Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Ekstra part 2


__ADS_3

Masalah kemarin membuatku benar - benar pusing. Kenikmatan sesaat itu membuat suasana hati ku menjadi acak - acakan. Sampai - sampai aku malas mau berangkat kerja. Akhirnya aku pun izin libur dan hanya mengurung diri di kamar.


" Sek udah siap belum, aku jemput ya?"


Begitulah suara mas Nirwan di sebrang sana. Yah dia menelpon, ingin mengajak ku bareng balik kerja.


" Aku nggak balik kerja mas. Tadi udah izin kalau aku belum bisa balik kerja."


" Kamu sakit sek?"


" Nggak, lagi malas aja."


" Beneran kamu nggak papa?"


" Iya."


" Kamu kenapa sih dek? kamu marah sama aku?"


" Nggak."


Ntah lah mas aku juga nggak ngerti sama diriku dan perasaanku, aku kecewa aku pengen marah, tapi aku nggak tau mau marah sama siapa.


" Apa gara - gara kemarin? sek aku udah bilang kan aku bakalan tanggung jawab, aku bakalan nikahin kamu, maaf kalau memang aku melakukan itu dulu ke kamu sebelum menikah, jujur sek aku sulit menahannya, bukan aku ingin manfaatin kamu, tapi aku benar - benar nggak bisa tahan, ingin kenikmatan dari kamu. Aku janji bakal nikahin kamu."


" Bener ya? bakal nikahin aku? nggak akan ninggalin aku? Janji ya?"


" Ya sek janji, tapi beri aku waktu sedikit lagi, nikahin kamu kan butuh biaya."


" Iya mas, tapi jangan lama - lama."


" Iya nih juga mas lagi usaha kan. Udah jangan ngambek lagi ya?"


Hal yang dia janjian membuat perasaanku sedikit membaik. Membuatku sedikit lega.


" Iya mas. Ya udah berangkat gih kalau mau kerja, hati - hati dijalan mas."

__ADS_1


" Kamu mau balik kerja kapan sek?"


" Besok mungkin mas."


" Ya udah besok mas jemput."


" Nanti aku tanya mbak Yani dulu deh mas dia pulang nggak, kalau mbak Yani pulang biar besok aku berangkatnya bareng mbak Yani aja. Biar mas juga nggak bolak - balik."


" Ya udah kalau gitu, nanti kabarin ya kalau nggak ada temannya balik."


" Iya mas,"


" Ya sudah mas berangkat dulu."


" Em, hati - hati di jalan mas, kalau udah nyampe kabarin ya?"


" Iya sek, assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Dan akhirnya aku pun berangkat bekerja bareng mbak Yani kebetulan mbak Yani pulang.


Aku bekerja seperti biasa, untuk mengurangi rasa bersalah ku, aku tidak sering menelpon ibuk, bahkan satu bulan ini aku tidak menelponnya, yah dengan alasan aku sibuk bekerja, untuk mengurasi rasa rindu yang mendera aku hanya bertukar pesan saja.


Sabtu ini aku ingin pulang, tapi mas Nirwan lagi sibuk nggak bisa jemput aku ketempat kerja ku, aku pun minta jemput mbak Yani tapi aku minta dia mengantarkan aku ke tempat kerjanya mas Nirwan. Mas Nirwan kekeh agar kita bisa pulang bareng.


Sudah lama juga aku nggak ngobrol sama mbak Yani, sebelum sampai ke tempat kerjanya mas Nirwan kita mampir dulu untuk menikmati bakso sambil berbincang.


" Lama yah kita nggak keluar bareng?"


" Iya ya mbak, mbak sibuk terus sih."


" Lah kamu juga sibuk sama pacarmu itu."


" Nggak juga sih mbak."

__ADS_1


" Oh iya dia gimana? sejauh ini dia baik kan sama kamu?"


" Baik kok mbak, kita jarang berantem paling cuma debat hal - hal kecil saja."


" Ya syukur deh kalau gitu, yah itung - itung ada yang bantuin aku jaga kamu."


" Hem, iya mbak."


Jagain apa mbak? kalau mbak tau apa yang sudah kita lakukan pasti mbak bakal ngamuk - ngamuk sama aku.


" Oh iya bentar lagi aku mau tunangan."


" Seriusan mbak?"


" Ya minggu depan. Kamu harus dateng ya. Yah walaupun cuma tunangan tapi aku pengen kamu ada di sana."


" Aku usahakan mbak,"


" Harus ya."


" Iya mbak ku tersayang."


" Nah gitu dong."


" Udah yuk mbak jalan, nanti malah kesorean pulangnya."


" Kamu beneran nggak mau bareng aku?"


" Nggak mbak, aku mau bareng mas Nirwan aja, mas Nirwan udah nungguin."


" Oke lah, yang lagi kasmaran, lagi anget - anget nya, pasti pengen nya nempel terus ya. Hehehe."


" Ya begitulah, mbak pasti pernah ngerasain juga lah. Hehehe."


Kita pun segara kembali meneruskan perjalanan menuju lesehan mas Nirwan.

__ADS_1


__ADS_2