
Nirwan Mahendra
Aku sudah kembali bekerja seperti biasa.
" Yu kepala ku pusing banget, aku tidur sebentar kamu yang urus anak - anak ya, tinggal 8 - 10 anak saja kok."
" Bu Ririn sakit? ya udah buk nggak papa, sampean istirahat saja, anak - anak biar aku yang urus,"
" Kayaknya masuk angin,"
" Udah minum obat buk?"
" tadi udah minum obat, nih mau istirahat. Kamu bisa kan?"
" Bisa kok."
" Nanti kalau ada yang mau ditanyain cari aku dikamar ya."
" Iya buk. Semoga lekas membaik buk."
" Iya, makasih."
Siang ini aku mengajari anak - anak sendiri. Anaknya udah nggak terlalu banyak, karena yang lain sudah banyak yang pulang.
Setelah tugas ku selesai anak - anak juga sudah pulang, nggak terasa hari sudah sore.
Lelah banget, tapi masih harus mengerjakan tugas yang lain dulu baru bisa istirahat.
" Akhirnya bisa istirahat juga." Gumam ku.
Aku istirahat sebentar sebelum nanti bergulat lagi membuatkan tugas untuk anak - anak besok.
Sebelum rebahan aku mencari keberadaan ponsel kesayanganku.
📩+0814********
Hay,
Ada pesan dari nomor baru, siapa ya?
ah jadi penasaran, jangan - jangan mas Afif lagi. Ah nggak mungkin lah, jangan mikir yang aneh - aneh deh. Lupain Afif Ayu lupain.
Dari pada penasaran balas aja lah.
📨Aku
Hay juga,
Maaf ini siapa ya?
Ting, dia pun membalas pesannya.
📩+0814********
Irwan, masih ingat nggak? kita pernah ketemu.
📨Aku
Oh iya, aku ingat. Kamu temannya Adi kan?
📩+0814********
maaf kalau ganggu, aku juga minta nomormu dari Adi.
📨Aku
Iya nggak papa kok.
Dan kita pun bertukar pesan, dan saling bertanya banyak hal.
Nirwan Mahendra
Cowok bermuka dingin, jutek, nggak ada ramah - ramahnya.
Dilihat sekilas orang nya dingin serta pendiam.
Beda banget dengan mas Afif yang mukanya saja sudah kelihatan ramah banget.
Nirwan Mahendra biasa dipanggil Irwan.
Umur cuma beda setahun sama aku, lebih tua dia ya.
Berawal dari sini lah aku mulai dekat dengan dia. Sering bertukar pesan dan telponan.
Seperti malam ini dia menelpon menemani aku membuat tugas untuk anak - anak.
__ADS_1
" Belum selesai apa dek?"
" Belum mas masih banyak ini."
" Memang banyak banget ya?"
" Iya banyak banget, sampai tanganku sudah pegal."
" Istirahat aja dulu,"
" Nanti malah nggak selesai - selesai kalau istirahat."
" Kalau masnya sibuk, tinggal aja nggak papa."
" Maaf nggak bisa nemenin sampai selesai, itu temen - temen sudah nungguin."
" Oke mas."
Setelah panggilan dari mas Irwan berakhir, gantian ada panggilan masuk dari mbak Yani.
" Halo assalamualaikum mbak."
" Waalaikumsalam Yu, lagi apa?"
" Biasa lagi nulis, hehehe."
" Aku ganggu nggak?"
" Nggak kok. Malahan ada yang nemenin."
" Aku mau telpon kamu dari tadi tapi nggak bisa-bisa."
" Tadi lagi telponan sama Irwan mbak."
" Irwan? temennya Adi yang mukanya dingin itu?"
" Iya mbak, tapi nggak sedingin itu juga mbak, anak nya enak kok di ajak ngobrol, kalau udah kenal nggak jutek."
" Udah sering kamu kontekkan sama dia?"
" Ya nggak sering - sering banget sih."
" Giman pendapat mu sola dia?"
" Ya karena baru kenal, sejauh ini sih orangnya baik. Kan baru kenal mbak jadi belum tau banyak soal dia."
" Hahaha, aku nggak tau juga ya mbak, ikuti aja lah arusnya. Nanti hasilnya gimana ya nggak tau, bisa juga nanti bersama karena cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Aku juga masih ragu sih mbak sama dia, punya tujuan apa dia deketin aku."
" Namanya juga anak muda, ya kali dia tertarik sama kamu, punya tujuan apa lagi coba?"
" Ya kali aja cuma mau mainin sama manfaatin doang, kalau udah dapet yang dia mau lalu aku dibuang."
" Jangan gitu dong, nggak baik berprasangka buruk, kalau nggak bener jatuhnya jadi fitnah. Ya kamu hati - hati aja, kalau memang ada tanda - tanda dia mulai nggak baik ya jauhin saja."
" Iya mbak. Nggak tau lah, sekarang jadi susah mau percaya sama orang."
" Ya wajar namanya juga habis di kecewakan."
" Yah semoga aja niat dia baik mbak."
" Kayaknya juga dia bukan cowok yang sejahat itu. Kalau misalnya memang dia mau deket tanpa tujuan lain pasti lama - lama juga akan kelihatan ketulusan nya."
" Ya semoga saja."
Malam ini aku ngobrol sama mbak Yani tentang banyak hal. Aku sangat bersyukur punya saudara sebaik dirinya. Dari dulu memang dia selalu berperan sebagai kakak yang mengayomi aku.
****
📩Mas Nirwan
Selamat pagi,
Pagi ku diawali dengan pesan dari mas Nirwan.
📨Aku
Pagi juga mas. Lagi apa?
Baru saja balasan pesan aku kirim.
Dilayar ponsel ku ada nama panggilan masuk dari dia.
" Assalamualaikum,"
" Waalaikumsalam."
__ADS_1
" Ada apa mas?"
" Nggak ada apa - apa, lagi apa dek?"
" Biasa habis mandi, baru selesai beres - beres."
" Oh, Belum mulai ngajar?"
" Belum, kan anak - anak masih sekolah. Mas lagi apa?"
" Baru bangun tidur."
" Semalem nongkrong sampai jam berapa?"
" Nggak nongkrong, anak - anak pada main ke rumah ada Adi juga."
" Oh, kirain. Nggak kerja po mas?"
" Libur dek, udah sarapan?"
" Sudah tadi,"
" Sarapan apa?"
" Mie instan."
" Jangan banyak - banyak makan mie instan dek, memang nggak ada nasi?"
" Ada, tapi malas aja makan nasi."
" Lain kali kalau ada nasi ya sarapan nasi."
" Iya mas. Buruan gih bangun udah siang."
" Nanti masih ngantuk."
" Ya udah gih balik tidur lagi."
" Nanti kalau kamu nya udah mulai ngajar aku balik tidur lagi."
" Mau tidur sampai jam berapa? belum sarapan juga kan?"
" Nggak terbiasa sarapan, paling cuma minum kopi aja."
" Oh,"
" Kapan pulang dek?"
" Malam Minggu mas, kenapa? mau main?"
" Kalau boleh."
" Boleh aja, "
" Ya udah besok aku ke sananya sama Adi."
" Ya aku tunggu dirumah. Ya udah di sambung nanti lagi ya mas, itu anak - anak udah pada dateng."
" Ya dek, semangat ya kerjanya, jangan telat makan, jangan kebanyakan minum kopi juga."
" Habisnya kalau siang ngantuk banget mas kalau nggak minum kopi."
" Ya tapi jangan tiap hari. Nggak baik."
" Ya mas, makasih perhatiannya. ya udah assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Semoga memang benar ya mas, kamu masuk dalam kehidupan aku nggak ada tujuan lain.
Aku sudah lelah dengan rasa sakit.
Sampai saat ini aku belum ada rasa suka untuk mas Nirwan. Yah meskipun sudah sering kali ngobrol dan bertukar pesan.
Mungkin karena aku belum bisa sepenuhnya percaya dan membuka hati untuknya.
Aku juga takut, kalau aku sudah mencintainya dia akan meninggalkan aku seperti yang sudah lalu.
Bayang - bayang rasa takut itu pasti ada.
Semoga saja dia dia bukan pria seperti itu.
Selalu ada alasan kenapa Tuhan mempertemukan kita.
Ntah nanti kita akan berteman atau berpasangan itu rahasia Tuhan.
__ADS_1
Dialah yang Maha membolak - balikan hati umatnya.