Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 59


__ADS_3

Rencana mbak Yani


Setelah kejadian menyakitkan waktu itu, aku melampiaskan rasa kecewaku dengan menyibukkan diri dan fokus bekerja. Agar aku bisa mengalihkan pikiranku dari hal itu. Aku tidak mau terus menerus berlarut - larut tenggelam dalam kesedihan dan rasa sakit.


Aku ingin segera bisa bangkit dan menata kembali hati ku seperti sebelumnya.


Hidup ku masih harus terus berlanjut, masih harus berjuang lagi untuk diri sendiri dan orang - orang yang aku sayangi.


Hidup ku, bahagia ku, tidak akan terhenti hanya karena aku sudah tidak bersama dengan dirinya lagi.


Tanpa dirinya hidup ini masih terus berjalan, tanpa dirinya aku juga bisa bahagia. Hidupku bukan semata - mata hanya untuk dirinya. Ada banyak orang yang masih harus aku bahagiakan.


Mungkin kamu memang pacar pertamaku, orang kedua yang mengajari aku tentang cinta setelah kedua orang tuaku.


Kamu memang orang yang memberi warna dan memberikan cinta yang belum pernah aku mengerti sebelumnya.


Aku memang sangat menyayangi dan mencintaimu.


Tanpamu memang bukan hal yang mudah.


Tak bisa aku pungkiri, nyatanya saat kau mengabaikan ku, itu membuatku sakit hati.


Tapi tujuan hidupku tidak semata - mata hanya ingin mengejar kembali cinta dan bersama mu.


Awalnya mungkin sangat sulit melupakan dan melepas mu, tapi dengan berjalannya waktu aku pasti bisa melakukan itu.


Tujuan hidupku bukan hanya kamu, tapi masih banyak yang membutuhkan ku. Masih banyak pula menyayangi ku.


Aku pasti akan segera bangkit dan menjalani hidupku kembali. Meski kali ini tanpamu, aku pasti bisa.


Begitulah cara ku untuk terus mensugesti dan menyemangati diriku agar aku tidak tenggelam dalam kesedihan.


Agar bisa cepat bangkit dan menerima kenyataan.


***


Aku pulang mengunjungi mbah sebulan sekali, itupun hanya sebentar, kalau terlalu lama dirumah aku akan teringat dirinya lagi. Aku masih terlalu takut untuk untuk menghadapinya. Aku takut akan rasa sakit, saat kenangan itu terulang di ingatan ku bila aku pulang ke rumah ku dan melihat setiap sudut saksi bisu kebersamaan ku.


Yah rumahku memang penuh kenangan dengan dirinya, itulah kenapa aku nggak betah dirumah.


Aku lebih memilih bekerja, walaupun terkadang aku merasa sangat kelelahan.

__ADS_1


***


Saat menjelang tidur aku sesekali menyempatkan untuk menelpon mbak Yani. Mbak Yani juga selalu menanyakan keadaan ku dia selalu mengkhawatirkan aku, selama aku disini dialah yang selalu memantau dan memastikan bahwa aku baik - baik saja. Dia benar - benar berperan sebagai kakak yang sangat bertanggung jawab dan sudah aku anggap sebagi ibu keduaku. Sikap nya yang dewasa serta penuh kasih sayang membuatku nyaman dan senang berada di sampingnya.


" Assalamualaikum mbak."


" Waalaikum salam Yu,"


" Lagi apa mbak?"


" Baru pulang ngampus. Ada apa?"


" Nggak ada apa - apa mbak, cuma lama nggak ngobrol aja."


" Kirain nggak betah, terus minta dijemput."


" Ya nggak lah mbak, cari kerja nggak segampang itu. Walaupun disini kerjaannya melelahkan tapi aku menikmatinya."


" Ingat kalau nggak betah jangan dipaksa, nanti malah sakit."


" Iya mbak iya, aku sampai hafal kata - kata itu."


" Oh iya Yu besok aku mau pulang, mau ikut pulang nggak? kamu bulan ini belum pulang kan?"


" Yah udah berbulan - bulan juga belum move on ternyata, ayolah jangan lari terus kaya gini, kamu nggak akan maju kalau kamu lari terus. Semakin kamu lari, semakin kamu nggak akan bisa move on. Hadapin itu rasa sakit. Terus mau sampai kapan kamu nggak pulang? itu rumahmu lho, kelak kamu yang akan tinggal di sana, kalau kamu gini terus gimana? kamu mau tinggal dimana kalau tinggal dirumah mu itu kamu nggak betah?"


" Iya juga ya mbak,"


" Makanya sudah saat nya kamu hadapin, jangan lari terus kaya gini. Sudah saatnya kamu buka hati Yu. Gimana kalau besok pas pulang kita jalan - jalan. Wisata kuliner gitu, kan kamu seneng banget jajan sama makan, kali aja bisa bikin perasaan kamu membaik."


" Ide bagus tuh mbak, selama nyampe disini juga belum pernah jalan - jalan kan."


" Ya jangan hanya kerja terus, sekali-kali kan jalan-jalan malam sambil kulineran biar pikiran juga fresh. Kerja terus bikin stres Yu, hahahaha."


" Hahaha rupanya bisa stres kerja juga ya mbak Yani, aku kira mbak Yani tipe orang yang gila Kerja?"


" Ya bisa lah, aku nggak segitunya gila kerja ya. apa bedanya aku sama kamu coba. Kita sama-sama manusia kali Yu. Banyak kerjaan juga bisa pusing, apa lagi mikirin soal kuliah, banyak tugas."


" Belum lagi mikirin mas pacar ya mbak, hahaha."


" Tenang kalau itu nggak bakalan bikin pusing, dia cukup pengertian kok."

__ADS_1


" Ih bikin iri aja, oh iya besok mbak nggak sama pacar?"


" Nggak lah, sama kamu saja."


Memang mbak Yani nggak pernah membicarakan soal asmaranya di depan ku. Mungkin dia juga menjaga perasaan ku. Tidak mau membahas hal bahagianya saat aku sedang seperti ini.


" Oke besok aku tunggu ya mbak. Jam berapa mbak mau jemput nya?"


" Pagi aja Yu. Kamu udah nggak ngajar kan? kalau sampai dirumah masih pagi bisa istirahat dulu seharian dirumah."


" Iya ngumpulin tenaga buat makan banyak. Hahaha, kayaknya besok tinggal beberapa anak kelas 5 - 6 aja mbak, itu udah buk Ririn yang pegang mbak."


" Makan nggak butuh tenaga sebesar itu kali yu. Kan capek kalau kita dari sini terus langsung mau kulineran."


" Oke lah aku ngikut mbak Yani aja. Aku ikut kemana saja mau kau bawa."


" Kok kesannya aku kaya lagi mau jalan sama pacar saja. Hahahaha"


" Iya ya, tapi nggak juga lah. Jalan sama adek tercinta bukan hal buruk juga kok. Hehehe."


" Ya sudah besok aku jemput, harus udah siap biar bisa langsung pulang. Aku malas nunggu lama - lama."


" Iya mbak, ya udah sampai jumpa besok. Assalamualaikum"


" Iya waalaikumsalam."


Setelah mematikan panggilan, aku langsung meminta ijin bu Ririn akan pulang besok pagi.


Pagi harinya, setelah mbak Yani menjemput ku kita pun langsung bergegas pulang.


" Mbak nggak mampir dulu?"


" Nggak Yu. Nanti malam aja aku kesini."


" Oke aku tunggu."


" Ya udah, aku pulang ya."


" Iya hati - hati dijalan ya."


Setelah sampai dirumah aku segera beristirahat.

__ADS_1


Aku memang harus bisa mengatasi rasa sakit ini, aku nggak bisa menghindar terus. Meskipun rumah ini banyak kenangan dirinya dan itu membuatku merindukannya itu menyakitkan, aku harus bisa melaluinya. Aku harus terbiasa dan berteman dengan rasa sakit itu. Dengan begitu kenangan tentang dirinya tidak akan membuatku terganggu.


__ADS_2