
Pricil mencari keberadaan teman-temannya di tengah kerumunan murid yang sedang menonton olahraga basket yang di mainkan oleh tim antar kelas.
Matanya meneliti setiap pemain dan juga setiap kumpulan cewek-cewek di sana. Karena biasanya mereka ngetem di bawah pohon beringin. Tetapi, Pricil tidak menemukan temannya di sana.
"PRICIL!!" suara teriakan seseorang memanggil namanya. Dan Pricil langsung mencari sumber suara tersebut. Terlihatlah tangan yang melambai-lambai di atas kepala seseorang tersebut.
"Eh, Hai!!" Pricil langsung menghampiri seseorang itu, yang ternyata adalah Wina.
"Kok kalian pindah haluan sih tempat duduknya" tanya Pricil sambil ikut duduk di sebelah Wina. Sementara Putri sedang fokus menonton pemain basket.
"Iya, Pric. Lebih enak duduk di bawah pohon pinang ini. Karena di sana tadi ada ulat entung" tunjuk Wina ke arah bawah pohon beringin.
"Oh, ya udah. Nih kelas berapa yang skor nya tinggi?" tanya Pricil yang langsung ikut fokus menonton pertandingan.
"Kelas satu cuy, kelas ayang beb. Kelas kita ketinggalan jauh skor nya" terang Wina.
Ponsel Pricil bergetar pertanda ada pesan masuk. Dan ia langsung saja meraihnya dari dalam tasnya yang ia pangku.
Terlihat dari nomor baru, dan itu tertulis pesan dari Abdul. Pricil membaca sekilas dan membalas singkat, kemudian ia fokus kembapi menonton. Hingga pertandingan selesai.
__ADS_1
Para siswa yang menonton mulai membubarkan diri menuju kantin sekolah. Pricil dan kedua sahabatnya memilih menuju toilet untuk ngaca. Sambil touch up ala kadarnya.
Pricil mengeluarkan bedak tabur She lala she dari dalam tasnya, tak lupa juga ia mengeluarkan lipbalm untuk memoles bibirnya agar mengkilat. Setelahnya ia mengecap bibirnya.
"Udah cantik!!" seru seseorang dari luar pintu toilet perempuan.
"Ehh! Kamu ngapain ngintipin toilet cewek. Bintitan nanti mata kamu!" seru Pricil sambil menyimpan ponjen make up nya. Lalu ia menyemprotkan parfum kesayangannya.
"Siapa, Pric" tanya Putri yang baru keluar dari toilet.
"Biasalah. Si tukang ngeselin!" jawab Pricil dengan ketus.
"Dia yang mulai!" jawab Pricil dengan acuh.
Putri hanya pasrah saja mendengar omongan Pricil. Karena tidak akan habis kalo berdebat. Putri pun meneriaki Wina yang sedang menabung emas di toilet sebelahnya.
"Wiiinn, buruan. Kita mau ke kantin nih!"
"Iyaa!! Sabar!!" suara Wina terdengar tertahan dari dalam sana.
__ADS_1
"Iisshh. Kamu apaan sih, Put. Dia lagi ngeden gitu kok. Nanti malah nggak jadi keluar emasnya dan masuk lagi, malah jadi lebih lama nunggunya" cegah Pricil agar Putri tidak kembali berteriak memanggil Wina.
"Haha, ya udah. Kita tunggu di luar aja. Duduk di kursi sana" tunjuk Putri.
Wina yang masih di dalam toilet bersemedi, dapat mendengar obrolan kedua sahabatnya yang ingin menunggunya di luar. Ia buru-buru menyudahi hajatnya karena ia tidak ingin di toilet sendirian.
Dari ruangan toilet laki-laki, Tio dan kawan-kawan keluar dari dalam sana. Yang lain menuju ke arah kantin, sementara Tio menghampiri Pricil dan juga Putri.
"Lia,..." panggil Tio dengan tatapan sendunya.
"Ada apa? Tuh muka juga kenapa? Apa karena efek dari ngintipin cewek di toilet tadi!" tuduh Pricil yang langsung berspekulasi sendiri.
"Ikut aku yuk," ucapnya dengan pelan.
"Mau ngapain!"
"Ayo buruan," Tio menengadahkan telapak tangannya agar Pricil segera menurutinya. Pricil pun menoleh ke arah Putri untuk meminta persetujuan. Putri mengkode dengan anggukan.
"Ya deh!" singkat dan padat.
__ADS_1