Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Ijin Ke Rumah Camer


__ADS_3

"Eh! Om," Tio tersentak kaget. Ia pun menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Kalian mau minta ijin ke siapa? Mau kemana? Ngapain?" berondong pak Yuan. Ia memasang wajah sengehnya.


Tio hanya cengar cengir di berondong pertanyaan seperti itu. Sementara Angga pura-pura sedang menatap langit senja dengan menghentak-hentakkan pelan ujung kakinya. Tio pun menyenggol pelan lengan Angga sebagai kode. Namun, yang di kode malah cuek dan pura-pura tidak dengar. Tio sungguh geram melihat sikap Angga.


Pak Yuan merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan dari kedua bocah di depannya. Ia memerintahkan Angga dan Tio agar masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah singgah.


"Kalau tidak ada yang mau bicara, sebaiknya kita pulang. Hari sudah sore, nanti waktu Asharnya habis!" titah pak Yuan dan langsung membuka pintu mobilnya.


Angga langsung masuk ke dalam, sementara Tio masih diluar. Ia dongkol melihat Angga yang tidak berniat membantunya sama sekali. Angga sengaja melakukan hal tersebut agar Tio berusaha lebih keras lagi untuk memperjuangkan kisah cintanya. Jiahhh


"Kamu mau tinggal disini, Yo?" tanya pak Yuan setelah menurunkan kaca mobilnya.


"Eh! Iya, Om. Aku ikut pulang, kok!" buru-buru Tio langsung masuk dan duduk di samping Angga.


Angga hanya menatap keluar jendela. Ia sedang menahan rasa sesak didada untuk menahan agar tidak tertawa lepas. Sesungguhnya, ia sedang bersandiwara agar lebih meyakinkan keacuhannya pada Tio. Sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara.


Setelah menempuh jarak kurang lebih dua puluh menit mereka sampai di rumah singgah. Tepat pukul empat sore waktu setempat. Pak Yuan dan dua anak lelaki mengekori langkahnya menuju pintu. Setelah pintu terbuka, mereka masuk ke dalam, lalu bergantian membersihkan diri di kamar mandi.


Tio tengah membongkar isi tas Angga untuk mencari cela*na da*lam dan akhirnya ketemu. Namun, warna yang ia temui ialah warna merah muda dan kuning. Tio memilih mengenakan kaos hitam terlebih dahulu. Ia akan menanyakan dimana Angga menyimpan kolor lainnya. Dengan handuk yang masih melilit di pinggang, Tio mengeringkan kepala dengan handuk kecil.


Tak berselang lama, Angga masuk ke dalam kamar. Ia melihat isi tasnya yang berhamburan di atas tempat tidur. Lalu menatap Tio yang masih mengenakan handuk.


"Kenapa kamu nggak pake celana?" tanya Angga.


"Mana celana kolor untuk aku, Ga?" tanya Tio. Ia menggantung handuk kecilnya di sisi dinding yang ada tali khusus seperti jemuran.


"Ini, apa?" Angga melempar kolor merah muda ke arah Tio dan langsung di tangkap.

__ADS_1


"Nggak salah, nih?! Masak warnanya begini, sih!" celoteh Tio. Ia melempar balik ke ranjang. Sedangkan Angga meraih celana yang warna kuning dan langsung memasangnya.


"Tinggal pake aja kenapa, sih. Banyak banget protes!" sahut Angga.


"Seleramu jelek banget, sih. Mana warna yang lain? Aku nggak mau make yang warna ini!" tukas Tio.


"Pinjem aja sama papa kalo mau warna yang lain!" jawab Angga enteng.


Mana mungkin Tio mau meminjam celana milik pak Yuan, yang jelas-jelas ukurannya lebih besar dari ukuran bokongnya. Yang ada melotrok kalau dia yang pakai.


Mau tidak mau, akhirnya Tio meraih kolor itu dan memakainya. Setelah itu, ia meraih celana santai yang sama modelnya dengan Angga. Karena semua pakaian yang di kenakan Tio adalah milik Angga. Pakaian miliknya tinggal semua di bandara. Entah sudah di buang di tong sampah atau di jadikan barang buruk ia tidak tahu kabarnya.


***


Selesai shalat maghrib, pak Yuan mulai memasak untuk makan malam di bantu oleh Angga dan Tio. Mereka memasak sayuran yang siang tadi di beli oleh anaknya di ladang sayuran. Setelah berkutat selama kurang dari satu jam, makanan pun sudah di hidangkan dan siap untuk di santap. Mereka mulai makan dalam diam. Tak butuh waktu lama untuk para lelaki menghabiskan nasi dipiring.


"Om," panggil Tio. Mereka baru selesai makan malam.


"Emm, anu,..." Tio menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ia sedang bingung menyusun kalimat yang tepat. Matanya melirik ke arah Angga yang sedang asik nyemilin kacang panjang rebus di cocol sambel cabe rawit geprek. Tio berharap mendapat bantuan dari Angga. Tetapi, Angga malah asik dengan makanannya.


"Hmm, sambal buatan Papa selalu paling enak!" puji Angga. Ia menatap Tio sekilas. Lalu kembali menyuap kacang panjang rebus ke dalam mulutnya. Bibirnya sudah terlihat jontor karena pedas.


"Ngapain kamu liat-liat?! Mau?" Angga mengacungkan kacang panjang yang sudah dicocol sambal ke arah Tio.


"Huh!" desis Tio. Ia benar-benar dibuat kesal dengan tingkah laku Angga.


Pak Yuan yang sedari tadi mengamati tingkah keduanya yang sudah mirip film kartun kucing dan tikus hanya bisa menggeleng pelan.


"Kamu mau ngomong apa, Yo? Jangan sungkan. Om sudah pernah katakan sama kamukan, bahwa kamu itu sudah Om anggap anak sendiri." Terang pak Yuan.

__ADS_1


"Hehe, iya, Om. Aku, emm,..." Tio ragu-ragu.


Angga telah selesai dengan cemilannya, ia pun mengemasi piring kotor dan membawanya kebelakang. Tugas cuci piring yang selalu diserahkan ke Angga dan dikerjakan dengan baik. Anak lelaki idaman mertua banget.


"Kamu ada masalah? Cerita aja, Om akan dengarkan dan beri solusi. Apa kamu masih memikirkan masalahmu dengan papamu?" tanya pak Yuan serius.


Tio menggelengkan kepala. Ia melongok ke arah pintu dapur, ia masih menunggu Angga yang tak kunjung selesai mencuci piring.


"Kamu nggak usah khawatir kalo soal urusan papa kamu, Om yang akan mengurus semuanya. Kamu masih bisa sekolah seperti biasa, kamu tidak usah pikirkan itu." Lanjut pak Yuan.


"Dia mau ijin ke rumah calon mertua, Pa!" celetuk Angga dari balik pintu sekat. Ia sedang mengeringkan tangannya dengan kain lap.


Tio dan pak Yuan serentak menatap ke arah Angga. Tio mendelik mendengar ucapan Angga yang frontal. Sementara pak Yuan beralih menatap ke arah Tio. Akhirnya, pak Yuan tersenyum tipis dan menggosok pelan dagunya.


"Kamu punya pacar, Yo?" tanya pak Yuan. Tio malah jadi salah tingkah di tanya seperti itu.


"Eng,..." Tio hanya bisa nyengir. Ia malu dan menundukkan kepala. Menatap ke arah kaki yang ia tumpukan di bawah meja.


"Punya, Pa. Dan dia baru tau kalo rumah mertuanya di daerah sini!" sambung Angga. Ia kembali duduk di kursi semula sembari menatap Tio yang menunduk.


Wajah Tio menghangat, ia merasa malu seperti ketahuan habis maling ikan asin di warung tetangga. Jari tangannya saling memilin. Dalam hati ia mengumpati Angga yang mulutnya tidak pakai saringan kalau ngomong.


-


-


Halo, hay, hay, hay,...


Masih setia menanti Pricil bertemu sama Tio nggak nih! Sebentar lagi mereka akan bertemu kembali. Tapi, sambil menunggu author mempertemukan mereka, kalian wajib mampir ke sini dulu ya, cerita fantasi yang seru banget! ceritanya beda dari yang lain. Yuk! kepoin.

__ADS_1



__ADS_2