
Kaki ku melepuh karena aku paksa buat kerja. Sampai nggak bisa pakai sendal.
Dan itu terasa sakit, semakin kesini kaki ku semakin sakit, untuk berjalan pun terasa sakit.
Dengan telaten mas Nirwan mengoles salep ke kaki ku, nggak merasa jijik sama sekali. Malah dia lah yang selalu mengingatkan aku untuk mengoles salep.
Aku dibuat kagum dengan sikapnya yang perhatian itu.
" Sakit banget ya sek?"
" Nggak mas, tapi kadang kalau buat jalan sakit."
" Makanya jangan bandel, nggak usah kerja dulu ya istirahat aja."
" Tapi kan nggak bisa aku diam saja kalau lagi rame."
" Ya udah deh Boleh bantu tapi yang ringan - ringan aja, dan kalau capek istirahat ya."
" Iya."
" Besok berobat ya?"
" Nggak ah mas."
" Dek kamu mau sembuh nggak? kamu mau ke nikahan mbak Yani seperti ini?"
" Nggak."
" Makanya nurut."
" Iya mas, mau ke dokter."
" Nah gitu dong."
" Besok pulang dari pasar kita ke dokter."
" Iya."
***
Sepulangnya dari berbelanja, mas Nirwan benar mengantarku ke dokter.
" Duh mbak kok ini bisa jadi seperti ini?"
" Kesiram minyak panas pak."
__ADS_1
" Ini harusnya habis kena minyak langsung di siram pakai air dingin tapi suhu ruang yang mengalir bukan air es lho ya, dari kran misalnya kurang lebih 20 menit."
" Ya nggak tau pak, habis kesiram minyak cuma terus aku cuci pakai air dingin sebentar."
" Aduh, ini juga sepertinya habis di coblos ya, ini airnya masih mengalir."
" Iya pak, habis gede banget itu melepuhnya jadi gemes pengen nyoblos, hehehe."
" Hati - hati bisa jadi infeksi lho ya. Ini diobatin apa?"
" Pake salep xxx pak."
" Ya sudah terusin salepnya sampai sembuh ya, ini obatnya diminum 3 kali sehari. Banyakin minum air putih, banyakin istirahat, ya kalau lagi kerja izin libur dulu."
" Iya pak. Makasih pak."
" Sama - sama mbak semoga lekas sembuh."
Sesampainya di warung.
" Dengar kan kata dokter apa, masih ingat?"
" Masih mas."
" Tapi kan,"
" Nggak ada tapi - tapi an. Nurut dek."
" Iya mas."
Karena saran dari dokter beberapa hari aku nggak bisa bantuin mas Nirwan. Kadang aku maksa mau bantu, tapi hanya hal - hal kecil saja. karena jalan ku agak pincang, itu membatasi pergerakan ku.
***
Duduk dipangkuan mas Nirwan merupakan salah satu tempat ternyaman bagi ku.
Aku duduk di pangkuan mas Nirwan sambil memeluknya.
" Mas berat nggak?"
" Nggak, kenapa? kok tumben manja banget?"
" Pengen aja."
" Besok jadi pulang?"
__ADS_1
" Jadi lah, kan besok nikahannya mbak Yani."
" Jam berapa?"
" Ya dari sini nya pagi mas. Berarti warung tutup dong mas?"
" Iya, kan Adi juga di undang ke sana, besok kita ke sananya bareng - bareng biar rame."
" Iya deh."
" Ya udah tidur yuk biar besok bangunnya nggak kesiangan."
" Nanti, emang mas udah ngantuk?"
" Belum terlalu."
" Mas?"
" Apa sek?"
" Mau."
" Mau apa? udah malem lho ini, kan tadi udah makan."
" Bukan mau makan."
" Terus mau apa?"
" Mau kamu."
" Kan udah dipangku udah dipeluk?"
" Tauk ah."
" Lho kok malah marah sih? kan aku nggak tau sek mau kamu apa?"
" Udah nggak jadi!"
" Ya udah mau apa? jangan ngambek dong."
" Tidur udah malem!"
" Kan aku nggak tau sek, mau kamu apa kalau kamu nggak bilang."
Nggak tau kenapa emosiku saat ini lagi nggak setabil, maunya marah terus. Mungkin mas Nirwan dibuat pusing oleh sikap ku.
__ADS_1