Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Season 2 ~ Sakit


__ADS_3

" Oh iya, kamu beneran nggak papa kan?"


" Iya kok, aku nggak papa."


" Tapi kamu pucat banget."


" Biasa kok, mungkin karena aku nggak pake make up."


" Seriusan nih nggak papa? aku antar ke dokter ya?"


" Nggak usah Is, terimakasih, aku beneran nggak papa."


" Ya udah kalau gitu, aku mau balik dulu, kabarin ya kalau ada apa - apa, duh kamu ini bikin khawatir saja."


" Hehehe, hati - hati dijalan."


" Terimakasih untuk sarannya."


" Sama - sama, aku seneng kalau kamu mau cerita."


" Ya udah aku pamit dulu, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Setelah berbincang lama dengan Isnan, sakit di perutku tak kunjung mereda.


Ya Allah ini perutku kenapa ya? kenapa nggak mereda sakitnya. Apa aku coba periksa ke klinik saja ya?


" Lol, aku ke klinik dulu ya?"


" Masih sakit ya mbak?"


" Iya, sakitnya nggak mereda Lol. Aku jadi takut kalau sakit apa gitu."


" Jangan gitu lah mbak, semoga hanya sakit perut biasa saja mbak."


" Iya Lol."


" Mau ditemenin nggak mbak, nanti kita tutup sebentar butiknya."


" Nggak usah Lol, lagian kliniknya kan hanya disebelah."


" Ya udah kalau gitu, langsung telpon Loli kalau mbak mau ditemenin ya?"


" Iya Lol, aku pergi dulu ya?"


" Iya mbak."


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Sesampainya di klinik, aku langsung menuju pendaftaran, untungnya sepi, jadi tidak perlu mengantri.


Setelah mendaftar aku langsung di panggil masuk untuk di periksa.


Ada ibu dokter cantik yang sudah menungguku di dalam, menyapa ku dengan senyum ramahnya.


" Dengan mbak Ayu ya?"


" Iya buk."


" Keluhannya apa mbak?"


" Sakit perut di bagian kiri bawah buk."


" Baik lah, mari berbaring di sana dan saya akan tensi sekalian."

__ADS_1


" Baik buk."


" Sudah berapa hari sakitnya?"


" Kalau nggak salah baru dua hari buk, dan telat datang bulan juga, apa karena itu ya buk?"


" Biasanya begitu nggak?"


" Iya kadang buk, soalnya menstruasi ku nggak teratur, kadang sebulan bisa nggak datang bulan sama sekali."


Karena keluhan ku itu, dokter cantik itu memijat perutku sambil mengangkat satu kaki ku.


" Ini seperti ada benjolan kecil mbak. Gini aja, ini saya kasih resep obat ini, kalau sampai tiga hari ke depan nggak datang bulan, coba mbak cek up ke rumah sakit ya, takut nya ini kista, kalau ke rumah sakit kan bisa lebih jelas dan bisa segera ditangani ?"


" Iya buk, terimakasih."


" Sama - sama mbak, semoga lekas sembuh ya?"


" Iya buk, mari saya permisi dulu."


" Iya."


Aku terkejut sekaligus takut, aku takut mengidap sakit yang serius, pikiran ku sudah kemana - kemana.


Keluar dari klinik itu, dengan lesu aku berjalan ke butik.


Ya Allah cobaan apa lagi ini? aku takut jika mengidap sakit yang serius, apa aku masih bisa punya anak nantinya, kalau aku sudah nggak bisa punya anak, pasti mas Nirwan akan meninggalkan aku, membayangkan mas Nirwan bersama wanita lain aja sakit banget, apa lagi kalau itu benar terjadi. Apa aku sanggup.


Air mata ku pun tak bisa ku bendung lagi, aku sangat takut jika benar - benar mengidap kista.


Aku nggak tau lagi harus gimana, karena sekarang ini yang aku rasakan hanya takut.


" Loh mbak? mbak kenapa?"


Loli menuntunku untuk duduk di sofa.


Tergambar jelas, kecemasan dan kebingungan di wajah Loli.


Lalu aku menceritakan semuanya kepada Loli.


" Gimana kalau ini beneran kista Lol, terus aku nggak bisa punya anak, suami ku pasti bakal ninggalin aku, aku nggak bisa kehilangan dia Lol, hiks."


" Mbak tenang dulu ya, semuanya pasti baik - baik saja, mbak juga pasti nggak kenapa - napa."


" Aku takut Lol, aku takut banget."


" Iya mbak aku tau."


" Em sekarang gini deh mbak, gimana kalau mbak coba testpack aja?"


" Ha?"


" Iya mbak coba beli testpack deh, mbak jangan dulu minum semua obat ini. Mbak coba testpack dulu, kalau hasil nya positif berarti benjolan itu mungkin janin, dan kalau hasil nya negatif berarti itu penyakit mbak."


" Iya ya Lol, kenapa aku malah nggak kepikiran begitu."


" Mungkin karena mbak memang belum yakin kalau hamil."


" Iya mungkin Lol, karena suami ku yang bilang pengen anak itu belum lama."


" Ya bisa saja kan mbak, kalau Tuhan sudah berkehendak. Tapi ya itu tadi mbak harus siap dengan segala kemungkinannya."


" Iya Lol, sepertinya memang aku harus mencobanya."


" Tapi mbak harus menyiapkan hati mbak yah?"


" Iya Lol."

__ADS_1


" Semoga ya mbak hasilnya memang positif."


" Aku nggak mau terlalu berharap Lol, aku takut kecewa."


" Aku doakan yang terbaik buat mu mbak."


" Terimakasih Lol. Oh iya bisa nggak kalau aku minta tolong?"


" Minta tolong apa mbak?"


" Beliin testpack nya ya Lol?"


" Buat mbak, apa sih yang nggak bisa. Ya udah Loli beliin sekarang ya mbak."


" Iya Lol, terimakasih ya."


" Iya mbak, sama - sama."


" Hati - hati dijalan ya Lol."


" Iya mbak Ayu."


Ya Allah mungkin aku tidak mau terlalu berharap karena aku takut kecewa, tapi kalau aku boleh meminta, semoga memang nanti hasilnya positif. Kalau hasilnya negatif aku nggak tau mesti gimana.


Aku menunggu Loli dengan tidak sabar, aku benar - benar ingin segera mengetes nya, agar hasilnya segera terlihat.


Ah aku lupa, sepertinya aku harus bersabar sampai besok pagi, karena menurut yang aku baca dan yang aku tau, testpack itu paling akurat kalau pagi hari saat bangun tidur.


Ahhh aku sudah nggak sabar banget nih.


Sekarang ini mungkin aku harus menyiapkan hati ku untuk segala kemungkinan terburuknya, agar aku tidak panik, bisa berfikir dengan tenang dalam mengambil tindakan, dan apa yang harus aku lakukan nantinya.


" Nih mbak, aku nggak tau sih yang mana yang bagus, jadi aku cuma pilih yang ini."


" Iya Lol nggak papa, toh juga fungsinya sama saja."


" Duh aku jadi nggak sabar mbak pengen tau hasilnya. Tes sekarang aja deh mbak."


" Nggak bisa Lol, katanya kalau agar hasilnya akurat ngetesnya harus pagi setelah bangun tidur."


" Duh, padahal aku udah nggak sabar banget."


Sama Lol, apa lagi aku, aku juga sudah deg - degannya dari sekarang.


" Besok deh, setelah suami ku kamu orang pertama yang aku kasih tau ya?"


" Benar ya mbak?"


" Iya Lol."


" Duh, aku benar - benar nggak sabar, pengen cepat malam, terus pagi."


" Kamu juga jangan berharap banyak ya Lol."


" Tapi nggak tau kenapa aku yakin banget kalau mbak itu pasti hamil."


" Masak sih?"


" Iya mbak."


***


Waktunya pulang pun sudah tiba.


Aku juga sudah nggak sabar pengen segera tau hasilnya.


Mungkin aku nggak usah cerita dulu deh sama mas Nirwan, nanti saja kalau sudah ada hasilnya aku akan cerita.

__ADS_1


__ADS_2