Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 33


__ADS_3

 


****Bang Rian****


 


Setelah bu bos berangkat kerja, untuk mengusir kejenuhan aku mengajak dedek bermain di teras.


Walaupun pemandangannya hanya berbagai truk yang berbaris rapi, ada juga truk yang lalu lalang mengangkut dan mengantar barang. pemandangan yang tidak begitu buruk setidaknya suara riuhnya mampu memecah keheningan.


" Eh ada Ayu, " kata kak Lili yang baru keluar dari rumah dengan mengendong anaknya. Kak Lili sudah mempunyai dua putra, yang pertama namanya Rafid sudah kelas 1 SD. Yang kedua namanya Fadil umurnya baru 10 bulan.


" Iya kak, jenuh di dalam. Kakak mau kemana? "


" Mau ke warung ajo depan, mau nitip nggak? "


" Nggak usah kak, itu bang Fadil nya di ajak kak? " walaupun masih kecil aku memanggil anak - anak kak Lili dengan panggilan abang. ikut mengajarkan dedek memanggilnya abang.


" Iya Yu, mau ditinggal om Rian nya lagi mandi, oh ya kamu belum kenal ya sama om Rian? itu adek kakak Yu, kamu kenalan aja sama dia. Dia agak pendiam memang. "


" Iya kak. Nanti lah lain kali kalo ketemu tak nyapa. hehehe "


" Kan bisa jadi kawan. Biar kamu nggak jenuh, masak kawannya hanya kakak aja. "


" Iya nggak papa kali kak. Ada kakak juga aku sudah senang."


" Kakak tinggal dulu sebentar ya Yu ? "


" Iya kak hati - hati. "


Tak lama setelah kak Lili pergi, keluarlah adek nya kak Lili yang tadi kakak Lili bicarakan. Yah wajah nya lumayan sih. Rajin juga karena aku sering liat dia dari jendela saat ingin menjemur baju. Dia bekerja sebagai montir bengkel alat berat di tempat itu. Tiap kali berpapasan pun memang hanya diam, orangnya cuek. Aku juga malu mau menyapa duluan. Tapi tumben pagi ini dia nyapa dedek.


" Eh ada dek Delon, tumben dek main diluar. "


Karena si dedek belum bisa jawab. Ya jadi akunya yang mewakili jawab.


" Iya om, jenuh di dalam. "


" Betah Yu kerja disini? "


Eh kok dia tau nama ku, mungkin kak Lili kali ya yang cerita.


" Alhamdulillah betah om. "


" Ya bagus kalau gitu. Sering - sering lah main di luar biar nggak jenuh. Kalau malem duduk lah di teras, rame ada anak - anak bengkel biasa pada ngumpul disini. Bisa kenalan sama mereka."


" Iya om "


" Ya udah aku mau kerja dulu. "


" Iya om, " ntah lah aku bingung mau jawab apa, aku gugup, belum terlalu akrab juga.


Lalu setelah kak Lili pulang dari warung, kita ngobrol - ngobrol sebentar sebelum aku menidurkan si dedek .

__ADS_1


" Eh Yu bisa bantu bang Rafid belajar nggak, dia belum bisa membaca, "


" Bisa sih kak, lagian kalo malem kan dedek sama bundannya. Dari pada aku cuma tiduran di kamar. "


" Nanti tiap bulannya kakak kasih uang jajan lah. Bang Rafid kalo belajar sama kakak ngebantah terus, apa lagi sama ayahnya. "


" Eh si kakak, nggak usah begitu juga kali. Ya udah mulai nanti malam ya aja ya kak. "


" Iya terserah kamu bisa nya kapan. Nanti kalo Rafid pulang sekolah tak bicara sama dia. "


" Ya sudah kak aku duluan ya, mau bikin susu, nih kayaknya anakku sudah ngantuk. hhahaha. "


" Iya itu si Delon emang udah kaya anakmu, "


" Memang udah pantas jadi emak - emak ya kak. Hahahaha".


Begitulah kedekatan kita. Memang aku sudah sangat akrab dengan kak Lili. Kak Lili sangat baik. Bahkan baik banget, sifat keibuannya membuatku nyaman, mengingatkan aku sama ibuk. Aku pun sudah menganggap nya sebagai ibuku. Walaupun dia menganggap ku sebagai adiknya.


📩Mz Afif


Adek ku, mas kerja dulu ya. Dapet sift pagi. Jangan lupa sarapan. Nanti kalo istirahat aku kabarin lagi. Muach,, love you.


Aku tersenyum kala membaca pesan darinya yang baru aku buka. Ternyata saat aku di depan tadi mas Afif mengirim pesan.


Kalau mas Afif masuk pagi biasanya kita telponan nya malam. Karena siang jam istirahatnya hanya sebentar, nda juga saat jam makan siang juga dirumah jadi nggak mungkin kan ada bu bos mau asik telponan. Semakin hari kita jadi semakin bisa menyesuaikan waktu masing - masing. Belajar dari masalah yang lalau, walaupun sesibuk apa pun kita. Kita tetap nyempetin ada waktu buat satu sama lain.


Saat nda pulang dari kantor, aku memberanikan diri membahas masalah bang Rafid tadi.


" Iya nda, mungkin nanti malam aku mulai belajar sama dia, kalau dianya mau. "


Aku seneng karena nda memberikan izin.


Malam harinya, aku lagi selesai makan di dapur. Ternyata bang Rafid nya sudah datang. Aku mengajaknya belajar di kamarku. Karena di depan TV, ada nda sama suaminya lagi ngumpul nonton TV.


" Ada PR apa dari sekolah bang ? " tanyaku membuka percakapan.


" Matematika kak. "


" Ya sudah kita kerjakan dulu PR nya baru belajar yang lain. Abang belum bisa baca ya? "


" Belum kak, ABC nya aja belum hafal semua, hehehe. "


" Ya udah nggak papa. Kita belajar bareng, pelan - pelan aja belajarnya yang penting rajin ya. "


Aku dengan telaten mengajarinya. Perlu kesabaran ekstra memang. Tapi itu ada sensasi tersendiri menurutku. Aku sangat menikmatinya.


" Sudah ya sampai disini dulu belajar nya, nanti kalau lama - lama malah abang bosan. Dilanjut besok lagi. "


" Kakak bisa ajarin Rafid ngaji nggak? "


" Bisa bang, abang mau diajarin ngaji juga? ya udah besok sekalian bawa iqro' nya ya, habis kita selesai belajar membaca terus belajar ngaji. "


" Oke kak."

__ADS_1


" Ya udah yok, kakak antar sampai depan. "


" Aku berani sendiri kali kak. "


" Kakak pengen ikut, pengen liat itu kayaknya teras rame banget, "


" Itu pasti om Rian dan teman - temannya kak. "


Setelah selesai belajar, aku mengantarkan bang Rafid sampai depan teras. Ya walupun kita serumah. Hanya tembok yang menjadi batas rumah nda sama kak Lili. Sama sekalian mau lihat kata om Rian kalo malem rame pada ngumpul.


Ternyata benar, ada om Rian dan kawan - kawannya di teras depan rumah.


" Eh Ayu, sini ikut gabung, udah selesai kan ngajarin Rafid nya? "


" Iya om makasih, lain kali saja. Aku mau istirahat."


" Okelah kalau begitu, lain kali ikut gabung kita ya?"


" Iya om."


Sebenarnya ingin ikut gabung kayaknya seru ngobrol bareng - bareng. Tapi aku malu, minder mau gabung, belum pada kenal juga. Sama om Rian juga belum akrab. Jadi aku memutuskan untuk istirahat di kamar saja.


" Yu, main sini. " Suara kak Lili yang mengagetkanku. Mungkin kak Lili dengar om Rian memanggil ku tadi.


Lalu aku menengok ke dalam rumah kak Lili yang kebetulan memang pintunya tidak di tutup.


" Kakak lagi apa? "


" Lagi nonton TV, sini main - main lah. "


" Iya kak, besok aja, mau istirahat. "


" Oh, gimana tadi Rafid belajarnya, ngebantah nggak? "


" Nggak kok kak. Malah dia nurut. "


" Ya bagus kalau gitu. Makasih ya Yu. "


" Iya kak sama - sama, maaf nggak bisa main kak, mau langsung istirahat. "


" Lain kali main ya, biar nggak bosen kamu nya, biar kakak juga ada kawannya ngobrol."


" Oke kak. "


Aku segera bergegas masuk rumah dan menutup pintu.


O**h iya aku lupa belum cerita sama mas Afif. Aduh mungkin dia udah nungguin aku dari tadi.


semoga dia nggak marah.


Karena fokus belajar sama bang Rafid, aku belum memeriksa ponselku dari tadi.


Benar saja ternyata sudah ada pesan dan panggilan tak terjawab dari mas Afif.

__ADS_1


__ADS_2