
Pertemuan terakhir
" Assalamualaikum, "
Setelah mendengar suaranya, aku segera bergegas berlari kecil ke depan untuk menyambut lelaki yang aku tunggu serta aku rindukan.
" Waalaikumsalam. Mari masuk mas, duduk dulu, bentar tak ambil minuman dulu. "
" Semangat banget si dek. Nanti - nanti kan bisa ngambil minumnya. "
" Kasian mas pasti haus habis jalan jauh. Capek banget kan? ini diminum dulu gih mas, "
" Iya dek makasih. Demi kamu dek, apa lagi kita bakal lama nggak ketemu, "
Deg!!! Seketika ada rasa nyeri luar biasa di dalam dada ku.
Kau mengingatkan aku bahwa aku akan segera pergi mas. Padahal tadi aku sempat lupa. Tapi memang tujuan ku meminta mu bertemu untuk pamitan.
Ya Allah kok nyesek banget gini ya, hiks.
Jadi nggak pengen pergi.
Dengan air mata yang sudah mengembun di ujung mata, sudah bersiap untuk terjun bebas.
Aku pegang pipi mas Afif, lalu ku hadapkan wajah mas Afif untuk menatap ku.
Ku raba alis, mata, hidung, lalu turun ke bibir. Ku pejamkan mata ku dan air mata ku pun tak mampu ku bendung lagi. Ku raba sekali lagi wajah mas Afif.
" Sudah tidak ada lagi mata indah yang akan memandang ku dengan penuh cinta. Tidak ada lagi senyum termanis untuk ku .Mas aku akan merindukan semua itu. Bisakah aku tanpa mu? " racau ku diiringi dengan isak tangis ku.
Kubuka mataku saat kurasakan tangan mas Afif menyentuh tangan ku, mencium telapak tangan ku, lalu mengusap dengan lembut air mata ku yang membasahi pipiku.
Bagaimana aku bisa pergi mas, siapa nanti yang akan memperlakukan ku dengan semanis ini. Rasanya berat banget mengambil keputusan ini. Meninggalkan mu, jauh darimu itu bukan hal yang mudah untuk ku lakukan.
Air mata ku mengalir semakin deras, tapi mas Afif malah tersenyum memandang ku.
" Pandang lah aku sesukamu dek, hingga kamu puas. Lukis lah diriku di mata ,angan mu lalu namaku di hatimu, saat ini aku pun melakukan hal yang sama. Makanya berhentilah menangis. Agar lukisan mu indah, dihiasi senyum bukan air mata. Agar di setiap aku memejamkan mata aku tetap bisa melihat ceria mu. Agar di angan ku selalu ada senyum indah mu. Di hati ku akan ku tambah kan dengan mengukir indah nama mu, supaya tidak tergantikan. "
" mas berharap agar aku tergantikan? "
" Tidak dek, tidak akan. Percayalah, hanya akan ada kamu."
" Boleh kah aku memeluk mu mas?"
__ADS_1
" Sudah kah kau selesai melukis ku dek? boleh kah aku lihat, setampan apa aku di lukisan mu , hehehe? " goda mas Afif.
" Mana bisa. Yang pasti kamu yang paling tampan, " jawab ku sambil tersenyum.
" Nah begitu dong. Kalau senyum kan cantik. Aku tidak rela kamu pergi jika kamu menangis seperti tadi. Kamu harusnya bahagia, kan sebentar lagi ketemu ibuk. "
" Iya iya. Ini jadi nya boleh peluk apa tidak? " tanya ku dengan kesal, wajah kesal ku berhasil membuatnya tersenyum.
" Boleh, dengan senang hati dek. Kenapa kamu manis banget sih dek kalo lagi kesal, bikin gemes aja. "
" Aku mau begini sebentar lagi ya mas, untuk yang terakhir kalinya." kata ku sambil ku memeluk mas Afif.
" Selama yang kamu mau dek. Tapi jangan bilang yang terakhir kali dek, kaya gak akan ketemu lagi."
Aku merasakan ini akan menjadi pelukan terakhir kita mas, aku merasa kita tidak akan seperti ini lagi. Betapa nyamannya pelukan mu mas. Siapa wanita yang beruntung, yang akan menyandang gelar istrimu kelak? pasti dia sangat bahagia. Bisa bersanding dengan lelaki seperti mu. Tapi kalau aku boleh egois, aku berharap wanita itu adalah aku.
Tangis ku kembali pecah di pelukannya. Lalu
mas Afif melonggarkan pelukannya.
" Sudah dek jangan nangis, nanti matamu sakit. Mas nggak suka liat kamu kaya gini. Mas kesini pengen liat cerianya adek. "
Aku hanya diam, masih dengan isak tangis ku.
" Mas terimakasih sudah hadir dalam hidup ku, Terimakasih sudah menemani aku disaat - saat tersulit ku. Memberi warna terindah di hari - hari ku. Tuhan begitu baik, menghadirkan kamu di hidup ku, membuat hidupku menjadi lebih indah. Maaf jika selama kamu mengenal aku, aku tanpa sengaja menyakitimu. Karena aku tidak akan pernah dengan sengaja menyakitimu. Maaf kalau aku belum bisa membuat mu bahagia. "
" Hadirnya kamu dalam hidupku adalah sebuah kebahagian dek. Terimakasih juga karena kamu telah mewarnai hari - hari ku dengan begitu indah. Iya tuhan baik karena mempertemukan kita, aku bahagia bisa menjadi bagian terindah di dalam hidupmu. Aku sangat bahagia karena adanya kamu."
" Aku pasti akan sangat merindukan mu mas. "
" Dan aku pun begitu dek. "
" Sudah ya nangis nya. nanti dikira aku ngapa - ngapain adek. Oh iya adek di sana harus pandai jaga diri ya? jaga hati ini untuk ku. Ingat disini ada aku yang akan selalu menanti mu. "
" Aku sendiri tidak yakin, apa aku bisa menjaga diri ku sendiri seperti kamu menjaga ku mas."
" Itulah yang aku takutkan dek. Tapi aku percaya doa ku yang akan selalu mengingatkan dan menjagamu di manapun kamu berada. "
" Apa mas bisa menjaga hati yang aku titipkan untuk mu ?"
" Pasti. Aku laki - laki setia, percayalah pada tuhan dek. Terus berdoa agar kita kelak masih dipertemukan dengan rasa yang masih sama seperti ini. "
" Aku akan selalu mengingatnya. Jaga diri baik - baik ya mas, jangan sampai sakit. Aku jauh gak bisa jenguk. "
__ADS_1
" Aku pasti akan sakit dek, karena merindukan mu. Tapi tidak papa aku bisa mengatasinya. Kamu juga ya jaga diri baik - baik. Nurut sama bapak sama ibuk. "
" Apa mas pikir hanya mas yang sakit, aku juga sama seperti mu. Aku juga sakit bahkan hari ini."
Hari ini aja sesakit ini mas saat aku mengucapkan kata perpisahan. Apa lagi nanti aku akan merindukan mu setiap waktu. Sama seperti mu. Aku juga akan menikmatinya, sampai takdir mempertemukan kita.
Semoga aku bisa mas.
" Iya dek aku tau. Bersabar lah. Ya sudah aku pamit ya, udah sore. "
" Yah, sudah mau pulang ya? kok cepet banget ya? " kata ku sambil tertunduk lesu, dengan perasaan sedih luar biasa.
Mas Afif berdiri lalu berjongkok di hadapan ku.
Mas Afif menarik dagu ku untuk menatap wajahnya.
" Hey sayang, berjanjilah untuk tidak bersedih. Aku tidak akan bahagia jika kamu seperti ini. Ini membuat ku berat melepas mu pergi. "
Aku tersenyum dengan senyum yang aku paksakan, dengan air mata yang mengalir dengan deras nya.
" Aku akan berusaha. Jangan paksa aku untuk kuat saat ini. Karena ini terlalu sulit bagi ku. Percayalah dengan seiring berjalannya waktu aku akan kuat dengan sendirinya, pacar mu ini tidak selemah itu. "
" Bagus, ini baru si pesek kesayangan ku. "
Lalu mas Afif berdiri mencium pucuk kepala ku, dan mengacak kecil rambut kepala ku.
" Mas pamit ya dek, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam. "
Saat mas Afif sudah berjalan menuju ke pintu, aku berlari dan memeluknya dari belakang.
" Aku mencintai mu mas sangat, bahkan selangkah kamu pergi, itu sudah membuat ku rindu. Aku ingin kamu tau, kamu adalah salah satu hal terindah dalam hidup ku. Di Hatiku tahta ini kau lah raja nya, seorang ratu tidak akan pernah memiliki dua raja. Jangan berbalik! setelah ku lepaskan pelukan ini, lalu pergilah, maaf aku tidak bisa mengantar mu. "
Mas Afif memegang tangan ku yang tengah memeluk dirinya.
" Aku mengerti. Tetapi adek juga harus tau, di hati ku aku bukan raja dan adek bukan ratu. aku tidak bisa menjadi raja yang harus membagi diriku dengan banyak selir - selir meskipun sudah ada ratunya. Aku tidak bisa membagi cinta dengan banyak wanita. Aku tetap lelaki biasa yang akan mencintai 1 wanita tanpa membaginya dengan wanita lainya. Adek paham? "
" Sangat paham. Terimakasih untuk semuanya mas, terimakasih karena sudah mencintaiku, pergilah!"
Aku segera melepaskan pelukanku. Tanpa mengantar mas Afif, aku langsung berlari kemar, dan menangis sejadi - jadinya.
Kenapa harus sesakit ini Tuhan?
__ADS_1
Kenapa perpisahan ini harus terjadi?