
Setelah beberapa pose di dapatkan, kini giliran Alya yang berfoto. Alya mulai merentangkan kedua tangannya dan tersenyum dengan lebar. Ia sangat menikmati keindahannya. Pose tersebut di ambil beberapa kali oleh Lia, dan juga Chandra yang tanpa di minta juga memotret Alya.
Setelah pukul delapan pagi, mereka mulai bersiap-siap untuk turun dari puncak gunung.
''Sudah selesai kan semuanya, apa masih ada yang mau di ungkapkan sebelum kita turun?'' seru Ilham.
''Aaahhhhhh....'' tiba-tiba Alya berteriak. Tetapi, bukan teriakan ketakutan, melainkan teriakan kesenangan. Ia merentangkan kedua tangannya dan kepalanya mendongak ke atas.
Walaupun bukan untuk yang pertama kali mereka berada disini, tetapi mereka akan selalu melepaskan rasa bangga mereka dengan melampiaskan berbagai ekspresi. Padahal saat tiba tadi ia sudah melakukannya. Namun, bukan Alya kalau belum bikin kehebohan dengan suaranya.
''Hey, sudah, Alya! ayo, kita turun.'' Seru Lia.
''Oh, baiklah. Mari kita lanjut turun'' Alya langsung mengambil barang miliknya kemudian mereka berjalan berurutan untuk kembali turun.
Sama seperti semula, melewati jalan berbatuan dan harus penuh kehati-hatian agar tidak terperosok. Kabut mulai menyelimuti, pasalnya sudah jam delapan lewat.
Jalanan yang berakar dan lumayan licin kini sedang mereka lewati. Sama seperti di awal, mereka saling bahu membahu. Hingga sampailah mereka di tempat istirahat. Mereka akan makan siang di tempat semalam mereka menginap.
''Ahh, istirahat juga akhirnya!" suara lelah Ilham dan ia langsung mengambil posisi duduk. Chandra pun ikut duduk di sampingnya. Alya dan Lia menimati air minum milik masing-masing dari botol.
"Bikin kopi dulu, Lia" perintah Ilham pada Lia.
"Entar dulu. Aku mau tarik napas!" jawab Lia.
"Mau aku bantu?" goda Ilham.
"Ogah. Darimana kamu bisa bantu? napasku kan ada di perutku" tukas Lia.
"Aku bantu lewat ini,..." Ilham menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Ihh, amit-amit! hilang perawan bibirku, nanti!" Lia mencebik.
"Udah, kenapa malah berantem, sih. Biar aku aja yang masak air." Alya menyela keributan yang yang di timbulkan oleh kedua temannya.
"Yuk, aku bantu." Lia kemudian membantu Alya menyiapkan kopi sachet untuk di tuangkan ke dalam cangkir. Sekalian juga mereka masak mie instan.
Sedangkan Chandra dan Ilham pergi mengambil air bersih. Untuk teman mereka yang duanya lagi berada di tenda. Mereka bagian berberes-beres.
Beberapa menit kemudian, kopi, teh, susuu, dan mie instan sudah selesai di hidangkan. Mereka berkumpul untuk menikmati makan siang mereka bersama-sama. Inilah kebersamaan yang selalu dirindukan ketika berlibur. Apapun makanan dan minumannya, mereka selalu kompak.
__ADS_1
"Al, tolong ambilin kopiku, dong!" pinta Chandra pada Alya. Karena ia agak susah menjangkau cangkir bagiannya yang diletakkan didekat Alya.
"Nih, tolong kasih, Ham!" Alya mengoper kopi Chandra pada Ilham yang posisinya dekat dengan Alya. Ilham sebagai perantara mereka.
"Nih!" Ilham menyodorkan kopi tersebut pada Chandra dan di sambut olehnya.
"Makasih," ucap Chandra sambil menatap Alya. Namun, yang di tatap tak menghiraukan. Chandra malah dibikin gemas oleh sikap Alya yang seperti bungklon. Membuat Chandra jadi heran sendiri.
Usai dengan istirahat siang, mereka berkemas dan harus melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk turun ke shelter berikutnya.
***
Di tempat lain, diwaktu yang sama. Seorang anak laki-laki remaja tengah di seret dengan paksa dari dalam kamar penginapan. Orang tersebut akhirnya menemukan tempat persembunyian anak dari bos mereka.
''Ayo! kamu harus ikut kami.'' Paksa si lelaki bertubuh gempal yang mencekal pergelangan tangan anak remaja tersebut dengan kuat.
''Kalian, siapa?!'' jawabnya dengan tatapan sinis dan memberontak agar cekalan tangannya di lepas.
''Ikut saja! Tidak usah membantah.'' Jawab lelaki gempal tersebut. Sedangkan dua orang lelaki yang lain tengah mengemasi barang-barang milik anak remaja tersebut.
''Enggak!! lepas!!'' Tio meronta agar tangannya bisa terlepas. Namun, tenaganya kalah kuat dengan lelaki yang mencekalnya.
''Diam!! Kalau kamu tidak mau diam, kami tidak segan-segan melukaimu!. Jadi, menurutlah!'' gertak si lelaki tersebut sambil menyeret tubuh Tio dan di masukkan ke dalam mobil.
Sang sopir di depan tengah menelepon seseorang lewat ponselnya dan memberi kabar bahwa, mereka telah berhasil menemukan target dan sedang di bawa oleh mereka menuju kediaman bosnya.
"Sudah bos, kami sudah menemukannya. Dan, sekarang kami sedang menuju rumah bos!" seru si sopir dari balik kemudi , sekilas ia menoleh ke belakang.
"Bagus! jangan sampai lepas!" titah dari bos mereka.
"Baik, bos!" si sopir mengakhiri percakapannya dan menyimpan ponselnya ke dalam saku.
"Lepas!! Brengsekk kalian." Umpat Tio.
Tangan Tio telah berhasil diikat di belakang punggungnya oleh si lelaki yang bertubuh gempal tersebut. Tak ingin mendengar Tio berceloteh, lelaki tersebut memasang kain untuk menutup mulut Tio yang selalu mengoceh minta dilepaskan.
Jalanan siang itu ternyata sangat macet. Entah ada apa didepan sana, hingga menimbulkan kemacetan yang panjang.
Sang kemudi menyembulkan kepalanya dari pintu yang kacanya ia turunkan guna menengok keadaan. Namun, apa yang ia ingin ketahui tak dapat ia lihat.
__ADS_1
Tio yang merasa lelah karena sedari tadi terus meronta akhirnya memejamkan mata. Ia ingin mengumpulkan kembali energinya yang terkuras.
Setelah berhenti setengah jam, akhirnya mobil mulai melaju perlahan. Penyebab kemacetan telah tuntas ditangani oleh Polantas.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di bandra Sultan Thaha Syaifuddin kota Jambi. Tio langsung terbangun saat mobil berhenti. Sumpelan di mulutnya di buka oleh si lelaki yang ada di sampingnya. Ikatan tangannya pun di lepas. Setelah itu, mereka masuk kedalam untuk chek-in.
Kesempatan ini akan digunakan oleh Tio untuk ke toilet. Ia meraba saku celananya secara perlahan. Ia masih merasakan ponsel dan dompetnya masih aman di dalam kantong celananya.
Tio memukul-mukul perutnya yang kembung dan kemudian ia buang angin.
''Brrruuffttt,'' suara gas dari balik pantat Tio meluncur bebas saat ia sedang duduk di kursi tunggu. Ia di apit oleh kedua orang suruhan papanya. Kedua orang tersebut, langsung memperhatikan kearah bagian bawah tubuhnya. Bukan hanya mereka berdua, bahkan orang lain yang mendengar suara tersebut langsung menatap kearahnya.
Karena di tatap oleh orang-orang sekitarnya, Tio hanya nyengir menampakkan deretan giginya dan mengucapkan kata maaf.
''Maaf,'' ucap Tio. Lalu, kedua orang yang mengapitnya langsung menggeret dirinya ke arah toilet.
''Sana masuk! selesaikan hajatmu!'' titah lelaki bertubuh gempal tersebut dan mendorong tubuh Tio masuk ke dalam toilet dan Tio pun masuk ke bilik tersebut.
Sementara itu, dua orang tadi menungguinya di luar pintu toilet.
''Gila tu anak. Enggak ada sopan santunnya!'' keluh si pak sopir.
''Bener-bener, kelakuannya!'' sahut si lelaki gempal.
''Jagain sini bentar, ya. Aku kencing dulu!'' titah si sopir.
"Jangan lama-lama. Nanti tu anak kabur lagi'' ujar si gempal.
''Ya, makanya, kamu jaga yang bener!'' si sopir langsung masuk ke dalam toilet.
Saat keadaan di toilet sepi senyap, Tio tengah mengendap-endap hendak keluar. Ia melihat si lelaki gempal menyandarkan tubuhnya pada didinding. Tio masih mengawasinya dengan tatapan waspada. Sejenak kemudian, telepon si gempal berdering. Ia pun langsung merogoh ponselnya.
''Wah, pak bos telepon nih.'' Ujarnya. Ia langsung menjawab panggilan tersebut dan membalik badannya menyamping. Saat itu juga, Tio langsung menyelinap ke arah berlawanan untuk bersembunyi. Saat ada rombongan lelaki tulen melewati area toilet. Saat itu juga Tio langsung menyempil dan kabur tanpa diketahui oleh si gempal yang sedang berbicara serius di telepon.
-
-
-
__ADS_1
Hai, man teman. Makasih udah selalu setia mengikuti ceritaku ini. Mohon maaf ya, masih banyak kekurangan. Oh, iya, sambil menunggu author up kembali, Aku mau rekomendasiin cerita milik temanku. Jangan lupa mampir, ya. Ceritanya seru banget. Pokoknya, nano-nano rasanya. Heheh, dikira permen apa yak! Kiss buat kalian.