Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 10


__ADS_3

...Perubahan sikap ibu...


" Oh iya dek, gimana kabar ibuk? tanya mas Afif.


" Iya masih sama seperti sebelum nya mas. Kabar nya baik, di dalam sandiwara sempurnanya. Tapi aku sering liat dia melamun, miris kalo liat ibuk begitu, aku gak tega." Jawab ku.


" Ibuk hebat ya dek? demi kamu, agar kamu tidak terluka, dia harus pura - pura tetap tersenyum. Padahal itu tidak lah mudah, saat hati nya sakit, ingin menangis, tapi dia memilih untuk tersenyum,"


" Tapi aku malah tersiksa mas. Kenapa dia gak jujur aja? bukan kah dengan begini, malah membuat ibuk semakin tersiksa?"


" Dia gak mau bikin kamu sedih pastinya,"


" Tapi aku sudah sedih, sudah hancur,"


" Tapi kan ibuk gak tau, kalau kamu sudah tau semuanya. Kalau bapak gimana dek?"


" Ya masih sama kayak kemaren mas. Nggak ingat pulang, jadi ibuk yang harus banting tulang,"


" Malah bagus dek. Dengan ibuk bekerja, dia punya kesibukan untuk mengalihkan masalah nya, mungkin itu bisa sedikit jadi hiburan buat ibuk. Iya untuk sesaat melupakan masalah yang dia alami."


" Iya sih mas. Tapi ya sebenarnya aku gak tega liat ibuk kerja. Aku berharap saat ini bisa cepet-cepet lulus terus bisa bantuin ibuk, "


" Nilai ujian kamu gimana? "


" Uhhh nilai sempurna mas. Saking sempurnanya sampai tuh angka gak ada yang bagus, hehehe. "


" Nggak papa. Mas maklum kok, tetap harus giat belajar ya dek. Semoga di semester berikutnya nilai mu bisa di perbaiki. "


" Iya mas, "


Kita mengobrol sambil terus berjalan. Nggak terasa ternyata sudah sampai di rumah. Aku persilahkan mereka masuk dulu. Lalu aku panggilkan ibuk yang sedang memasak di dapur.


" Buk, ibuk ?" panggil ku sambil ku mendekat nyamperin ibuk.


" Eh iya, udah pulang nduk? "


" Sudah buk. Itu di depan ada temen ku buk, ibuk gak mau gitu kenalan terus nyapa dulu? "


" Sebenarnya ibuk penasaran, cowok kaya apa sih yang membuat gadis ibuk jadi rajin olah raga. Tiap Minggu rajin bangun pagi, jalan sehat ?" tanya ibuk sambil tersenyum.


" Nggak tiap Minggu juga kali buk, emm kok ibuk tau, kan aku belum cerita? "

__ADS_1


" Kamu anak ibuk. Ibuk sudah tau sikap kamu. Sudah hafal, lagian juga ibuk pernah muda. Iya udah yok ke depan ibuk mau menyambut teman kamu ,"


Ibuk berjalan di depan, aku mengekor di belakang ibuk. Mas Afif sedang ngobrol dengan mbak Yani dan mas Bima.


" Assalamualaikum buk? ibuk sehat? kenalin buk aku Afif teman nya anak ibuk." Kata mas Afif sambil mencium tangan ibuk, dan bergantian sama mas Bima.


" Wa'alaikum salam. Alhamdulillah ibuk sehat. Oh jadi ini yang bikin anak ibuk jadi rajin olah raga?" tanya ibuk dengan senyuman ramahnya.


" Ibuk apaan sih. Jangan gitu, aku malu,"


" Maaf ya buk, sudah bikin anak ibuk keluar terus. Sebenarnya sudah dari kemarin - kemarin pengen main. Tapi baru sekarang Ayu ngizinin kita main kesini." Jawab mas Afif sopan.


" Iya nggak papa, ibuk juga pernah muda kok. Oh iya beginilah rumah nya Ayu, sederhana. Semoga kalian nyaman, ibuk tinggal kebelakang dulu ya?" pamit ibuk sambil tersenyum.


Aku mengekor ibuk lagi balik ke dapur, mengambil minuman dan cemilan, untuk mas Afif dan mas Bima.


" Ini mas di minum dulu teh nya, "


" Mas siapa nih?" goda mbak Yani.


" Iya mas berdua lah mbak, " jawab ku.


" Kirain mas Bima aja, " celetuk mas Afif.


" Dek mau gak jadi pacar ku?" tanya mas Bima tiba - tiba.


Sontak membuat mas Afif membulatkan mata nya. Aku yang faham dengan maksud mas Bima yang ingin menggoda mas Afif. Aku juga jadi ingin ikut menggoda nya. Mbak Yani hanya menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan kita.


" Mau banget lah mas," jawab ku.


" Iya udah kita kencan yuk, kemana gitu?" tanya mas Bima, yang sontak membuat mas Afif tidak tinggal diam, dan memukul lengan mas Bima.Itu membuat kami semua tertawa.


" Apaan sih Fif, sakit tau." Kata mas Bima.


" Ya lagian itu cewek ku, kamu embat juga,"


" Habis gemes banget aku sama cewek mu, itu tadi cewek mu juga mau kan?" kata mas bima sambil ter kekeh.


" Yan ini cowok kamu nih. Tolong dong lain kali di kandangin aja. Nggak usah di lepas," kata mas Afif kepada mbak Yani.


" Eettt dah dikira aku apaan, "kata mas Bima,

__ADS_1


" Udah - udah!! yuk Bim kita ke teras depan, aku mau bicara penting, " ajak mbak Yani.


Mas Bima pun bergegas berdiri, dan mengikuti mbak Yani.


" Tau aja si Yani, membawa si pengganggu pergi. Merusak suasana saja,( gumam mas Afif) apa liat - liat? " kata mas Afif dengan nada sewot nya, yang bikin aku gemas.


" Ihh mas ganteng deh, jadi makin sayang," rayu ku sambil bergelayut manja di lengan nya.


" Jangan deket - deket sama Bima dek, aku gak suka. Kan aku sudah pernah bilang, "


" Iya mas maaf." Jawab ku singkat, karena gak pengen mas Afif ngomel lebih panjang lagi.


Cup, ku cium singkat pipi mas Afif, membuat sang empu tersenyum dengan manisnya. mas Afif membalas dengan mencium kening ku. Lalu dia menggenggam tangan ku dan menciumnya.


" Tetap lah bahagia ya dek, apa pun yang terjadi jangan tinggalkan aku. Aku takut kehilangan mu,"


" Iya mas, mas juga ya?"


Dan aku bercanda, tertawa bersama. Ruangan itu menjadi saksi kenangan kita. Aku bahagia bersamanya.


Lalu ibuk memanggilku, untuk mengajak mereka makan. Awal nya mereka menolak, dengan bujuk dan rayu ku akhirnya mereka mau. Setelah selesai makan mereka pamit pulang. Mbak Yani pun ikut pamit pulang.


" Nggak nginap aja mbak?" Tanya ku.


" Enggak Yu. Bapak ibuk lagi pergi, gak ada yang jagain rumah. Besok kapan - kapan aja ya aku nginap nya?. Eh iya, aku bahagia liat kamu tertawa sebahagia itu, semoga Afif bisa jadi semangat mu yang baru, melalui kisah ini." Kata mbak Yani.


" Iya mbak. Oh iya selamat ya mbak udah jadi pacar nya mas Bima. Aku baru tau tadi lho. Kalau mas Afif gak cerita, aku gak tau. "


" Belum sempat aku cerita. Apa lagi liat kamu yang sering melamun di sekolah. Makanya aku nggak cerita. Iya udah aku pulang dulu ya, jagain bulek ya, kasian dia, "


" Pasti mbak, "


Setelah mbak Yani pamitan sama ibuk. Kemudian dia pulang. Tinggallah aku sama ibuk di rumah. Aku samperin ibuk di dapur untuk membantunya membereskan meja.


Waktu terus berjalan, hari berganti dengan semestinya. Tidak terasa sebentar lagi sudah ujian kenaikan kelas, sejauh ini hubungan ku dengan mas Afif masih baik - baik saja. Ibuk yang semakin gila kerja. Ibuk berubah, sekarang semakin tak memikirkan aku. Sudah tidak perhatian pada ku lagi. Terkadang saat aku pulang sekolah belum ada makanan. Ibuk sering pulang sore, lalu pergi lagi. Sering mainan ponsel, bahkan penampilan ibuk pun berubah sekarang jadi suka berdandan. Sejujurnya aku kecewa, aku sudah biasa di manja ibuk. Makan ada yang nemenin, mandi di ingetin, nonton TV bareng sambil ku bermanja-manja. Sekarang aku merasa benar - benar di abaikan ibuk. Bahkan untuk ngobrol pun jarang, apa lagi cerita. Aku tambah tertekan, aku merasa sendirian. Aku marah sama ibuk, tapi semua itu ku tepis. Aku memaklumminya. Mungkin ini cara ibuk melampiaskan rasa sakitnya.


Bapak pulang 1 bulan sekali, itu pun cuma sebentar.


Aku benar - benar di buat gila dengan ke adaan ini. Ya untung saja masih ada sahabat ku dan mas Afif. Yang masih setia terus menghibur dan mensuport aku.


Sampai pada akhirnya ibuk mendapat pesan dari mbak ponakan ku, anak dari bude. Kakak nya bapak. Bapak itu kelahiran lampung, jadi keluarga bapak ada di lampung. Bapak hanya di besarkan simbok seorang, karena suaminya simbok sudah meninggal waktu bapak masih bayi. Ibuk dari bapak ku, aku biasa memanggilnya "simbok".

__ADS_1


Pesan dari mbak ,itu berisi bahwa dia tidak mau punya bibik lain. Yang dia mau hanya ibuku yang akan menjadi bibik nya. Dari pesan itu akhirnya ibuk memutuskan untuk menceritakan semuanya pada ku.


__ADS_2