Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Hampa


__ADS_3

Pov Chandra


Aku merasa, dia sedang menghindariku. Apa karena kejadian pagi tadi, aku hanya menduga-duga. Ingin menanyakan langsung, tapi aku enggan.


'Aku benar-benar teledor, gara-gara semalam ketiduran jadi lupa segalanya' aku bergumam serta merutuki diriku sendiri.


Malam ini, aku sengaja duduk di depan teras. Sebenarnya aku ingin sekali menemuinya di rumah. Tapi, biarlah dulu. Pasti nanti dia akan kerumahku.


Ku buka isi galeriku, dan ku pandangi fotonya yang tersenyum begitu manis. Ingin rasanya aku segera mengungkapkan rasa yang ada di hatiku. Tapi aku tak memiliki nyali. Aku sadar, usiaku terpaut jauh darinya. Dan lagi dia masih labil. Aku takut, aku bukanlah seleranya. Dan hubungan kami adalah saudara. Aku tak ingin merusak hubungan keluarga kami hanya gara-gara aku mementingkan egoku.


Biarlah semua rasa ini menjadi milikku sendiri. Ku simpan semua kenangan yang pernah ku lalui bersama dengannya dalam memori ingatanku. Mungkin nanti aku akan menanyakan sedikit seleranya tentang laki-laki yang dia sukai.


Walaupun aku sangat sadar, pasti aku tidak ada dalam kamusnya. Paling tidak, aku bisa tau ciri-cirinya sudah cukup.

__ADS_1


Saat aku melihat ia berjalan ke arah rumahku, namun ia tak menemukan ibu di dalam, ia langsung kembali ke rumah kakakku. Ingin sekali aku bertanya padanya. Pasti ia datang kesini untuk makan malam.


Tapi, lagi-lagi aku urungkan. Aku ingin membiarkan ia lupa tentang hal yang menjadi masalah di fikirannya. Mungkin setelah esoknya, ia bisa kembali ku ajak bercanda seperti biasa.


Akh, kenapa lagi-lagi rindu ini selalu hadir. Aku ingin mengajaknya bercanda, mengganggunya saat sedang belajar. Dan... hal-hal lain yang selalu bisa bikin hatiku senang.


Setelah ia kembali ke rumah kakakku, ku lihat dari jendela dapur, ia sedang memasak sesuatu dan menyajikannya di meja makan. Ia begitu menikmati makanan yang ia masak. Setelah ia selesai dan menuju ke kamarnya, tak berapa lama aku segera mengintipnya dari jendela kamarnya. Ku lihat, ia sedang bergelud dengan buku pelajaran, serta mendengarkan musik dan mengalunkannya dengan semangat.


'Jadi, dia malam ini akan tidur sendirian di rumah itu' gumamku sambil mengamati rumah kakakku.


Setelah waktu sudah menujukkan angka 23:15 aku kembali mendatangi jendela kamarnya, kulihat ia sudah tertidur dengan pulas. Aku menuju teras rumah kakakku dan aku meraih buah belimbing yang matang dan langsung aku makan.


Aku duduk di bawah pohon belimbing sambil menatap langit yang gelap gulita tanpa ada cahaya bintang secuil pun. Langitpun mengikuti suasana hatiku saat ini. Gelap. Buah yang ku makanpun tak ada rasa sama sekali. Hambar.

__ADS_1


Hampa...


Itu yang ku rasakan saat ini, ternyata kekosongan jiwaku ini membuatku resah dan gelisah. Dinginnya angin malam yang bertiup menerpa wajahku, begitu terasa menusuk. Angin mulai bertiup kencang, daun-daun dari pohon belimbing di atasku ini mulai berterbangan jatuh ke halaman bahkan ke jalanan.


Tak lama kemudian, rintik hujan mulai turun perlahan, dan lama kelamaan semakin deras. Aku masih setia duduk di bawah pohon ini. Pakaian yang ku kenakan sudah basah kuyup. Ku usap wajahku yang airnya mengalir dari rambutku dan masuk ke sela-sela bibirku.


Aku berjalan kembali kerumahku, ku raih ponsel yang tadi ku tinggalkan di meja teras dan aku masuk kerumah lalu mengunci pintu, lalu menggantung kunci itu di sebelah kulkas.


Aku masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Tiba-tiba tubuhku menggigil kedinginan. Segera ku raih baju tebal dan masuk kedalam selimut.


Ku pejamkan kedua mataku yang terasa hangat, dan deru nafasku pun juga terasa hangat. Selimut sudah tebal, tetapi rasa dingin masih setia menusuk tulangku.


Gigiku bergemelutuk saling beradu atas dan bawah bersahutan. Ku eratkan selimut yang membalut tubuhku untuk mengurangi rasa dingin ini. Mungkin aku terserang demam malarindu.

__ADS_1


__ADS_2