Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Season 2 ~ Undangan


__ADS_3

Hari ini, Loli libur dan aku masuk kerja sendiri. Memang terasa sepi kalau Loli nggak ada, nggak ada teman ngobrol.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


" Hay apa kabar?" tanya Isnan kepadaku.


" Baik, alhamdulillah. Kamu sendiri gimana?"


" Baik juga. Oh iya bu Lidya belum datang?"


" Belum, aku nggak tau sih dia nanti kesini apa nggak, ada perlu apa?"


" Mau mengantar undangan pernikahan kakak ku."


" Owh bu Lidya nya nggak ada,"


" Ya sudah nanti aku balik lagi aja. Kabarin kalau bu Lidya nya sudah datang."


" Oke."


Tuh anak kenapa ya? langsung pergi gitu aja, nggak pamit nggak salam. Lagian aneh, cuma mau ngasih undangan saja kan? kan bisa di titipin ke aku, kenapa nanti mesti kesini lagi? kan bolak balik jadinya, belum tentu juga bu Lidya nya kesini. Aneh banget tuh orang hari ini.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam eh ibuk."


" Iya, apa kabar Yu?"


" Alhamdulillah sehat buk."


" Loli lagi libur ya?"


" Iya buk, oh iya tadi ada pak Isnan kesini mencari ibuk. Katanya mau memberikan undangan secara langsung ke ibuk."


" Terus?"


" Suruh ngabarin dia kalau ibuk sudah dateng."


" Ah tuh anak pasti cari alasan biar bisa ketemu sama kamu."


" Ya enggak lah buk."


" Dia suka tuh sama kamu."


" Saya sudah bersuami buk."


" Iya sayang nya itu, padahal dia baik, cakep juga orangnya, tajir lagi."


" Belum jodoh buk."


" Ya udah nanti kalau kesini terima saja undangan nya."


" Tapi buk?"


" Mamanya dia udah telpon ibuk, mamanya mengundang kita semua untuk menghadiri pesta pernikahannya."


" Baik buk. Ini ibuk sudah mau buru - buru balik?"


" Iya ibuk tadi habis belanja cuma mampir mau ngasih makanan ini buat kamu, sama mau ngasih tau, mbaknya yang jaga malam izin libur, kamu hari ini bisa lembur nggak?"


" Bisa kok buk."


" Bagus kalau begitu, tenang saja uang lemburnya ada kok, kalau kamu takut kamu bisa menyuruh Loli untuk menemani kamu."

__ADS_1


" Baik buk, terimakasih makanannya."


" Sama - sama, ibuk pamit dulu ya?"


" Iya buk hati - hati dijalan."


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Setelah bu Lidya pergi, Isnan baru datang.


" Bu Lidya nggak kesini?"


" Kesini tadi, tapi sudah pulang."


" Yah, telat dong."


" Jadi ngasih undangannya nggak?"


" Jadi lah, nih aku titipin ke kamu aja."


" Kenapa nggak dari tadi aja!"


" Kamu kenapa sih hari ini kok sensi banget sama aku?"


" Oh masak? perasaan mu aja kali?"


" Nggak lah, orang kamu nggak seperti biasanya, lagi datang bulan ya?"


" Nggak, udah selesai kemarin."


" Tapi kenapa sensinya masih ya?"


" Tau. Oh iya jangan kirim kanan terus ya, aku jadi nggak enak sama kamu, aku masih bisa beli makanan sendiri."


" Tapi jangan tiap hari."


" Kenapa? takut aku bangkrut ya? tenang saja uangku nggak akan habis hanya untuk membelikan mu makanan."


" Songong, mentang - mentang tajir."


" Lah memang kenyataanya begitu kan?"


" Iya, iya. Aku tau kamu pasti sakit hati banget ya sama aku?"


" Nggak tuh, kenapa malah jadi ngomong begini?"


" Maaf ya, tapi bisa nggak kamu nggak usah ketempat itu lagi?"


" Tempat apa?" tanya Isnan.


" Waktu aku jalan sama Loli di taman, aku lihat kamu peluk - peluk kan sama cewek cantik, terus aku ikutin kamu."


" Owh."


" Jangan gara - gara sakit hati kamu, kamu melampiaskan nya begitu, aku memang nggak berhak ikut campur, tapi aku juga nggak ingin kamu merusak dirimu. Kamu kan nggak tau dia punya penyakit menular apa nggak? apa lagi kalau kamu nggak pakai pengaman."


Isnan menyentil kening ku.


" Aw sakit bambang."


" Biar pikiranmu nggak mesum banget. Aku nggak mungkin berbuat sejauh itu lah Yu, aku tau batasan. Itu hanya untuk bersenang - senang saja, bukan karena kamu, tapi memang karena aku penat bekerja dan butuh hiburan."


" Tapi nggak ketempat yang seperti itu juga kali Is."

__ADS_1


" Ya di sana aku bisa peluk kanan kiri, cantik - cantik mulus."


"Tuh kan, kamu juga mesum."


" Bercanda yu, bercanda. Menurutku tempat itu yang bisa membuatku menjadi diri sendiri, melepas kan stress karena mikirin masalah kerjaan."


" Tapi itu bukan tempat yang tepat mas, bukan tempat yang baik."


" Memang iya sih."


" Mbak Ayu!! Eh ada pak Isnan. Sudah lama pak?" sapa Loli yang baru datang, aku memang mengirim pesan ke Loli untuk menemani ku lembur hari ini, dan untungnya dia bersedia.


" Sudah dari pagi. Terus kenapa kamu baru datang sekarang?"


" Loli hari ini libur, tapi mbak Ayu bilang suruh nemenin dia lembur."


" Kamu lembur sampai malam?" tanya Isnan ke pada ku.


" Iya."


" Jangan terlalu sering lembur, nanti kamu sakit."


" Nggak kok, baru kali ini."


" Ya udah aku pamit dulu ya."


" Eh sudah mau pulang pak? nggak nanti saja?" tanya Loli.


" Nggak Lol, ini ada urusan penting. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


" Lol makan yuk tadi bu Lidya bawain makanan."


" Dengan senang hati, eh mbak sudah ngabarin suami mbak belum kalau mau lembur?"


" Astaga aku sampai lupa."


" Keasikan ngobrol sama Isnan ya mbak?"


" Iya Lol, hehehe."


" Hati - hati loh, cinta bisa datang karena terbiasa mbak."


" Iya."


Aku memang sudah tertarik dengan Isnan, aku tidak memungkirinya, rasa itu sudah mulai ada. Aku tau ini tidak benar sebisa mungkin aku akan menekan rasa ini agar tidak tumbuh, aku kira selama ini aku hanya mengaguminya, tapi ketika melihat dia dengan orang lain, terbesit rasa cemburu di hati ku. Aku tidak ingin menyakiti mas Nirwan suamiku. Aku tau batasan, sekarang ini aku adalah seorang istri, dan mempunyai perasaan sama pria lain itu tidak baik.


" Tapi wanita mana yang nggak akan jatuh cinta sama pesonanya ya mbak? udah ganteng, tajir lagi."


" Ya udah pepet saja kalau gitu."


" Nggak lah mbak, aku kan sudah punya Adi, aku tipe orang yang setia tau mbak. Tapi nggak tau sih kalau dulu aku ketemunya sama pak Isnan dulu pasti ya kepincut sama dia, hahaha."


" Belum tentu dia mau sama kamu."


" Iya juga ya mbak, secara dia kasta dia kan jauh di atas kita."


" Iya pasti, standar jodoh dari keluarganya juga tinggi, setidaknya yang kastanya selevel sama dia."


" Benar juga ya mbak, apalah daya kita ini yang hanya remahan biskuit di rumahnya."


" Hahaha, bisa aja kamu. Kamu udah bilang sama Adi kan kalau mau lembur?"


" Udah dong mbak, tadi yang mengantar kesini kan dia."

__ADS_1


" Duh aku jadi iri, jadi pengen di antar jemput juga, hahaha. Ya udah aku telpon suamiku dulu ya?"


" Iya mbak."


__ADS_2