
Bimbang
Pagi hari setelah bunda berangkat ngantor, aku mengajak si dedek duduk di teras bersama kak Lili.
" Gimana nilai ujian bang Rafid kak? "
" Bagus Yu, walaupun nilanya nggak bagus semua, tapi tidak ada nilai yang merah. "
" Syukur lah kak. memang masih sering salah ngitung dia, kalo disoal Matematika. "
" Kakak udah seneng banget sama nilai bang Rafid sekarang. Sudah banyak kemajuan Yu. Daripada nilai dia yang kemarin - kemarin."
" Iya sih kak. Kemarin dia mau baca aja susah. Sekarang sudah lancar. "
" Iya, berkat kamu. kakak Terimakasih banget lho Yu. "
" Aku kak yang terimakasih. Sudah dibayar tiap bulan. Bang Rafid juga semangat banget belajarnya."
" Sama - sama Yu itu tidak seberapa. Oh ya Yu, itu anaknya ibuk yang jaga konter depan itu juga kaya Rafid dulu. Nilainya hampir merah semua. Kemarin pas terima rapor dia liat nila Rafid. Dia heran, kok bisa Rafid nilainya bisa ada kemajuan banget gitu. Terus aku cerita kalo di ajarin sama kamu. Dia tertarik tuh, minta kamu juga ngajarin anak dia."
" Bang Rafid juga pernah cerita katanya anaknya ibuk konter pengen ikut belajar bareng, tapi nggak tau, nggak pernah dateng juga. Apa mungkin karena belajarnya malem ya kak? "
" Nggak tau juga sih Yu. Mungkin karena ibuk nya belum izin dan nanya - nanya sama kamu. "
" Kalo kemarin sih dia bilang gitu. Mau ikut juga anaknya biar di ajarin sama kamu."
" Haduh gimana ya kak. Aku sih mau - mau aja. Seneng banget malahan. Tapi aku kayaknya habis lebaran nggak balik kesini lagi deh. "
" Kenapa? duh dah nggak bisa ketemu lagi dong kita. Nggak ada temen ngobrol lagi kakak Yu. "
" Jujur aja aku bimbang kak. Tapi setelahku pertimbangkan memang kayaknya aku nggak bakal balik kesini lagi. Aku sudah bilang sama nda. Dia sudah dapet pengganti aku."
" Ya kakak bakal kangen banget sama kamu."
" Aku juga bakal kangen banget sama kakak. "
Kak Lili memang satu - satunya temen ngobrol aku disini. Belanja sayur ke pasar pun sama dia. Kakak baik banget sama aku. Aku sudah anggap dia seperti ibuku.
Sebenarnya tawaran kak Lili cukup mengiurkan. Aku memang suka mengajar, belajar bareng sama anak - anak itu seru. Tapi keputusanku untuk tidak balik sudah bulat.
kerja disini nyaman tapi jauh. Mungkin karena aku punya pikiran pengen balik lagi ke Jogja dan kerja di sana. Makanya tawaran itu tak menggoyahkan tekad ku.
__ADS_1
Kebetulan pulsaku habis. Kemarin buat telponan sama ibuk. Baru bisa keluar untuk beli saat malam hari.
Beberapa malam libur nggak belajar bareng bang Rafid. Karena masih libur, jadi bang Rafid nya belum mau belajar.
Aku minta antar bang Rian, karena tidak berani bawa motor kak Lili sendiri, takut jatuh.
Setelah kejadian waktu itu, aku agak canggung sama abang. Terkadang sesekali menghindari abang. Tapi tetap aku berusaha agar terlihat seperti biasanya.
" Bang antar ke depan yuk, " ajak ku. Kebetulan abang lagi duduk santai di teras.
" Mau kemana dek,? "
" Mau beli pulsa, sama sekalian beliin pulsa ibuk."
" Ya sudah ayok. Mau sekalian jalan - jalan nggak? "
" nggak lah bang, tadi aku izinnya sama bunda cuma mau beli pulsa ke depan. "
" Ya sudah. Abang juga mau tempat ajo beli minuman. "
Setelah sampai di tempat tujuan,
" Abang tunggu disini aja. Aku mau ke sebelah beli pulsa. "
" Abang antar ya. "
" Baik nona manis. "
Aku berjalan ke arah konter yang jaraknya memang hanya beberapa langkah dari warung Ajo.
" Mau beli pulsa buk, "
" Berapa? "
" Ini buk, dua nomor ini. Dua Puluh Ribu ya, " sambil ku serahkan kertas kecil yang sudah bertuliskan nomorku dan nomor ibuk.
" Dua Puluh Ribu semua? "
" Iya buk. "
" Oh iya kata Lili kamu yang ngajarin Rafid belajar ya? "
" Iya buk, Aku sering belajar bareng sama dia."
Aku sebenarnya kurang suka kata ngajarin atau mengajar. Karena aku nggak sepintar itu untuk menjadi seorang pengajar. Aku lebih suka kata belajar bareng. Karena kita memang saling belajar, aku belajar bagaimana caranya agar setiap apa yang aku ajarkan mudah di cerna dan dimengerti. belajar mengunakan kata - kata yang mudah dipahami, metode belajar seperti apa yang tidak membosankan dan banyak lainya.
__ADS_1
" Bisa ngajarin anakku nggak mbak? "
" Waduh buk, maaf nih sebelumnya, sepertinya tidak bisa. Habis lebaran aku nggak balik kesini lagi buk, "
" Nanti mbaknya minta bayaran berapa aku kasih lah mbak. Asal mbak mau ngajarin anakku."
" Bukan masalah bayarannya buk. Memang nanti saya sudah tidak balik kesini lagi buk. "
" Balik aja ngapa mbak? sayang banget lho mbak, kalau mbak bisa ngajar kan lumayan."
" Ada hal yang membuat saya sudah nggak bisa balik kesini lagi buk. "
" Oh ya sudah, kalau gitu. "
Aku membayar pulsa lalu menyusul abang yang masih menungguku.
" Udah bang, ayok pulang. "
" Ayok, nggak ada yang mau adek beli lagi?"
" Nggak bang."
" Ya sudah naik, pegangan biar nggak jatuh."
" Iya bang. "
" Tadi ngobrol apa sama ibuk nya itu dek? "
" Kenapa memang bang? lama ya? "
" Nggak juga sih dek. "
" Itu bang, anaknya minta di ajarin kaya bang Rafid. Dia mau bayar lho berapapun yang aku minta."
" Terus? "
" Ya terus aku nggak bisa bang. Habis lebaran aku nggak balik kesini."
" Adek bakal nggak balik lagi? kok nggak ada cerita sama abang? " Tanya abang, yang aku yakin pasti dia kaget dan kecewa.
" Ya belum cerita aja bang, nunggu waktu yang pas."
" Kapan itu dek, saat adek sudah di kampung?"
" Maaf bang, aku memang mau bilang tapi nunggu waktu yang pas. "
__ADS_1
Abang hanya diam, tidak membalas obrolanku. Hingga sampai dirumah pun abang masih diam. Aku tau pasti abang marah.
Maaf aku tidak bermaksud menyakitimu bang. Jujur aku belum bisa sepenuhnya mencintai abang. Bukan maksudku juga mempermainkan hati abang. Aku nyaman sama abang, sehingga rasa itu membuat apa yang kita lakukan sudah melanggar batasan. Tapi anehnya itu membuatku ketagihan. Apa yang kita lakukan ini salah bang. Aku takut, bahwa tanpa sadar aku menjadikanmu pelampiasan. Karena tanpa rasa cinta, ternyata aku bisa memberikan sebagian diriku padamu. Aku rasa itu hanya kesenangan semata yang mampu mengalihkan pikiran ku yang sering kali masih tertuju padanya. Jika nafsu ini aku teruskan kurasa aku akan menghancurkan diriku dan dirimu bang. Karena tidak ada dari kita yang akan mampu menghentikannya. Jika tidak aku hentikan dari sekarang, aku takut akan menyakitimu.