Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Season 2 ~ Hutang


__ADS_3

" Mas bangun, udah siang. Katanya mau ke warung hari ini?"


" Masih ngantuk sek, bentar lagi ya."


" Nanti kalau siang panas loh, aku males panas - panas naik motor ke sana."


" Ya udah sore aja kalau gitu."


" Terus seharian ini mau ngapain?"


" Tidur sama kamu, sini tidur lagi aku kelonin sek."


Akhirnya aku pun ikut berbaring di samping mas Nirwan sambil memainkan ponsel.


" Mas itu tangan nya, diem aja disitu. Nggak usah kemana - kemana."


" Nggak papa, orang sudah sah juga kan, mau ngapain juga suka - suka aku dong."


" Iya deh terserah kamu mas."


Tapi aku nggak tahan mas, orang yang kamu raba daerah sensitif ku semua.


" Sudah mandi ya sek?"


" Sudah lah mas, makanya jangan aneh - aneh aku males nanti kalau ujung - ujung nya harus mandi lagi."


" Nanti aku mandiin."


" Kalau mandinya sama kamu bakal lama mas."


" Kita belum coba loh di kamar mandi, nanti mandi bareng ya."


" Aku kan sudah mandi mas."


" Tinggal aku bikin kamu mandi lagi, hehehe."


Tok tok tok.


" Assalamualaikum." Suara seorang lelaki didepan pintu rumah Nirwan.


" Ada tamu seperti nya mas, aku lihat dulu ya ada siapa."


" Iya sek."


Aku melihat ada dua orang pria yang sedang menunggu ku di depan pintu.


" Waalaikum salam pak."


" Apa benar disini rumah bapak Nirwan?"


" Iya pak benar. Sebentar ya saya panggilkan suami saya dulu, mari masuk pak, dan silahkan duduk."


" Baik mbak, terimakasih."


Aku kembali ke kamar untuk mencari mas Nirwan.


" Mas ada 2 orang laki - laki yang mencari mu."


" Siapa?"


" Nggak tau, aku nggak kenal. Ya udah sana temuin dulu, aku mau buatin minum."

__ADS_1


" Iya sek."


Aku datang dengan membawa tiga gelas kopi, perlahan - lahan aku pindahkan gelas dari nampan ke meja. Tampaknya yang mereka obrolkan memang cukup serius. Raut muka mas Nirwan pun menjadi berubah.


" Kalau bapak mau lebih tau tentang rinciannya bapak bisa datang ke kantor langsung. Di Sana pasti lebih lengkap dan juga akan lebih rinci penjelasannya." Kata salah satu seorang lelaki itu.


" Baik pak, nanti saya akan langsung ke sana." Jawab mas Nirwan.


" Silahkan diminum dulu pak." Tawar ku, untuk mencairkan suasana.


" Iya mari silahkan diminum pak." Imbuh mas Nirwan.


" terimakasih mbak, pak."


Setelah mengantarkan minuman aku kembali ke dapur untuk mencuci piring.


Siapa sebenarnya mereka, kenapa raut muka mas Nirwan berubah menjadi cemas.


Ada apa ya? sepertinya masalah serius, nanti aja coba aku tanya mas Nirwan deh, mau ikut gabung tadi, tapi malu.


Aku begitu penasaran dibuatnya.


" Sek."


Panggil mas Nirwan sambil memeluk ku dari belakang.


" Iya ada apa mas. Ada masalah serius ya?"


" Iya begitulah."


" Ya udah yuk bahas di kamar saja."


" Kenapa di kamar sih sek, tadi katanya males mandi."


" Kan kalau di kamar sama kamu bawaan nya pengen mulu."


" Tadi katanya ada masalah serius, masih bisa ya mode mesum nya on, huh dasar. Ke kamar sambil rebahan, biar ngobrol nya enak. Aku juga capek baru selesai beberes, masak iya mau ngobrol nya sambil berdiri gini."


" Ya udah ayok."


Aku duduk meluruskan kaki ku, punggung ku aku sandarkan di kepala ranjang tempat tidurku, dan mas Nirwan ia meletakan kepalanya di paha ku.


" Ada apa sih mas, sepertinya ada masalah serius ya?"


" Iya sek, yang tadi kesini itu pegawai bank."


" Terus?"


" Dia nagih hutang sek."


" Mas punya hutang?"


" Punya, tapi itu sudah lama, dulu aku hutang buat tambah modal buka warung itu."


" Berapa?"


" Ah lupa kayaknya 5 juta, tapi itu aku pakai sama mbak ku."


" Kalau udah lama kenapa belum selesai dan malah di tagih kesini?"


" Karena hutangnya tambah banyak sek, sekarang jadi 10 juta."

__ADS_1


" Hah!!! Astagfirullah kok bisa sih mas? hutang segitu banyak kita mau lunasin pake apa?"


Aku terkejut dan juga panik. Ya gimana nggak panik, tabungan sudah habis di pakai semua, tiba - tiba ada tukang bank datang nagih hutang 10 juta. Uang satu juta aja nggak ada.


Aku bingung, aku juga takut, bagiku 10 juta itu banyak banget.


" Udah sek jangan nangis tenang saja pasti ada jalan keluarnya."


" Tapi gimana mas itu uang 10 juta banyak, kita nggak punya uang segitu."


" Tenang aja sek, kan itu bisa di cicil setiap bulannya. Nanti aku mau kesana mau sekalian tanya - tanya."


" Kok bisa hutangnya tambah segitu banyak sih mas, mas nggak pernah setor angsuran ya?"


" Seingat ku dulu aku selalu kasih uangnya sama mbak, kan dia yang nyetorin angsurannya. Aku nggak angsuran tuh kayaknya belum ada setahun, tapi kenapa cepat banget jadi 10 juta ya."


" Ya udah cepetan ganti baju terus ke sana."


" Iya sek. Kamu tunggu dirumah saja ya. Panas banget soal nya dan lumayan jauh. Aku juga cuma sebentar kok."


" Iya mas, kamu hati - hati ya dijalan."


" Iya sayang. Aku berangkat dulu."


Cup!!


Mas Nirwan mencium keningku.


" Sudah ya jangan nangis lagi, semuanya akan baik - baik saja."


" Iya mas."


Aku begitu tidak sabar menunggu mas Nirwan kembali, aku sangat berharap bahwa semua ini hanyalah kesalahan belaka.


Ini adalah cobaan pertama dalama pernikahan ku, tapi aku yakin kita bisa melaluinya. Dengan ada nya hutang segitu banyak, pasti butuh waktu bertahun - tahun untuk melunasinya, dan itu pastinya membuat mas Nirwan semakin lama menunda pengen punya baby nya.


Ya Allah maafkan kita, bukan karena mengingkari atau apa, tapi memang keadaanya yang membuat kami harus mengambil keputusan ini. Aku sebenarnya sangat ingin punya anak. Tapi kalau keadaanya begini aku juga setuju dengan mas Nirwan untuk menundanya sementara. Maafkan kita ya Allah, aku harap engkau tidak menghukum kami nantinya dengan tidak memberikan kepercayaan untuk kami punya baby.


Mendengar suara motor mas Nirwan yang sudah di depan, aku langsung berlari ke depan menemuinya.


Aku tau dia juga pasti kepikiran, tapi di depan ku dia tersenyum sambil menenangkan aku.


" Kok nggak tidur siang sih sek?"


" Nggak bisa tidur mas, nungguin kamu."


" Ya sudah yuk masuk, kita tidur siang dulu."


" Tapi,,"


" Iya sambil aku jelasin."


" Oke."


" Ternyata kadang aku memberikan uang itu, tidak disetorkan semuanya sek, dan kadang malah nggak di setorin. Nih lihat yang dari bulan ini, aku inget banget aku nggak pernah telat setor uangnya ke mbak, dan ternyata uang yang dia pake juga dia nggak bayar setorannya, jadi dari awal memang uang angsurannya kurang. Pantas saja jadi banyak utangnya."


" Kok tega banget sih mas mbak kamu, bukannya bantuin malah nyusahin, ya harusnya mas sekarang ngomong dong sama dia, sama suaminya juga, suruh dia ikutan bayar, Kan dia juga make uangnya."


" Iya sayang nanti aku bilang sama mereka, sekarang kita tidur dulu ya."


" Iya mas. Mas nggak makan dulu?"

__ADS_1


" Nanti saja, aku masih kenyang sek."


Aku tau pasti kamu juga sama kepikirannya kaya aku, tapi kamu nggak mau nunjukin ke aku, kamu nggak mau bikin aku tambah khawatir kan mas?


__ADS_2