Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Ekstra part 7


__ADS_3

Saat membalikan badan dan ingin pergi, mas Nirwan memegang tangan ku. Lalu memeluk ku.


" Maafin aku sek, maaf, aku benar - benar nggak ada maksud begitu."


" Lalu maksud kamu apa?"


Aku berusaha memberontak ingin melepaskan diri dari pelukannya.


" Aku nggak bermaksud begitu, masuk dulu nanti aku jelasin.".


" Apa lagi yang mesti kamu jelasin, semuanya sudah sangat jelas. Kamu nggak sayang sama aku, kamu cuma mau manfaatin aku."


" Nggak sek, nggak gitu, plis dengerin penjelasan aku dulu, aku juga nggak bermaksud bohongin kamu."


" Masuk dulu yuk, aku janji aku bakal jelasin semuanya di dalam. Ini cuma salah faham sek nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku mohon masuk dulu, lihat lah baju kamu basah."


Karena bujuk dan rayunya aku pun mengiyakan yang dia katakan. Aku mengikuti masuk kerumahnya. Padahal aku sudah membulatkan tekad ku untuk meninggalkan dan tidak ingin percaya lagi padanya. Tapi setelah bertemu dengan nya, bertatap muka dengan nya, bujuk dan rayunya, membuat tekat ku mengendur. Ketegasan ku melemah. Lagi - lagi perasaan cinta ini membodohi ku. Meluluhkan tekad yang sudah aku buat.


Aku pun di gandeng ke kamarnya.


Dia berdiri di belakang ku, menurunkan resleting dress yang aku kenakan, lalu melepaskan dress basah yang sudah sedari tadi aku kenakan. Mas Nirwan juga melepas kait bra yang aku kenakan.


" Mas apa yang kamu lakukan?"


" Baju kamu basah daleman kamu juga, badan kamu dingin banget sek, nanti kamu masuk angin."


" Aku bisa melepasnya sendiri, keluarlah mas."


" Nggak mau, aku mau bantuin kamu, tadi aku bilang kan, aku mau jelasin, kamu nggak mau mendengarnya?"


Aku hanya terdiam, dari sudut hati ku, aku ingin mendengarkan apa yang ingin dia jelaskan.


Mas Nirwan berjongkok dan membantuku melepas cd yang sudah basah karena kehujanan.


Mas Nirwan mencium punggung ku dan berbisik di telingaku.


" Sek aku ingin."


Aku pun hanya terdiam, mencerna apa yang dia katakan.


Tidak menunggu jawaban aku, mas Nirwan menuntun agar posisi badanku sedikit menungging, menaikan sebelah kaki ku ke atas ranjang.


Dia menyetubuhi ku dari belakang.


Karena tanpa pemanasan itu terasa sakit.


" Ah sakit mas."


Dia hanya terdiam, dan ia segera mencapai pelepasan.


Mungkin dia tau aku lelah, jadi tidak berlama - lama.


Aku pun juga hanya diam, lalu pergi kemar mandi.


Hanya dengan berbalut handuk, aku balik kekamar, dan menyembunyikan diriku di bawah selimut menutupi seluruh tubuh ku, yah aku tidak memaki apa - apa, baju ku masih basah kuyup.


Aku terdiam seribu bahasa. Aku ingin pulang, tapi baju ku basah, aku juga baru sadar aku pulang mau naik apa? kunci motor sudah aku berikan ke mas Nirwan.


Disaat seperti ini bisa - bisa nya kamu masih mainin aku mas. Aku jadi semakin yakin, bahwa aku bagimu hanya pemuas nafsu.


Kenapa aku nggak bisa ninggalin kamu, aku ingin ninggalin kamu, tapi cinta ini membuatku nggak bisa ninggalin kamu, betapa bodohnya aku, yang sangat mencintai orang yang hanya menganggap ku sebagai pelampiasan nafsu.


Mas Nirwan menyusul ku, tidur di sampingku. Aku memiringkan badan ku agar aku tidak menatap mukanya.


" Sek gimana udah hangat belum?" tanya nya sambil memeluk ku dari belakang.


Aku masih diam, tidak menjawab pertanyaan nya.


" Sek, kemarin aku memang bohong, habis dari tutup warung temen aku nelpon mau nongkrong disini, aku nggak enak sek mau menolaknya mereka teman ku dari lama, aku segan. Aku nggak tau kalau mereka kesini bawa wanita. Kenapa aku nggak bilang sama kamu? itu karena aku tau, kamu pasti akan marah, kamu juga pasti akan berfikiran yang tidak - tidak. Aku minum sedikit karena untuk mengimbangi mereka, nggak sampai mabuk, mungkin cuma satu gelas."


" Mana ada maling ngaku, penjara penuh."


" Terserah kamu mau percaya apa nggak, itu keputusan mu, tapi memang itu yang sebenarnya."


" Cewek itu?"


" Aku nggak ikutan sek, beneran. Makanya tadi aku langsung ituin kamu, karena dari semalam aku menahannya. Aku punya pacar ngapain aku main sama yang lain, cantikan juga cewek aku ini."


" Bohong!"


" Aku nggak bohong sek. Beneran, waktu sama kamu itu juga baru yang pertama."


" Aku nggak percaya."


Mana ada baru pertama tapi sudah mahir luar biasa. Hem, Tapi aku juga bukan cewe yang polos - polos juga sih, sebelumnya aku juga pernah nglakuin hal itu yah walaupun nggak sampai ketahap ke yang bawah itu, jadi aku tidak berhak menuntutnya juga.

__ADS_1


Tapi dengan membayangkan kamu main sama cewek lain itu membuat ku sesak mas. Aku nggak mau ya gantian itu mu dengan orang lain. Ih ogah banget. Aku nggak bisa bayangin sih mas gimana sakitnya dan hancurnya aku jika kamu beneran jujur kalau kamu emang main juga dengan cewe itu. Tapi aku juga nggak suka kalau kamu bohong. Mungkin begini lebih baik untuk kita, Biarlah aku nggak tau yang sebenarnya, biarlah hanya hatiku saja yang percaya, karena aku yakin kalau kejujuran yang kamu katakan itu akan lebih menyakitkan. Aku takut aku nggak bisa menerimanya.


" Yah terserah kamu mau percaya apa nggak."


" Janji mau nikahin aku?"


" Iya sek, kan udah berkali - kali janji begitu."


Aku membalikan badanku dan menatap nya. Dengan deraian air mata, aku bertanya.


" Kamu nggak manfaatin aku kan?"


" Nggak sek."


" Aku bukan pelampiasan kamu kan?


" Bukan pesek."


" Kamu sayang kan sama aku?"


" Iya sek."


" Iya apa ?"


" Iya sayang sama kamu pesek, astaga ya ampun."


" Kalau kamu beneran sayang, aku mohon dan aku minta dengan sangat, tolong jangan di ulangi lagi, aku nggak suka."


" Iya janji, ini yang terakhir."


" Kamu tau kan, dengan ngebayangin kamu sama wanita lain saja itu sudah membuatku sakit."


" Iya sek. Udah dong nangisnya." Kata mas Nirwan sambil mengusap air mata ku.


" Inget ya mas, jangan harap menyentuhku lagi kalau kamu tidur dengan wanita lain, itu membuatku jijik."


" Iya sek."


" Cuma iya iya terus lho."


" Lha terus mesti jawab apa sek?"


" Iya iya aja, ngerti nggak sih sebenarnya?"


" Ngerti sayang."


" Itu apa?"


" Ya itu kamu."


" Ya aku nggak tau itu tu apa."


" Ya itu."


" Itu apa sih sek."


" Jangan pura - pura nggak tau deh."


" Ya emang aku nggak tau apa itu "ITU MU"."


" Ya itu kamu."


" Apa?"


" Si junior mu."


" Hahaha, ya nggak usah malu kali sek bilang nya, udah pernah pegang juga kan?"


" Ih kapan? perasaan nggak pernah deh. Bukan aku kali."


" Ya udah sini coba pegang."


" Males banget."


" Dia minta di elus nih."


" Bodo amat."


" Hahaha, kamu itu lucu kalau lagi malu. Udahan ya marahnya."


" Hem,"


" Aku dimaafin kan?"


" Hem."

__ADS_1


" Jangan hanya hem hem aja napa, aku ituin lagi nih mumpung lagi nggak pake baju."


" Iya."


" Iya beneran mau, ya udah buka gih selimutnya."


" Iya maafin kamu."


" Oh kirain."


" Kecewa ya? duh kasian. kan tadi sudah."


" Cuma sebentar,"


" Yang penting kan sudah."


" Tau nggak sek, aku udah menderita menahan dari semalem, gara - gara tuh pada gantian ituin si cewe terus si ceweknya mendesah gitu, kan aku juga jadi ingin."


" Salah siapa nggak ikutan,"


" Kan aku sudah punya kamu."


" Makanya nggak usah kepinginan."


" Desahannya itu yang memancing. Apa lagi ******* kamu, ah itu bikin menambah gairah."


" Tauk ah."


" Hahaha. Seru tau godain kamu. Eh udah makan belum sek?"


" Sudah tadi pagi."


" Ya ampun sek, udah tau punya sakit perut, kenapa pake telat makan sih, ini udah malem lho."


" Kan gara - gara kamu."


" Iya deh iya, maaf. Ya sudah aku buatin makanan dulu ya."


" Harus."


" Oke sayang, tunggu sebentar."


Tak berapa lama kemudian mas Nirwan masuk membawa nampan berisi semangkuk mie instan dan juga teh hangat.


" Maaf sek adanya cuma ini."


" Ya nggak papa, ini juga udah cukup. Makasih mas."


" Ya udah bangun gih terus makan."


" Iya."


" Ya lepas itu selimut, gimana mau makanya kalau masih balutan selimut gitu."


" Ya sudah mas keluar."


" Lha kenapa?"


" Kan aku nggak pake baju."


" Ya nggak papa, malah bagus dong."


" Ya kalau gitu aku nggak jadi makan."


" Oke, aku keluar, aku mau mandi dulu."


" Iya mas."


Aku memakannya dengan sangat lahap, mungkin karena efek lapar juga. Setelah menyelesaikan makan ku, aku menaruh mangkuk di meja samping tempat tidur. Perut sudah kenyang, rasa kantuk langsung menyerang, dengan cepat aku berbaring tidak butuh waktu lama, aku terlelap.


Dari kemarin aku dibuat lelah hati, lelah pikiran oleh masalah ini, dan karena masalahnya sudah selesai itu membuat ku sangat lega, membuat tidurku pun sangat pulas.


Belum lagi badan yang kedinginan, telah dihangatkan dengan balutan selimut, perut pun sudah di kenyang kan membuatku tidurku lebih nyenyak.


Tidurku terusik karena pelukan mas Nirwan, yah karena habis mandi bandarnya mas Nirwan sangat dingin.


" Apaan sih mas."


" Dingin sek."


" Aku lelah mas, ngantuk banget."


" Cuma mau peluk, dingin banget sek, enak peluk kamu badan kamu anget, janji sek nggak bakal aneh - aneh."


" Hem."

__ADS_1


" Maaf jadi ke ganggu ya? ya sudah tidur lagi yuk."


Aku pun terlelap kembali dalam pelukannya.


__ADS_2