Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Ekstra part 16


__ADS_3

Sesampainya di sana, acaranya ternyata sudah dimulai. Lewat pintu samping aku masuk dan ingin ikut bergabung dengan sanak saudara ku yang lain.


Begitu aku masuk, tanpa sengaja aku menatap mata seseorang di bangku paling belakang. Orang itu juga sama sedang menatap ku, mata kita saling menatap. Sepertinya dia juga sama terkejutnya seperti ku.


Mata ku langsung berkaca - kaca. Air mata ku sudah di pelupuk mata, aku tahan sekuat tenaga agar tidak menetes.


Kenapa disaat aku sudah bisa berpaling dari mu, kita malah dipertemukan lagi.


Pria tampan dengan kemeja biru dongker. Paras mempesona dan baik hati yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Tatapan matanya yang selalu aku rindukan. Senyuman manisnya yang mampu membuatku jatuh cinta. Pria yang dulu selalu mengusahakan kebahagiaan untuk ku. Yang menjaga ku bak permata, dan mencintaiku dengan cara yang luar biasa.


*Aku memang tidak bisa melupakanmu, aku juga sangat merindukanmu tapi aku nggak pernah menyangka kita akan dipertemukan disini.


Mas Afif, aku senang melihatmu baik - baik saja. Aku senang bisa melihatmu lagi setelah sekian lama.


Tapi aku nggak bisa menyapamu seperti dulu. Aku begitu malu untuk sekedar menyapa mu*.


Hatiku dan pikiran ku kacau, sampai aku tidak menyadari bahwa ijab qobul nya telah selesai. Untung saja mas Nirwan dengan Adi ntah mereka duduk diman. Kalau mas Nirwan tau, bisa perang dunia.


Setelah acaranya selesai mbak Yani ganti gaun, untuk acara resepsi selanjutnya.


Sebelum mbak Yani keluar, aku mencari ke kamarnya untuk menemuinya.


Mbak Yani sudah memakai gaun yang sangat indah, dengan lahapnya dia makan sambil disuapin salah asisten periasnya.


" Sini mbak biar aku yang suapin." Kataku dengan sopan, meminta piring yang ada ditangan nya.


" Oh iya ini mbak." Kata asisten perias itu.


" Selamat menempuh hidup baru mbak ku tersayang, yang jadi ratu sehari cantik banget sih."


" Terimakasih Yu, kamu juga cantik hari ini."


" Jangan ngeledek deh mbak."


" Tumben kamu natural banget, bajunya juga sopan?"


" Yah begitulah, mas Nirwan yang minta."


" Hahaha seleranya bagus juga, biasanya kan kamu suka pakai yang pres di badan."


" Tadi iya, tapi disuruh ganti, gak boleh dandan lah, ini itu lah, ribet nurutin apa kata dia."


" Tapi kamu cocok kok pakai ini, natural dan cantik."


" masak?"


" Iya."


Tinggal lah aku dan mbak Yani di kamar itu, karena para perias sudah pergi untuk merias pengantin prianya.


" Mbak ada dia di depan." Air mata ku luluh sudah di depan mbak Yani. Ku tumpahkan segala sesak di dada yang aku rasakan saat ini.

__ADS_1


Mbak Yani sudah hafal betul, siapa yang bisa membuatku menangis hingga seperti ini selain dirinya.


" Aku memang mengundang nya Yu, tapi aku nggak nyangka dia bakalan dateng sekarang."


" Aku melihatnya mbak, aku melihatnya. Kenapa harus ketemu lagi."


" Aku tau nggak mudah bagimu untuk membuka hati lagi. Setelah kamu bisa kamu di pertemukan lagi. Sudah lah sekarang kamu harus menjaga hati orang lain kan? aku yakin kamu bisa, aku juga tau kamu belum bisa melupakannya."


" Menatap matanya ingatanku tentang dia, semua bangkit lagi mbak. Aku juga sangat merindukannya, aku senang melihatnya baik - baik saja. Tapi jujur saja merindukannya tapi aku nggak bisa mendekatinya bahkan untuk bertanya itu sangat menyakitkan. Ingin banget aku memeluknya untuk yang terakhir tapi aku nggak bisa. Sudah ada mas Nirwan sekarang, aku harus menjaga perasaan nya."


" Nah itu tau, udah jangan menangis." Mbak Yani mengelus punggung ku untuk menenangkan aku."


" Iya."


" Aku tau kamu pasti bisa."


Belum juga air mata ku kering, ternyata mas Afif masuk ke kamar untuk mencari mbak Yani.


Deg.


Deg.


Deg.


Melihatnya dari dekat, jantungku berdetak sama seperti dahulu awal bertemu.


Dengan senyuman manisnya dia mengucapkan selamat kepada mbak Yani.


Dia menyapaku sebelum dia pamit pulang.


" Hay apa kabar?" Mas Afif bertanya kepada ku.


" Baik mas, kalau kamu apa kabar?" Aku balik bertanya. Sangat berat bibirku untuk menjawab nya, air mataku sudah tak tertahankan lagi.


" Baik juga, ya udah aku pamit ya Yan maaf nggak bisa berlama - lama." Katanya.


" Iya nggak papa, makasih sudah datang." Jawab mbak Yani.


Dia membalasnya dengan senyuman manisnya lagi.


Saat dia berbalik badan dan berjalan keluar kamar, air mata ku membasahi pipi ku lagi.


Aku harap ini pertemuan terakhir kita mas, meskipun aku rindu, ingin bertemu dengan mu, aku harap kita nggak beneran bertemu.


Nyatanya meskipun sudah ada mas Nirwan dalam hidupku, bertemu dengan mu lagi seperti ini aku nggak sanggup. Ini masih terasa menyakitkan. Ada rasa bersalah, juga rasa rindu, ingin menyapa mu, tapi aku merasa malu dengan apa yang telah aku lakukan dulu. Bagaimana aku bisa menjawab apa yang akan kau tanyakan nanti.


Mungkin setelah pertemuan hari ini, kita nggak akan pernah bertemu lagi.


Jaga dirimu baik - baik mas, bahagia lah selalu.


Dulu aku ingin sekali menjadi wanita terakhir tambatan hatimu, tapi itu hanyalah sebuah keinginan yang nggak akan pernah jadi kenyataan.

__ADS_1


Kenyataan nya adalah aku memang pacar pertamamu, tapi bukan tambatan cinta terakhirmu.


Aku ikhlas mas, ku doakan kebahagian selalu bersama mu.


Semoga kamu menemukan orang yang bisa membahagiakan mu.


Jujur aku masih egois, meskipun aku sudah tidak sendiri lagi, membayangkan mu bersanding dengan orang lain itu sangat menyakitkan. Di sudut hati ku ada perasaan tidak rela.


" Kamu harus kuat, udahan nangisnya. Nanti kalau matanya sembab nggak cantik lagi loh."


" Em."


" Ya udah aku ke depan dulu, sepertinya acara selanjutnya sudah mau dimulai."


" Iya mbak."


" Kamu gabung aja sama Nirwan biar nggak inget Afif terus."


" Iya, aku pamit sekalian ya mbak, nggak bisa lama - lama, aku harus balik kerja."


" Nggak nunggu acaranya selesai?"


" Nggak mbak, yang penting udah lihat mbak, aku udah seneng."


" Yah kok nggak nunggu sampai selesai acara sih. Tapi ya udah nggak papa, hati - hati dijalan ya. Makasih udah dateng."


" Iya sama - sama mbak."


Setelah mbak Yani keluar, aku mencari mas Nirwan, ternyata dia sedang ikut berbincang dengan teman - temannya Adi.


Aku tidak menunggu acaranya selesai, aku pamit untuk langsung pulang karena mau balik kerja, aku tidak bisa berlama - lama di sana.


Pikiran ku lagi kacau, mungkin dengan bersama mas Nirwan akan membaik.


" Mas pulang yuk."


" Kan acaranya belum selesai sek."


" Aku capek mas ngantuk."


" Kan nggak enak kalau acara belum selesai terus pulang. Apa lagi kamu saudaranya."


" Tadi udah bilang kalau langsung mau balik kerja nggak bisa lama - lama disini."


" Ya udah ayok."


" Aku juga ikut pulang ya bos." Kata Adi.


" Ya terserah kamu aja Di, pulang nanti juga nggak papa, nunggu acaranya selesai." Jawab mas Nirwan.


" Bareng kamu aja deh bos."

__ADS_1


" Ya udah ayok."


Di sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam. Menata kembali hati dan pikiranku yang sempat di kacau kan karena pertemuan ku dengan mas Afif.


__ADS_2