya sedang kesambet setan beku! Nggak bisa bilang ucapan terimakasih." Ucap Angga. Ia berusaha tetap kalem. Walau sesungguhnya ingin sekali menggeplak kepala Tio saat ini juga.


"Iya, sama-sama." Sahut Ali.

__ADS_1


__ADS_2