Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 28


__ADS_3

  Desi si teman baru


 


Sambil berjalan dengan tergesa - gesa. Aku mencari keberadaan ibuk untuk berpamitan berangkat sekolah. Karena takut telat, pasti cak Rudi juga sudah menungguku.


" Buk, ibuk, aku mau berangkat." Aku berjalan keluar rumah sambil berteriak mencari keberadaan ibuk.


" Iya. Ibuk di samping rumah. "


" Oh, iya udah Ayu berangkat ya buk. Hei jagoan mbak berangkat dulu ya, jangan nakal, nggak boleh rewel ya kasian ibuk. Tunggu aku pulang nanti kita main lagi." Kataku ke adek sambil kucium - cium pipi gembilnya adek yang lagi di gendong ibuk.


" Sudah pamit bapak nduk ? "


" Sudah dong buk. Ayu berangkat ya? assalamu'alaikum," pamit ku sambil ku mencium tangan ibuk.


" Waalaikumsalam, iya hati - hati nduk. Langsung pulang jangan mampir - mampir. "


" Iya buk."


Sama seperti dulu. Disini pun berangkat sekolah hanya berjalan kaki. Bedanya disini sekolahannya jauh banget. Aku berjalan menuju rumah bude dulu, tempat cacak Rudi. Biasanya memang kita berangkat bareng. Bareng sama beberapa temen yang juga satu sekolahan tapi beda kelas. Dan salah satu dari mereka menjadi sahabat terbaik aku. Aku biasa memanggilnya Tia.


Kebiasaan ku saat sampai di tempat cacak adalah ngomel.Karena kadang cacak belum siap padahal hari sudah semakin siang.


" Cak dari tadi ngapain aja sih? ini udah siang. Sudah ditunggu yang lain juga. Nggak usah dandan deh, lama. Aku yang cewek aja nggak dandan. Makanya kalau bangun jangan siang - siang." Omel ku.


" Ih nggak capek apa nduk, tiap samapi disini ngomel mulu. Sudah kaya emak - emak tau nggak? suruh siapa nggak dandan? makanya dandan biar cantik. "


" Ya makanya sekali - kali kalau aku nyampe sini cacak sudah siap tinggal berangkat. Orang diomelin tiap hari juga sama aja nggak ada perubahan. Oh iya aku mau sekolah cak, mau belajar. Bukan mau ke kontes kecantikan. Disekolah yang dinilai itu sikap, kerapihan dan nilai ulangannya. Bukan seberapa cantik dan tebal bedak atau lipstiknya. Yang bikin lulus itu nilai, bukan siapa yang paling cantik dan pandai bersolek. yang penting kan penampilan ku rapi, nggak acak - acakan. Tanpa dandan pun aku udah cantik yes, "


" Dihh PD nya. Setidaknya dandan dikit gitu. "


" Males. Besok kalau sudah waktunya dandan ya dandan. Sekarang belum minat. Iya udah yok berangkat, ini udah siang !"


" Iya - iya bawel banget sih."


Benar saja si Tia sudah menunggu kita di depan rumahnya.


" Aku kira kalian nggak berangkat," kata Tia.


" Berangkat lah Ya, cak Rudi nya yang kelamaan. Dia nih yang bikin kita berangkatnya kesiangan mulu."

__ADS_1


" Iya maaf. " Kata cak Rudi.


" Berangkat yuk sudah siang. Kayaknya kita jalannya harus sedikit ngebut, kalau jalan santai kaya biasanya kita bisa telat."


" Ngebut - ngebut lah. Dari pada telat." Kataku sambil tertunduk lesu. Sudah bisa aku bayangkan bagaimana lelahnya nanti.


Sesampainya disekolah, untung tidak telat. Tapi ya lagi duduk istirahat sebentar bel masuk sudah berbunyi. Itu membuat ku kesal dengan cacak. Yah walaupun dia sering membuat ku kesal, tapi dia baik pada ku. Dia sangat menyayangi aku. Bersamanya aku bisa merasakan punya kakak Laki - laki.


Saat jam istirahat cacak menghampiri ku yang masih duduk manis di kursi sambil merapikan buku.


" Nduk, jajan yok."


" Bentar dulu. Cacak duluan aja. Tunggu di dekat kantin, nanti aku nyusul. "


" Ya sudah aku duluan. Temen ku juga udah pada nunggu di sana. "


" Ayu, ke kantin yuk!" ajak Desi gantian.


Desi orang pertama yang mau dekat dan berteman dengan ku.


" Oke, nih juga udah selesai beresin bukunya. Cacak juga pasti udah nungguin."


" Hayy, ehh cewek sok lugu kampungan. Jangan sok manis deh biar disukai para guru. Kelihatan banget tau kalau lagi cari perhatian. Cantik juga nggak sok belagu banget. Nggak usah sok cari muka deh di depan guru." kata Mila yang sedang lewat di samping ku.


" Eh Mila si Nenek lampir. Lo punya masalah apa sih sama Ayu. Cari gara - gara mulu deh. Nggak ada capek - capeknya apa? lagian Ayu disukai guru karena dia pinter, baik. Bukan karena sok cantik, kayak Lo. Kamu iri pengen juga disayang guru? makanya belajar jangan belagunya yang digede - gedein." Jawab Desi yang membela ku.


" Belain aja terus. Ohh iya ya, siapa juga yang ngiri sama situ, nggak banget deh. Kampungan itu cocok nya memang sama kampungan dasar sampah! Jijik banget ihh."


" Lo, " aku menarik tangan Desi yang ingin membalas perkataan Mila. Itu membuat Desi tidak menyelesaikan kata - kata nya.


" Sudah Des, jangan di ladenin. Biarin aja dia mau ngomong apa. Nggak usah diladeni nanti malah tidak ada habisnya."


" Lagian lo terima aja dikata - katain terus begitu. Lawan geh jangan diem aja. "


" Aku hanya ingin sekolah dengan tenang Des. Malas cari musuh. Jujur sebenarnya aku nggak nyaman. Tapi ya sudah lah, bisa aja aku balas, tapi aku malas. Kalau semakin dilawan nanti malah akan semakin menjadi - jadi.Selagi dia nggak keterlaluan aku akan biarin dia. Toh nanti juga dia akan capek sendiri."


" Ya udah terserah lo aja deh. Ntah kamu itu terlalu baik atau bodoh. Heran deh sama kamu. Tahan aja gitu dikata - katain. "


" Ya udah yok ke kantin aja cari makan. Aku sudah lapar. Pasti cacak juga udah nungguin. "


" Kok dia nggak nungguin kamu?"

__ADS_1


" Tadi memang aku suruh duluan. Dia juga sama teman - temannya, nggak enak lah kalau disuruh nunggu."


" Dasar cowok, tau adek nya ditindas gitu malah nggak nolongin."


" Biarin lah Des. Aku juga nggak papa kan."


" Tapi setidaknya dia bisa belain kamu. Oh iya kamu nggak tertarik nyari pacar disini? apa cowok di Jawa lebih ganteng dari pada disini? "


" Sama aja Des. Nggak tertarik nyari pacar."


" Kalau seandainya ada yang mau gimana? "


" Nggak tau. Hehehe. Kemarin ada nomor baru yang mau kenalan. Tapi aku cuekin awalnya."


" Serius? siapa? "


" Namanya Randi.Dia adik kelas. "


" Sudah jadian? "


" Ya nggak lah Des."


" Emang kenapa, Apa kamu nggak suka sama dia? "


" Nggak, kita cuma temen kok. Takutnya hanya orang iseng yang mau ngerjain aku aja, beberapa kali dia nembak tapi aku cuekin."


" Nggak ada salahnya diterima. Kan bagus kalau kamu punya pacar disini Yu. Apa jangan - jangan kamu sudah punya pacar ya?"


" Memang sudah. Makanya ada hati yang harus aku jaga."


" Orang sana ya? "


" Iya."


" Kan jauh yu. Kamu memang bisa berhubungan jarak jauh?"


" Nggak tau juga des. Aku sendiri nggak yakin bisa. Sekarang aja aku malah sering tukar pesan sama Randi."


" Makanya cobalah itu si nomor baru. Tanya - tanya dulu. Kalau cocok jadi ban serep kan lumayan. Hahahah."


" Mobil kali ah, pake ban serep segala. Kamu ini malah ngajarin nggak bener."

__ADS_1


" Bercanda Yu. Hehehe"


Kami ngobrol sambil berjalan menuju ketempat cacak berada.


__ADS_2