Kekasih Khayalanku

Kekasih Khayalanku
Menikmati


__ADS_3

"Paman mau langsung pulang, atau mau bersantai disini dulu?" tanya Pricil saat mereka telah selesai makan siang bersama.


"Aku pengen main di disini dulu, pengen jalan-jalan ke ladang. Boleh kan kang?" tanya Chandra pada ayah Pricil.


"Ya boleh, kebetulan hari ini tidak panas terik seperti hari biasa. Malah keliatan mendung" sahut ayah Pricil.


"Ayook paman, aku ikut!" seru Bayu dan Nando bersamaan.


"Ya udah, ayuk kita berangkat sekarang. Jauh nggak dari sini?" tanya Chandra sambil mengikuti langkah kedua adik Pricil.


"Deket kok!" sahut Nando.


"Iya, deket kok paman!" Bayu menimpali.


"Sil, ayook!!" Chandra melambai pada Pricil.


"Duluan aja, nanti aku nyusul. Mau beres-beres dulu bentar!" sahut Pricil.


"Sudah, ikut aja. Ini biar ibu yang beresin." Perintah bu Mawar pada Pricil.


"Ya udah buk, dek... Ikut kakak yuk!" ajak Pricil pada adiknya yang bungsu.


"Adek ngantuk kak, adek di lumah aja" jawabnya dengan mulut menguap.


"Ya udah, kakak pergi dulu ya!" Pricil mencium kedua pipi adiknya yang menggemaskan.


Pricil menyusul kedua adiknya dan juga pamannya yang menunggu di seberang jalan dengan berlari kecil. Setelahnya, mereka berjalan beriringan sambil memandangi kanan kiri jalan yang banyak di tumbuhi pohon nangka, pohon jambu monyet, dan juga pohon cempedak.


Setelah memasuki jalan setapak menuju ladang, mereka berjalan berurutan. Bayu dan Nando berada di paling depan, sedangkan Pricil dan paman Chandra di posisi belakang mereka. Melewati banyak tanaman yang baru bertunas. Ada juga di sebagian tempat yang daun-daunnya sudah tumbuh subur.


Karena baru selesai panen, jadi banyak dedaunan yang menguning. Ada sebagian yang sudah di cabut hendak di tanam dengan bibit baru. Sepanjang perjalanan, hanya tumbuhan sayuranlah yang mereka lihat. Sampailah di lahan paling ujung, mereka bertemu pondok-pondokan yang biasa di gunakan untuk berteduh para petani.


Di sekitaran pondok terdapat tanaman ubi kayu yang cukup luas. Suasana angin bertiup sepoi-sepoi menambah kesan dingin suasana siang yang mendung. Banyak burung tang berterbangan di atas sana. Bayu dan Nando bermain di bawah pohon ubi dengan membentang karung kosong bekas pupuk untuk mereka jadikan alas duduk.


Pricil dan Chandra duduk di depan pintu gubuk sambil mengamati kedua bocah yang sedang asik di bawah batang ubi.


"Enak ya di sini, Sil. Adem!" seru Chandra sambil memejamkan mata saat angin menerpa wajah mereka. Pricil pun menyibakkan rambutnya yang terkena terpaan angin.


"Iya, suasana di sini bikin hati tenang. Pikiran pun jadi tentram. Nyaman banget" Pricil pun menimpali.

__ADS_1


"Rasanya bikin betah disini, jadi males mau pulang nih."


"Eh! Nanti nenek ngomelin paman loh, kalo enggak pulang. Ini aja paman udah ngelanggar ucapan nenek!" kelakar Pricil.


"Hahaha, sesekali enggak apa-apa lah. Kan ke tempat saudara juga. Bukan ke tempat orang lain."


"Iya sih."


Hening sesaat, mereka asik memandangi burung yang sedang berterbangan ke sana kemari. Langit pun masih tampak enggan menurunkan hujan.


"Oh ya, gimana kemarin pas pembagian raport. Kamu dapet peringkat nggak?" tanya Chandra.


"Dapet" sahut Pricil dengan singkat.


"Wahh, peringkat berapa?" tanya Chandra dengan antusias.


"Dua."


"Ya ampun, selamat ya ponakan ku..." Chandra mencubit kedua pipi Pricil dengan gemas.


"Iihh, sakit tauk!" Pricil menggerutu dan mengerucutkan bibirnya ke depan. Hal itu, membuat Chandra menjadi semakin gemas.


"Kau tuh ngegemesin sih! Yuk, kita pulang. Nanti malah masuk angin kalo kelamaan di kebun."


"Bayu, Nando... Ayo kita pulang!" seru Pricil.


Kedua adiknya itu pun langsung menoleh dan berlari ke arah Pricil.


"Kita lomba lari yuk, siapa yang duluan sampe ke rumah nanti!" usul Bayu.


"Ayookk! Pasti aku yang menang" timpal Nando.


"Aduh, kalian berdua aja lah. Kan jalannya kecil" sambung Chandra.


"Iya, nanti kalo kena tanaman yang di depan itu malah jadi rusak. Kena omel nanti sama ayah" Pricil menimpali.


"Baiklah, kami berdua yang akan lomba. Nanti belikan es krim ya" pinta Bayu.


"Emang ada yang jual es krim disini?" tanya Chandra penasaran.

__ADS_1


"Ada dong. Nanti jam tiga biasanya abang yang jualan itu lewat" Nando menyahut dengan antusias.


"Baiklah. Nanti yang menang paman belikan dua eskrimnya. Kalo yang yang kalah paman belikan satu aja." Chandra membuat tawaran.


"Boleh tuh, dua yang jumbo ya paman" pinta Bayu lagi.


"Pasti! Sekarang mulai ya" Chandra mulai memberi aba-aba pada Bayu dan Nando yang sudah memasang kuda-kuda dan bersiap berlari saat Chandra menghitung.


"Satu! Dua! Ya!" suara Chandra memberi aba-aba dan kedua bocah itu langsung berlari kencang.


Chandra dan Pricil kembali melanjutkan langkah mereka untuk pulang dengan langkah santai. Keduanya pun mengobrol hal-hal yang tidak penting. Sesekali mereka saling melempar dengan dedaunan yang dapat mereka raih.


"Ihh, ini daun apa! Kok gatel ya, Sil" seru Chandra saat ia memegang daun berbulu yang tumbuh di pinggiran tanaman.


"Wah, itu daun sintrong. Gatel mungkin ada ulat bulunya yang paman pegang!" Pricil mendekat untuk melihat telapak tangan Chandra yang di rentangkannya.


"Gatel banget nih!"


"Paman usap-usap ke tanah biar berkurang gatalnya" ucap Pricil memberi saran.


Chandra pun mengikuti arahan Pricil untuk mengusapkan telapak tangannya ke tanah. Hingga terasa berkurang rasa gatalnya.


"Gimana? Udah mendingan?" tanya Pricil dan meraih tangan Chandra yang terlihat memerah dan kotor karena belas tanah.


"Udah kurang sih rasa gatalnya."


"Ya ampun! Merah-merah gini paman, bentol juga nih sampe ke sini" Pricil mengamati dan merabaa permukaan punggung tangan Chandra yang memerah.


"Terus, harus di kasih apa biar hilang bentolnya..." tanya Chandra. Ia tersenyum senang saat Pricil memegang tangannya. Ia merasa senang di perhatikan oleh Pricil.


"Kita buruan pulang, nanti minta obat sama ibuk." Pricil menarik tangan Chandra tanpa sadar. Ia menggandengnya hingga tiba di jalan besar.


Saat mereka keluar dari area ladang, tepat di depan area rumah orang tua Ali. Pricil melihat ada Ali sedang duduk di depan teras rumahnya. Ia pun berniat untuk menyapa. Namun, Chandra mengeratkan genggaman tangannya pada Pricil. Pricil pun kenjadi tersadar dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman.


"Mas,..." sapa Pricil dari pinggir jalan sambil melambaikan tangannya.


Chandra malah memasang wajah tak suka saat tatapan Ali ke arah mereka berdua. Dengan santai Ali pun membalas lambaian tangan Pricil dan tersenyum dengan ramah.


Chandra yang tak suka dengan Ali, langsung menarik tangan Pricil dan mengajaknya untuk segera pulang.

__ADS_1


"Sil, ayuk pulang. Tangan aku gatel lagi nih, mau minta di obatin!" pinta Chandra tanpa memperdulikan Pricil yang sedang saling menyapa dengan tetangganya.


"Iya sabar dong paman. Jangan tarik-tarik tanganku, nanti malah aku jatuh!" ucap Pricil.


__ADS_2