
**
"Udah, ikh, geli tauk!" pinta Pricil. Ia menahan tangan Tio yang akan kembali menyerang area pinggangnya.
"Aku akan berhenti. Tapi, ada syaratnya." Ujar Tio.
"Apa? Dikit-dikit syarat, dikit-dikit syarat!" omel Pricil. Bibir mungilnya mengerucut dan sangat menggemaskan bagi Tio yang ada di hadapannya.
Pricil dan Tio saling pandang, lama kelamaan wajah keduanya saling mendekat secara perlahan. Berjarak sekitar lima senti lagi. Bibir mereka akan saling beradu. Tio dan Pricil serentak memejamkan matanya. Lalu,...
Cup!
Bibir keduanya menyentuh sesuatu yang terasa kasar dan tajam. Serentak keduanya membuka mata bersamaan. Daun cempedak kering tiba-tiba ada di hadapan bibir mereka.
"Uppss! Maaf, aku jadi orang ketiga. Ini berbahaya!" ucap Angga yang mengagetkan keduanya.
Pricil dan Tio sama-sama salah tingkah karena tertangkap basah oleh Angga. Hampir saja mereka akan berciuman. Tetapi, Angga sebagai setan penengah yang menggagalkan aksi keduanya. Bukan Angga tidak tahu apa yang di rasakan oleh sahabatnya. Karena dirinya juga begitu. Tetapi, ia ingat akan ucapan Nando tadi. Jadi, Angga harus segera ambil tindakan dari pada hubungan sahabatnya hancur berantakan karena kesalahan kecil.
"Yo, kita pulang sekarang. Kasian papa udah kelamaan nungguin." Angga berucap sambil menoleh ke arah jalan yang tadi di lalui oleh Nando.
"Cepet banget, baru juga bentar, Ga!" jawab Tio setengah tidak rela.
Angga langsung membisikkan sesuatu pada Tio. Setelah itu, Tio akhirnya mengangguk paham.
"Yang, aku pamit dulu, ya. Besok, kita ketemuan kalau kamu udah balik ke rumah paman." Tio menggenggam kedua tangan Pricil. Sementara Angga, memberi ruang sejenak sambil melihat keadaan.
"Makasih, ya, kamu udah mampir ke rumahku." Tutur Pricil.
"Sun, dulu, dong! Aku mau pulang, loh!" pinta Tio setengah berbisik. Matanya mengarah ke Angga yang sedang memunggunginya.
"Ikh, apaan, sih. Malu, nanti di lihat orang!" Pricil menajamkan tatapannya terhadap Tio.
"Buruan, jangan ngulur waktu. Sini," Tio menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.
Pricil pun toleh kanan dan toleh kiri. Takut-takut ada yang melihat. Di rasanya aman, ia pun mengecup pipi kanan Tio.
__ADS_1
Cups
Tepat saat Pricil mengecup pipi Tio, Angga berbalik badan dan melihat adegan tersebut. Angga hanya berdecak sebal melihat keduanya. Bukan karena ia marah. Tetapi, ia sungguh iri melihat adegan romantis di dekatnya. Sementara dirinya hanya sebagai obat nyamuk.
"Ada orang, loh, di sini!" sebal Angga.
Pricil pun malu karena ketahuan. Ia langsung mendorong pelan hingga Tio berbalik badan.
"Udah, pulang sana, hati-hati di jalan." Usir Pricil.
"Makasih atas waktunya," Tio kembali berbalik dan mendekat. Ia berbisik di telinga Pricil dan sukses membuat Pricil memukul lengannya dengan kuat.
"Kamu buruan mandi, Yang. Bau acem!" bisik Tio.
Plakk, plakk, plakk.
"Ampun, sakit, loh!" Tio meringis.
"Aku akan tetep cinta, kok." Bisik Tio lagi. Setelahnya, ia menjauh dari Pricil agar tidak di serang pukulan lagi.
"Aku pamit, Sayang, emmuacchh." Tio memberi ciuman lewat telapak tangannya. Lalu, ia pun pergi bersama Angga. Setelah hilang dari pandangan, Pricil kembali membawa masuk nampan dan gelas kotor serta toples kosong menuju ke dapur.
***
Malam harinya, Pricil berbenah. Ia merapikan pakaian yang sudah di lipat ke dalam lemari. Setelah selesai, ia pun merapikan perkakas yang ada di kamar. Lalu, usai berbenah ia ikut makam malam bersama keluarga.
Ayah dan ibu Pricil menatap dirinya yang wajahnya terlihat berseri-seri. Pak Atmaja dan bu Mawar saling pandang seolah bertanya melalui tatapan mata. Namun, tidak menemukan jawaban.
"Ada apa dengan anak gadis kita, Bu?" bisik pak Atmaja. Bu Mawar mengedikkan bahu, karena ia juga tidak tahu apa yang sedang di alami Pricil.
"Ibu juga nggak tau, Yah!" bisik bu Mawar.
Usai makan malam, Pricil berbicara pada kedua orang tuanya untuk rencana kembali ke rumah paman dan bibinya yang ada di kota. Karena libur sekolah hampir usai. Ia pun harus memutuskan untuk pulang besok pagi.
"Yah, Buk, aku besok pagi mau pulang ke rumah bibi, ya." Izin Pricil.
__ADS_1
"Loh, kan masih dua hari lagi baru masuk sekolah, Nduk!" sanggah bu Mawar.
"Iya, Buk, aku kan harus nyetrika pakaian dan juga beli buku baru, Buk. Udah banyak yang habis." Terang Pricil.
"Ya, udah. Besok, Ayah antar. Tapi, sore setelah pulang dari ladang." titah pak Atmaja.
"Iya, Yah." Pricil menurut. Apa yang ayahnya katakan memang ia tidak berani membantah.
Sebenarnya, jika Pricil pulang pagi, ia bisa berbelanja terlebih dahulu dan lusa ia beristirahat. Bukan hanya itu saja rencana lain pun sudah tersusun dalam kepala.
"Ya, sudah, istirahatlah. Ini biar Ibu yang beresin," ucap Bu mawar pada Pricil. Terlihat ada sedikit kekecewaan dari mata Pricil ketika ayahnya langsung memutuskan penentuan waktu pengantaran.
Bu Mawar merangkul pundak Pricil dan memberi pengertian agar tidak salah mengartikan perkataan sang ayah. Ia paham karena pekerjaan orang tuanya memang di mulai dari pagi hari hingga sore.
"Nggak apa-pa, Bu, aku masuk kamar dulu." Ucap Pricil seraya mengulas senyum pada sang ibu.
**
Pukul sembilan malam akhirnya pak Yuan tiba di rumah. Mereka langsung saja beristirahat karena lelah. Selama dalam perjalanan tadi, banyak yang di bahas mengenai keberadaan Tio yang sewaktu-waktu bisa tercium oleh orang suruhan pak Yoga, yaitu orang tua Tio.
Pak Yuan menghubungi orang kepercayaannya untuk mengawasi sekaligus menjaga Tio selama berada di luar rumah tanpa sepengetahuan anaknya. Pak Yuan memang sangat menyayangi Tio seperti anak kandungnya sendiri. Jadi, ia akan memberikan apa pun sama seperti yang ia berikan pada Angga.
Di dalam kamar, Angga sedang asik kangen-kangenan dengan Wina melalui telepon karena beberapa hari tidak bisa ia hubungi, mereka bercerita panjang lebar hingga membahas pertemuan Tio dan juga Pricil di kampung yang di kunjungi.
Tio hanya bisa cemberut melihat kemesraan sahabat yang membuat hatinya panas. Angga yang melihat ekspersi Tio hanya bisa menahan tawa dan sesekali melirik sambil mengejek.
"Sungguh teman, lucnut!" umpat Tio. Ia melempar guling ke arah Angga dan langsung di tangkis menggunakan lengan. Tio pun akhirnya memutuskan untuk tidur lebih dulu.
Angga mengakhiri teleponnya dengan sang pacar dan mengecek Tio yang ternyata sudah terlelap. Ia pun memutuskan untuk menemui sang papa karena ingin membicarakan persoalan Tio. Bagaimana pun, Angga sangat peduli dan mengerti apa yang di rasakan oleh sang sahabat. Tanpa basa-basi Angga langsung saja berbicara pada intinya. Pak Yuan pun sependapat dan menyetujui permintaan sang putra.
-
-
...Tamat...
__ADS_1
Belum, kok.