
" Nggak papa, ya udah aku ke belakang dulu cuci kaki, kalian lanjutin aja, kasian tuh yang udah pada nunggu."
" Tapi kaki mu gimana?" tanya Adi yang nampaknya juga khawatir.
" Nggak papa tenang aja, nggak sakit, aku cuci kaki dulu nanti aku bantuin lagi."
Memang saat minyak itu mengguyur kaki ku, nggak terlalu sakit, panas sih, tapi karena di pakai kerja jadi nggak dibawa rasa.
Aku berlari kecil kebelakang dan mengguyur kaki ku dengan Air.
Setelah ku rasa cukup, aku balik lagi ke depan untuk membantu mas Nirwan.
" Kamu istirahat saja sek." Kata mas Nirwan.
" Udah nggak papa kok."
Karena memang pengunjungnya sangat ramai, aku pun membantunya sampai warung tutup. Berulang kali mas Nirwan dan Adi memintaku untuk istirahat, tapi melihat yang makan disitu sangat ramai, nggak enak kalau aku nggak bantuin. Mas Nirwan sama Adi juga kelihatan pontang panting.
" Sudah sek kamu istirahat saja, biar aku sama Adi yang beresin."
" Tapi,"
" Dek, nurut kenapa sih, bandel banget dibilangin. Kalau aku bilang istirahat ya istirahat! Aku capek, jangan bikin aku tambah capek karena kamu nggak bisa dibilangin!"
Jujur aku juga capek banget, kaki ku juga pegal, apa lagi yang terkena minyak tadi juga terasa panas.
Dibentak mas Nirwan itu membuatku sedikit sakit hati, malu juga karena di bentaknya di depan Adi.
Aku juga capek mas, capekk banget kaki ku juga sakit. Aku bantuin karena aku nggak tega lihat kalian pontang panting kerepotan.
Tega banget sih bentak - bentak kaya gitu.
Air mata ku menetes dan aku segera berlari kebelakang, aku langsung membersihkan diri dan istirahat.
Mas Nirwan masih beres - beres di depan.
Yah ini pertama kalinya aku bekerja di warung, jarang duduk, mondar mandir. Itu membuat kaki ku sangat pegal, dan yang kesiram minyak juga terasa panas, perih, sakit banget.
Ini kaki kok sakit banget yah, padahal tadi aja nggak sesakit ini.
Aku nggak bisa tidur padahal ini sudah tengah malam, kaki ku yang sakit membuatku nggak bisa tidur.
Mas Nirwan masuk ke kamar, membawa obat.
__ADS_1
Sepertinya dia sudah selesai beres - beres, dan dia juga sudah wangi. Aku suka banget sama wanginya mas Nirwan, wanginya itu tidak menyengat, kalem dan menangkan.
" Sek."
Aku diam saja, aku pura - pura tidur, karena memang aku lagi sebel banget sama dia. Aku lagi marah sama dia.
" Sek, aku tau kamu marah. Maaf bukanya aku ngebentak kamu, tapi aku nggak tega melihat kamu kecapekan apa lagi kaki kamu juga tadi kesiram minyak panas. Aku cuma nggak mau kamu kenapa - kenapa."
Aku sebenarnya juga tau, mas Nirwan capek, ditambah dengan mengkhawatirkan aku, dan akunya dibilangin nggak nurut.
Tapi tetap saja aku nggak suka di bentak. Apa lagi aku juga lagi capek, berasa kaya nggak dihargai. Jujur aku kalau lagi capek mudah nangis.
" Sek, udah dong marahnya."
Air mata ku nggak bisa aku tahan, dan aku pun nangis.
Mas Nirwan berbaring di belakang ku, dan memeluk ku dari belakang.
" Loh kok nangis, marah banget ya, maafin aku sek, udah ya jangan nangis."
" Mas aku juga capek, capek banget, kaki ku juga sakit, aku butuh perhatian, tapi kamu malah marah - marah, aku cuma mau bantuin kamu. Bisa kan bilanginya pelan saja nggak usah pake bentak. Aku nggak suka, hiks, hiks."
" Iya, iya janji. Ini yang terakhir sek, besok mas akan berusaha kontrol emosi lagi. Ya udah sini lihat kakinya, biar aku obatin."
Dalam tidur ku aku bermimpi, bertemu dengan mas Afif.
Dalam mimpi itu, aku jalan berdua dengan dia, bergandengan tangan saling menatap penuh cinta, yah cinta yang sama saat aku masih bersamanya dulu. Aku begitu bahagia jalan bareng dengan dia, jalan sebagai seorang kekasih yang saling mencintai.
Lalu aku terbangun. Aku menangis disaat itu juga.
Mas aku senang, akhirnya aku bisa bertemu dengan mu setelah sekian lama, meskipun itu hanya dalam mimpi.
Itu bisa mengobati sedikit rasa rinduku.
Aku nggak tau kenapa bisa bermimpi tentang mu, ini membuatku kembali teringat dengan dirimu mas.
Kamu dimana sekarang, kamu apa kabar? aku harap kamu selalu baik - baik saja.
Aku malu untuk bertemu dengan mu lagi, dengan statusku yang sekarang.
Jujur kamu masih ada tempat di hatiku, dan sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa mengantikan kamu di hati ku mas.
Kamu yang mencintaiku dengan cara yang luar biasa. Benar - benar menghormati ku sebagai wanita. Kamu tidak menjadikan ku sebagai pemuas nafsumu, kamu mampu menekan rasa itu saat bersamaku. Saat bersamamu, aku benar - benar merasa berharga sebagai wanita. Aku marasa sangat dihargai dan dicintai.
__ADS_1
Andai dulu aku tidak membuat kesalahan apa kah kita masih bisa bersama mas.
Lihatlah aku tanpa mu, hancur tak tentu arah.
Aku merindukan mu mas, meski saat ini aku sudah tidak sendiri.
Aku masih mencintaimu, meskipun saat ini aku sudah bisa membuka dan menerima cinta pria lain.
Aku hanya bisa memendam rasa ini, karena aku tau kita sudah tidak mungkin untuk bersama.
Kamu mungkin sudah tidak ada rasa lagi untuk ku.
Dan aku pun, sudah kotor tak pantas lagi untuk orang sebaik kamu.
Kamu berhak mendapat orang yang baik mas, tidak seperti ku.
Aku akan selalu mencintai dan merindukan mu.
Dimana pun kamu berada, aku harap kamu selalu baik - baik saja.
Memang mas Afif mempunyai tempat tersendiri untuk ku.
Mas Nirwan juga yang saat ini bersama ku, aku juga mencintainya, sangat mencintainya, dia juga punya tempat tersendiri di hatiku. Mereka sama mempunyai tempat tersendiri di hatiku, tapi aku mencintainya dengan cara yang berbeda.
Mereka laki - laki yang sangat berarti dalam hidupku.
Aku tidak menduakan mas Nirwan, tidak.
Kerena dia pacar satu - satunya yang ingin ku jadikan imam seumur hidup ku. Ayah dari anak - anak ku. Teman hidup ku yang jika tuhan mengizinkan aku ingin bersamanya sampai maut yang memisahkan.
Mas Afif. Cinta masa laluku, waktu yang ku lalui bersamanya membuat namanya terukir indah dalam hatiku. Cintanya yang setia menemaniku keluar dari masa terberat ku, membuat cintaku bersemayam dalam hatiku.
Aku mencintainya dalam diam, cinta yang tak mungkin bersemi dan berbunga. Cinta yang bersemayam ini selamanya akan tetap begini. Tidak akan terlupa, tapi juga tidak akan berbunga. Tidak akan berjalan dan hanya akan tetap diam. Meskipun tidak ada balasan, itu tidak mengundang kesedihan. Tidak saling mengasihi dan juga tidak menyakiti.
Sedangkan cinta ku untuk mas Nirwan itu akan terus tumbuh, bersemi dan berbunga.
Ada saatnya nanti aku akan di buat kecewa dan sakit hati karenanya.
Cintanya juga akan memberi ku kebahagiaan dan kesedihan.
Cinta kita masih akan terus berjalan dan penuh warna. Penuh dengan liku, tanjakan dan turunan.
Karena cinta ku untuknya itu hidup.
__ADS_1