
" Mas?"
" Em."
" Jalan - jalan yuk?"
" Kemana?"
" Ya kemana aja, yang penting berdua."
" Lagi malas sek, kapan - kapan saja."
" Yah gitu, sekarang kalo mau di ajak main susah."
" Ya bukanya gitu sek."
" Ya udah aku mau berangkat dulu, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
***
" Mbak Ayu!"
" Ada apa Lol?"
" Pesan makanan yuk, Loli lapar."
" Bukanya dari tadi kamu sudah nyemil roti sama apa itu tadi ya."
" Kalau belum nasi belum afdol mbak. Lagian nyemilnya kan tadi pagi, sekarang sudah siang."
" Enak sekali jadi kamu, makan banyak tapi nggak gemuk - gemuk."
" Anugrah mbak, hehehe. Mbak mau pesan apa?"
" Bakso saja, lagi pengen yang ada kuahnya."
" Lah tempatnya mbak kan nggak jualan bakso?"
" Ya biarin nanti Adi yang belikan di sebrang jalan ada yang jual bakso kok."
" Ah aku juga ikut pesan bakso saja lah."
" Lol kamu tiap hari pesan makan nya sama Adi memang nggak bosen ya?"
" Ya nggak lah mbak, malah seneng dong tiap hari ketemu."
" Iya juga ya, susah ya kalau lagi fase bucin - bucinnya gini, dikit - dikit rindu pengen ketemu."
" Ah mbak Ayu tau aja."
" Ya tau, karena aku juga begitu, hahahaha."
Adanya Loli adalah hiburan tersendiri untuk ku.
Bercanda, tertawa bersama sejenak bisa melupakan beban yang ada.
" Tuh suara motor nya Adi,"
" Adu duh, sampai hafal suara motornya."
" Hehehe, aku depan dulu ya mbak, ambil pesanannya."
" Iya jangan lama - lama. Nanti aku jadi iri."
" Nanti ku telpon pak Isnan biar kesini Hahaha."
" Sembarangan saja kamu ini Lol."
Kring kring kring suara ponsel ku berbunyi. Ku lihat ada panggilan dari bu Lidya.
" Assalamualaikum buk."
" Waalaikumsalam Ayu."
" Ada apa ya buk? ada yang bisa saya bantu?"
" Oh nggak kok Yu, tadi aku mengirim gaun buat kamu dan Loli, untuk menghadiri acara pernikahannya kakaknya Isnan."
" Serius buk? nggak dipotong gaji kan?"
" Nggak lah yu, itu seragam kita. Semua karyawan ibuk juga ibuk buatin warna nya sama hanya model nya aja yang beda."
" Waduh terimakasih banyak ya buk."
" Iya sama - sama, tadi ibuk kirim pakai ojol, paling sebentar lagi sampai."
" Iya buk, sekali lagi terimakasih banyak."
__ADS_1
" Sama - sama Ayu, ya udah assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
" Mbak Ayu, mbak Ayu!!!"
" Ada apa sih Lol?"
" Nih bu Lidya mengirim gaun pake ojol. Kok ada nama kita ya?"
" Ya itu buat kita."
" Ha?"
" Buat kita besok menghadiri acara pernikahannya kakaknya Isnan."
" Emang kita di undang ya?"
" Iya, seluruh karyawannya bu Lidya di undang."
" Termasuk kita?"
" Iya Lol."
" Duh mbak, ini gaunnya bagus banget. Kalau beli pasti ini gajinya Loli 3 bulan deh."
" Bisa jadi. Ini seragam sama yang karyawan yang, cuma beda model saja."
" Oh, bu Lidya baik banget ya mbak?"
" Iya."
" Loli sudah nggak sabar pengen pakai nih gaunnya."
" Iya sama aku juga."
***
" Yee waktunya pulang."
" Yuk pulang, kamu nggak mampir tempatku dulu Lol?"
" Nggak mbak, lain kali saja."
" Oke lah, ya udah aku duluan ya,"
" Iya hati - hati dijalan mbak."
Sesampainya di warung, aku langsung ke kamar dan membersihkan diri.
" Akhirnya bisa istirahat."
Oh iya kayaknya aku belum punya jilbab yang cocok sama gaun ku. Mas Nirwan suruh nemenin beli mau nggak ya?
Aku menghampiri mas Nirwan ke depan.
" Mas?"
" Iya sek."
" Anterin yuk?"
" Kemana?"
" Beli jilbab."
" Beli aja sendiri, aku lagi sibuk sek."
Kan, selalu saja begini, kan aku cuma pengen ditemenin, biar bisa jalan berdua sama kamu mas.
" Selalu saja begitu."
Aku langsung mengambil jaket dan kunci motor, aku pergi begitu saja. Ada rasa jengkel karena penolakan nya.
Aku berangkat sendiri dengan hati yang dongkol, aku berhenti di taman sebentar untuk menghilangkan rasa dongkol ku, aku takut karena emosi jadi tidak fokus berkendara.
" Hey." Suara Isnan membuatku terkejut.
" Eh kamu, bisa nggak sih nggak ngagetin."
" Kamu kenapa? kok sendirian? suami mu mana?"
" Aku sendiri."
" Lagi kesel ya? tuh kusut banget mukanya?"
" Nggak kok."
" Terus ngapain disini sendiri?"
__ADS_1
" Bosen dirumah, pengen cari suasana baru."
" Nggak sama suami mu?"
" Nggak, dia sibuk."
" Sibuk ngapain sih, sampai istrinya ditelantarkan gini, dibiarin malam - malam keluar sendirian?"
" Lah kamu ngapain disini?"
" Pulang kerja terus lewat sini, aku pikir tadi bukan kamu, makanya aku kesini memastikan ternyata kamu."
" Owh."
" Pulang aja gih, cewek keluar sendirian bahaya tau."
" Kamu saja yang pulang, aku mau beli sesuatu dulu."
" Aku antar saja gimana?"
" Nggak lah, terimakasih."
" Makin malam makin rame loh, kalau ada preman gimana? aku khawatir."
" Nggak usah terimakasih."
" Aku tau pasti kamu takut ya sama suami mu. Takut dia salah faham ya?"
" Itu tau,"
" Ya udah tunggu disini sebentar jangan kemana - kemana!"
" Iya."
Tidak lama kemudian Isnan datang membawa makanan.
" Nih makan!"
" Makasih."
" Sama - sama dimakan ya?"
" Iya, sekali lagi makasih ya."
" Lol disini," teriak Isnan melambaikan tangan agar Loli melihatnya, sepertinya Loli bingung mencari keberadaannya.
" Ah bapak, susah banget di carinya, ada penting apa sih pak menyuruh Loli buru - buru kesini?"
" Temenin Ayu beli jilbab."
Loli lalu menoleh ke arah ku.
" Loh ada mbak Ayu to, tak kirain orang lain, kenapa mbak ada disini?"
" Pengen cari angin saja."
" Yang mau beli jilbab siapa?"
" Ayu Lol, ya udah yuk aku anterin. Aku sengaja menyuruh loli kesini biar kita nggak berdua saja, biar kamu juga nggak takut suami mu salah faham."
" Ah pak so sweet banget sih."
Lagi dan lagi aku menerima kebaikanmu, kenapa kamu lakukan ini, aku takut, aku tidak bisa mengendalikan perasaan ku. Kenapa kamu sebaik ini sih?
" Nggak usah ya? aku sama Loli saja."
" Tolong kali ini jangan ditolak, aku tidak bermaksud apa - apa Yu, aku hanya mau memastikan tidak terjadi apa - apa dengan mu, agar aku tidak khawatir."
" Ayo lah mbak, bener juga loh kata pak Isnan."
" Tapi aku bawa motor sendiri."
" Tinggal aja motornya disini, pasti aman kok, tolong ya mau ya?"
" Ya udah deh ayo."
" Nah gitu dong. Mau beli kemana?"
" Terserah Loli saja yang tau."
" Kok Loli sih mbak? protesnya.
" Kan kamu yang hafal kota ini Lol."
" Oke deh."
" Oke, jalan yuk. Kita berangkat." Kata Isnan.
Seperti biasa dia membukakan pintu mobilnya untuk ku dan Loli.
__ADS_1
Seharusnya kamu mas, yang saat ini disini bersama ku bukan orang lain. Dia yang bukan siapa - siapa saja tidak tega dengan ku. Sedangkan kamu yang suami ku, membiarkan ku pergi sendiri.
Kenapa setelah menikah, aku merasa kamu menjadi berubah?