Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Season 2 ~ Kecewa


__ADS_3

" Lol hari ini aku ambil liburnya ya, soal nya suami ku sakit."


" Iya mbak, nggak papa. Semoga lekas sembuh ya mbak?"


" Iya Lol, terimakasih. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Aku menghubungi Loli, memberitahunya kalau aku mengambil jatah liburku. Dari semalam badan mas Nirwan demam dan juga batuk.


Melihatnya terbaring lemah di tempat tidur membuatku tidak tega.


" Mas kita ke dokter yuk?"


" Nggak lah sek."


" Biar cepat sembuh mas, badan kamu panas banget, aku kalau denger batuk kamu itu loh, aku nggak tega."


" Nanti juga sembuh."


" Lah gimana mau sembuh kalau nggak mau periksa dan minum obat. Ini lah kenapa aku nggak suka kalau kamu merokok, kalau batuk sampai kaya gini, aku tau kamu selama ini diam - diam merokok kan? ya udah kalau nggak mau periksa, aku beliin obat di apotik saja."


" Iya,"


" Ya udah aku tinggal sebentar ya."


Kalau mas Nirwan sakit ntah kenapa aku juga jadi ikut pusing, jadi ikut malas makan, aku bisa menemani dia berbaring di ranjang seharian, kadang juga sambil mijitin dia kepala dan dadanya.


" Nih makan dulu ya mas, aku belikan bakso tadi, habis makan di minum obatnya."


Setelah mas Nirwan minum obat, aku membatu Adi di depan, sambil sesekali nengok mas Nirwan sambil mengecek suhu tubuhnya, dan kalau lagi nggak ramai aku menemaninya berbaring di kamar. Aku selalu membelikan makanan yang dia suka agar dia tetap ***** makan. Aku nggak tega meninggalkan dia kalau dia sakit begini.


" Gimana mas? udah baikan belum?"


" Kepalanya masih pusing sek, pijitin disini."


" Oke, sini aku pijitin."

__ADS_1


***


Satu tahun pun berlalu.


Akhirnya hutang 10 juta bisa dilunasi dalam waktu satu tahun. Aku dan mas Nirwan sangat berhemat agar bisa menyisihkan uang setiap bulanya untuk mencicil hutang itu, dan akhirnya setelah setahun berlalu hutang itu dapat terlunasi. Terbebas dari beban yang setiap bulan harus kita utamakan dulu dan mengesampingkan kebutuhan lainya yang menurut kami tidak terlalu penting.


Lega rasanya, sekarang tidak perlu lagi setiap bulan memikirkannya. Ada uang lebih sekarang bisa menabung, dan bisa membeli kebutuhan lainnya yang selama ini sempat tertunda.


" Mas kamu dari mana sih? habis tutup warung bukanya tidur istirahat malah nggak tau kemana, bau rokok lagi, kamu merokok lagi ya?"


" Nggak."


" Bohong, jujur aja mas, setidaknya itu lebih baik."


" Ya udah kalau nggak percaya."


" Gimana mau percaya, badan sama mulut kamu aja bau rokok."


" Terserah kamu mau ngomong apa."


" Aku cuma nggak mau kamu kenapa - napa mas, efek rokok itu jangka panjang mungkin sekarang kamu belum merasakannya, ntah beberapa tahun lagi atau saat usia tuamu nanti pasti akan berdampak terhadap kesehatan mu, kalau sakit kan kamu juga yang merasakannya. Aku ingin dimasa tua kita sehat, dan melihat anak - anak kita sukses. Kamu nggak kasihan kalau nanti anak kita masih kecil masih ada yang sekolah terus kamu sakit - sakitan terus yang mau cari nafkah siapa? aku sama anak mu gimana? lagian untungnya kamu merokok itu apa sih mas? manfaatnya juga apa? aku tau mas itu juga kamu beli pake uang kamu, tapi ini masalah kesehatan mu, aku sayang banget mas sama kamu, aku cuma nggak mau kamu kenapa - napa, jika kamu sakit, sakit itu bisa di bagi dengan ku, aku rela meringankan sakit mu agar kamu tidak menderita, tapi itu nggak bisa, dan kamu tau kan mas betapa khawatirnya aku kalau kamu sakit? kamu juga sudah janji kan sama aku, itu cuma janji kecil mu terhadapku, apa kamu juga tidak bisa menepatinya, dibohongi itu sakit loh mas, walaupun itu hanya hal kecil, tolong jagalah kepercayaan ku, jangan kecewakan aku dengan janji kecil mu, aku mohon. Selama ini aku sudah nurut sama kamu, kali ini saja kamu dengerin aku ya. Kalau udah nggak mau diurusin ya sudah terserah kamu, kalau masih mau di urusin ya dengerin."


" Iya sek, yuk tidur sudah malam."


" Kamu mah selalu gitu kalau dibilangin, bikin kesel."


" Iya ya, ya udah yuk tidur."


***


Hari ini aku mengambil jatah libur ku.


Aku pengen banget jalan - jalan kemana gitu biar nggak kerja terus.


Pengen banget kaya waktu pacaran dulu yang sering diajak main.


Nggak usah lah main jauh, atau tempat yang mahal, cukup di ajak naik motor muter - muter kemana juga sudah seneng, yang penting berdua.

__ADS_1


" Mas jalan - jalan yuk, kemana gitu."


" Kerjaan aku lagi banyak sek, sekarang ntah kenapa aku gampang capek kalau berkendara jauh."


" Nggak usah jauh - jauh, yang dekat saja, atau kita beli bakso dimana gitu, yang tempatnya enak buat nongkrong."


" Jangan sekarang ya, kan aku lagi kerja."


" Ya udah deh. Aku mau mandi dulu."


Sakit hati? iya. Kecewa? pasti, kecewa banget malahan. Apa permintaan ku ini terlalu berat buat dia? ntah lah, setiap kali di tolak disitu ada rasa sakit yang tercipta.


Ini hanya perasaan ku saja atau memang mas Nirwan yang mulai berubah.


Aku pikir setelah menikah, dia akan semakin perhatian. Kita masih akan seperti dulu, jalan bergandengan tangan, sering dipeluk, sering di cium.


Tapi kenyataan nya, tidak seperti itu.


Setelah lama menikah, dia tidak seperhatian dulu lagi, aku ajak dia jalan juga sekarang nggak mau, jangankan untuk memeluk, mencium pun jarang banget.


Dari sini aku merasa kenapa sekarang berbeda, apa salahku yang membuatnya merubah sikapnya kepadaku? apa setelah dia mengetahui sisi buruk diriku dia menyesal karena sudah menikahi ku?


Selama ini aku merasa bahwa aku sudah bersikap baik, aku berusaha untuk tidak menyusahkan nya, aku tidak banyak meminta atau menuntut, itu dari sudut pandang ku. Kalau dari sudut pandangnya mungkin aku telah melakukan kesalahan yang membuatnya kecewa. Tapi aku benar - benar nggak tau itu apa.


Mungkin mungkin sekarang saat nya untuk ku memperbaiki diri lagi.


" Di mas Nirwan kemana?"


" Nggak tau bu bos, keluar sama temennya nggak tau kemana, emang tadi nggak pamit sama bu bos?"


" Nggak, tadi aku lagi mandi."


Lagi - lagi begini, kamu lebih memilih pergi dengan teman mu dari pada sama aku ya mas? apa aku terlalu memalukan untuk kamu bawa jalan keluar.


Aku menangis di kamar, aku ingin rasa sakit ini hilang terbawa air mata yang terus menetes.


Namun saat aku mengingat nya, rasa sakit itu hadir lagi.

__ADS_1


__ADS_2