
Janjian
Sudah tak sabar rasanya menunggu mbak Yani datang.
Yah sudah tak sabar ingin segera pulang untuk bertemu dengan sang pujaan hati.
Duh kok mbak yani lama banget nggak nyampe - nyampe sih.
Aku menunggu kedatangan mbak Yani dengan gelisah. Didepan rumah aku sudah tidak bisa menunggunya dengan duduk tenang.
Tin, tin, tin.
Suara klakson motor mbak Yani, membuatku segera berlari untuk menyambutnya.
" Assalamualaikum."
" waalaikumsalam."
" Sudah nungguin dari tadi ya Yu?"
" Iya, mbak lama banget sih."
" Perasaan juga udah ngebut deh, udah cepet kok. Ini datangnya juga sebelum jam janjian loh."
" Ah masak sih?"
" Iya kamu aja yang sudah nggak sabaran pengen cepet - cepet ketemu si Afif ya?"
" Hehehe ya begitulah."
" Masih aja ya bucin akut sama dia. Belum tentu juga dia bahagia ketemu sama kamu. Bisa saja dia mau karena terpaksa."
" Ah si mbak mah. Jangan gitu ih,"
" Kan bisa juga gitu, dari sikap dia ke kamu juga udah ketahuan kali yu, kamu aja yang masih buta nggak nyadar - nyadar, mengharap yang nggak pasti."
__ADS_1
" Masa sih mbak dia kaya gitu, mudah - mudahan nggak gitu."
" Lha kalau misalnya iya gimana?"
" Tauk ah, itu dipikir nanti saja, penting ketemuan aja dulu. Hahaha."
" Ya sudah berangkat yok."
" Tunggu sebentar mbak, tak ambil tas sama pamit buk Ririn sekalian."
" Oke, jangan lama - lama."
" Iya mbak."
Aku mengobrol banyak hal dengan mbak Yani disepanjang jalan pulang.
Sesampainya dirumah.
" Mbak mampir dulu yok, istirahat disini dulu."
" Nggak lama kok mbak cuma 2 hari. Kalau mbak nggak bisa jemput, tak cari orang lain saja buat ngojek. Kasian mbak juga harus antar jemput terus."
" Nggak juga, kebetulan aku juga libur kok. Jadi kalau mau balik bisa sekalian antar kamu lagi."
" terimakasih mbak. Maaf ya sudah sering ngrepotin."
" Iya kaya sama siapa aja. Aku seneng kok kalau bisa bantuin kamu. Ya udah aku pulang ya, bilangin sama simbah aku nggak mampir. Kabarin juga besok hasilnya ketemuan apa, hehehe."
" Apaan sih mbak. Yah sudah kalau nggak mau mampir. Hati - hati pulangnya."
" Oke."
Aku masuk rumah, ngobrol dulu sama simbah lalu masuk ke kamar.
Aku kirim pesan mas Afif sekarang aja ya. Apa telpon aja ya? ah telpon aja lama nunggu balasan kalau cuma kirim pesan.
__ADS_1
" Halo assalamu'alaikum,"
Akhirnya di angkat juga. Duh kok aku jadi deg degan gini ya?
" Waalaikumsalam mas, lagi apa? aku ganggu nggak?"
" Nggak kok dek, ini baru pulang dari bantuin bapak di ladang. Ada apa dek?"
" Nggak papa kok mas, cuma mau ngasih tau sama mau tanya, "
" Ada apa dek?"
" Aku udah pulang, mas jadi mau nggak ketemu sama aku?"
" Kapan dek?"
" Kalau besok pagi gimana, bisa nggak?"
" Em, bisa dek, mau ketemu di mana?
Akhirnya, penantian ku selama bertahun - bertahun. Semoga besok jadi ketemu.
" Ditempat biasa aja mas, sama sekalian nostalgia. Hehehe,"
" Oke dek. Jam berapa?"
" Besok aku kabarin lagi mas. Mungkin tidak terlalu pagi banget."
" Ya sudah besok aku nunggu kabar dari adek ya."
" Iya mas, ya sudah mas istirahat geh, jangan lupa makan ya. Aku juga baru nyampe rumah mau istirahat juga, assalamualaikum mas."
" Waalaikumsalam dek."
Sudah nggak sabar rasanya menanti hari esok. Aku ingin segera bertemu dengannya. Laki - laki yang selama beberapa tahun ini begitu aku rindukan. Rindu tatapan matanya, rindu senyuman manisnya yang membuat ku terpesona. Suaranya yang mampu membuatku tenang perhatian nya yang dulu membuatku tergila - gila.
__ADS_1
Kamu tau mas. Rasanya jantung ku sangat berdebar kalau mengingat besok kita akan bertemu lagi. Aku sangat bahagia, aku nggak tau kenapa rasanya deg - deg an sama seperti saat kita pertama ketemu dulu.