
Aku menyibukkan diri membantu mas Nirwan, agar waktu berjalan tidak terasa lama.
Sampai malam pun mungkin karena terlalu antusias nya aku pun nggak bisa tidur, malam terasa sangat panjang.
Aku takut, tapi juga penasaran dengan apa hasilnya nanti.
Aku harus cepat tidur, biar waktu nggak terasa lama, biar kalau bangun sudah pagi.
Aku memejamkan mataku, karena lelah juga, aku pun terlelap.
***
Sebelum adzan subuh berkumandang, aku sudah terbangun.
Jam berapa sih kok kayaknya masih gelap, perasaan juga aku tidurnya lama.
Aku melihat jam di ponsel ku, jam menunjukkan 03.30.
Ini sudah termasuk pagi kan ya? nggak papa kali ya aku ngetesnya sekarang.
Cepat - cepat aku mengambil alat testpack di tas ku, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi, sebelum melakukanya aku membaca petunjuk penggunaannya terlebih dahulu.
Setelah aku merasa paham, aku mempraktekkannya sesuai petunjuk yang aku baca tadi.
Aku memejamkan mata ku karena tak berani melihat hasilnya.
Semoga positif, semoga positif ya Allah. Sudah beberapa menit berlalu sepertinya hasilnya sudah kelihatan.
Aku membuka mata ku perlahan, dan aku terkejut melihat hasilnya.
Tak kuasa aku membendung air mata ku, senyumku tak bisa aku tahan. Aku menangis sambil senyum - senyum sendiri sambil melihat testpack bergaris dua di depan ku.
Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, terimakasih. Ini luar biasa.
Tak bisa ku gambarkan lagi, betapa bahagianya diriku saat ini. Pengen banget teriak terus melompat setinggi - tingginya, untuk mengekspresikan kegembiraan ku.
Aku langsung berlari ke kamar, mengguncang - guncang tubuh mas Nirwan yang sedang tidur terlelap di balik selimut. Pagi - pagi buta ini aku membangunkan mas Nirwan dengan penuh semangat.
" Mas, mas bangun." Kata ku sambil terus mengguncang bahu mas Nirwan.
" Ada apa sih sek?"
" Bangun dulu."
" Ini masih pagi buta, ada apa sih?"
Aku menunjukan hasil testpack ku kepada mas Nirwan dengan penuh bangga. Aku kira mas Nirwan bakalan kaget tapi ternyata,
" Itu apa?"
" Astaga mas, kamu nggak tau?"
" Nggak, emang apa?"
" Ya Allah suamiku, ini testpack."
" Terus?"
" Ya liat itu ada garis dua."
" Iya, terus?"
" Iya aku hamil mas! astaga mas."
" Ya sudah, sekarang tidur lagi masih pagi, nanti kita periksa ke dokter."
__ADS_1
Aku tau mas Nirwan sama bahagianya dengan ku, namun bedanya dia pandai menyembunyikan rasa bahagianya gitu, dan bersikap biasa saja, tidak seperti ku yang nggak bisa menyembunyikan apa yang aku rasakan.
Aku masuk lagi kedalam selimut yang menutupi badan mas Nirwan, aku tidur dalam pelukan mas Nirwan, sesekali ia mengecup pucuk kepala ku.
***
Setelah bersiap dan sudah rapi, sebelum berangkat ke dokter, aku menghubungi Loli, memberitahunya bahwa aku akan datang terlambat nanti.
Aku berangkat ke dokter bersama dengan mas Nirwan.
" Mas,"
" Iya nduk, apa?"
" Misalnya nanti aku nggak hamil gimana?"
" Lah kan katanya sudah di tes."
" Iya kali aja aku ngetesnya salah atau gimana, misalnya nanti aku disuruh testpack lagi terus hasilnya negatif gimana?
Katanya kalau lagi hamil muda gini tes nya harus pagi, kalau nggak pagi kurang akurat katanya."
" Iya nanti kan sekalian USG sek. Kalau misalnya nggak hamil juga nggak papa."
" Makasih mas."
Setelah sampai di dokter kandungan, kami mengambil nomor antrian, ya lumayan banyak antriannya, lumayan jenuh juga nunggunya.
***
Setelah kurang lebih 1 jam, giliran aku yang dipanggil masuk, deg - deg an banget, gelisah campur takut juga.
Aku ditanya bermacam - bermacam pertanyaan sebelum USG itu dilakukan.
" Selamat ya mbak, sebentar lagi akan jadi ibu. Silahkan lihat, yang saya tunjuk itu janin mbak, masih sangat kecil. Kalau menurut terakhir mbak datang bulan kandungan mbak sudah tujuh minggu."
" Ada keluhan yang lain nggak mbak?"
" Sakit perut di kiri bawah buk."
" Mual nggak?"
" Sejauh ini sih belum buk."
" Doyan makan?"
" Doyan buk, hehehe."
" Bagus kalau begitu, makan yang banyak selagi mbak nggak mual, makan apa aja boleh asal dalam porsi yang wajar ya mbak. Ini saya kasih obat mual, diminumnya kalau mual saja ya, dan ini vitamin sama tambah darah nya."
" Terimakasih buk."
" Oh iya, jangan sering - sering main sama masnya, masih rentan."
Blus, aku malu sekali, memang sih akhir - akhir ini aku yang banyak minta, hehehe.
" Iya buk," jawabku dengan senyum menutupi rasa malu ku.
Keluar dari ruang dokter itu, aku merasa lega juga senang, karena ketakutan ku akhirnya lenyap.
" Mau makan dulu?"
" Iya dong."
" Mau makan apa sek?"
__ADS_1
" Bakso, hehehe."
" Makanan banyak, ada nasi padang, ada sate, dan lainnya kenapa mesti bakso terus sih sek? semenjak sama kamu kayaknya aku jadi sering makan bakso."
" Enak tau mas, diantara banyak nya makanan yang aku suka bakso itu di urutan paling atas."
" Apa nggak bosen?"
" Ya nggak lah, mau tiap hari makan juga nggak bosan."
" Ya udah yuk naik, mau makan bakso dimana?"
" Aku mah dimana aja, kan yang penting bakso nya."
" Oke."
Sambil mencari tukang bakso, aku ngobrol dengan mas Nirwan, paling suka pokoknya kalau boncengan terus senderan sambil meluk mas Nirwan, posisi paling uwenak kalau duduk di belakang,hehehe.
Setelah menemukan tukang bakso, kita berhenti, mas Nirwan yang pesan aku yang cari tempat duduk duluan, hehehe, bagi tugas.
Sambil menunggu baksonya datang lanjut ngobrol.
Tidak terasa abang tukang bakso nya udah datang membawa nampan berisi pesanan kita.
" Jangan banyak - banyak pakai sambelnya."
" Iya mas."
" Sini aku aja yang ambil sambalnya buat kamu, kalau kamu yang ambil sendiri pasti banyak."
Seujung sendok kecil mas Nirwan mengambilkan sambalnya, lalu menaruh wadah sambel nya sangat jauh dari jangkauan ku.
" Lah kenapa mukanya gitu? kurang sambelnya?"
Aku menggelengkan kepala.
" Terus?"
" Bisa nggak sih mas, pesannya tuh baksonya banyak, atau dua porsi di jadiin satu gitu pentol baksonya."
" Mana bisa begitu sek, ya nggak boleh sama abang nya, kenapa? masih kurang?"
" Iya, ini pentolnya kenapa dikit banget?"
" Ya memang porsinya segitu lah. Makan dulu aja, nanti kalau kurang tambah lagi."
" Malas ah malu."
" Terus gimana?"
" Kenapa mas nggak beli bakso aja sih, kenapa malah beli mie ayam."
" Ya aku bosan sek, makan bakso terus. Nanti lagi kalau makan siang atau besok, makan kebanyakan juga nggak bagus sek, kamu lagi hamil."
" Iya deh iya."
" Nanti malam makan baksonya mas aja ya?"
Uhuk, mas Nirwan tersedak mendengar ucapan ku.
" Anak ini memang nggak punya malu. Jangan ngomong keras - keras ini ditempat umum, malu kalau ada yang dengar, kamu nggak ingat tadi kata bu dokter."
" Ya kan nggak papa, pelan - pelan."
" Nggak sek, aku nggak mau terjadi apa - apa sama kamu."
__ADS_1
" Ya deh," kataku pasrah sambil cemberut.
Mungkin karena efek hamil ini memang hormon ku naik, beberapa kali memang aku yang inisiatif duluan, bahkan hampir tiap malam.