
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam. Eh bu bos sudah pulang." Kata Adi yang sedang duduk santai dengan mas Nirwan.
Aku langsung berlari dan duduk bergelayut di pangkuan mas Nirwan.
" Kenapa? capek ya?" tanya mas Nirwan.
" Nggak."
" Terus kenapa?"
" Kangen."
" Kalian benar - benar ya, hargain aku yang jomblo ini kenapa? keuwuan kalian ini membuat jiwa jomblo ku meronta - meronta." Protes Adi.
" Bukannya tadi udah aku kasih kesempatan ya, kenalan sama si Loli." Kata ku.
" Memang iya, tapi sepertinya dia bukan tipe cewek yang mudah di dekati deh."
" Makanya usaha dong, tunjukan kalau kamu memang serius."
" Siapa Loli?" Tanya mas Nirwan.
" Itu temen kerja aku mas."
" Oh, berarti butiknya udah tutup, kalau kamu jam segini aja sudah pulang?"
" Ya belum lah mas, kan ini masih sore. Ada karyawan lain yang gantian nunggu sampai malem, kayaknya itu karyawan bu Lidya dari cabang butiknya yang terdekat dari sini."
" Kenapa nggak cari karyawan baru lagi aja?"
" Ya mana aku tau mas."
" Berarti bu Lidya punya banyak butik ya?"
" Iya, baju disain dia juga bagus - bagus."
" Ya sudah sana mandi dulu, bau keringat."
" Mana ada, orang pake Ac nggak keringetan."
" Terus nggak mau mandi nih? Mau aku mandiin nggak?"
" Nggak, nanti ujung - ujungnya aku yang harus tangung jawab lagi."
" Tapi enak kan? suka kan? nagih nggak?"
" Tau ah, aku mau mandi dulu."
" Jangan lama - lama nanti masuk angin."
" Iya mas."
***
Satu bulan pun berlalu, aku senang bisa bertahan bekerja sebulan disini. Aku beruntung bisa bekerja di butik bu Lidya, bosnya baik punya rekan kerja juga seperti Loli yang baik dan asik, itu membuatku betah bekerja dengan bu Lidya.
Di butik.
" Assalamualaikum," ada pria masuk, kulit sawo matang, cakep, badannya tinggi."
" Waalaikumsalam," jawabku.
Tumben cowok cakep yang datang.
" Ini mbak, saya mau mengambil gaun pesanan ibu saya. Kata bu Lidya suruh mengambilnya kesini."
" Oh, sebentar ya mas, saya tanyakan dulu sama bu Lidya."
" Iya mbak."
Aku kebelakang untuk mencari Loli yang sedang menyapu.
" Lol? bu Lidya bilang nggak sama kamu kalau hari ini ada yang mau ambil pesanan?"
" Nggak tuh mbak."
" Oke, coba kamu tanya dulu sama mas nya pesanannya atas nama siapa, dan coba kamu cari ada nggak yang atas nama ibunya mas itu, aku mau menghubungi bu Lidya dulu."
" Oke mbak."
***
" Halo assalamualaikum buk?"
" Waalaikumsalam Yu, ada apa?"
" Maaf sebelumnya kalau telpon saya menganggu ibuk. Begini buk, ini ada laki - laki yang mau mengambil gaun pesanan ibunya. Apa benar ibu menyuruhnya mengambil kesini, dan gaunnya yang mana ya buk?"
__ADS_1
" Astagfirullah ibu lupa Yu, itu pasti Isnan, gaunnya masih ada disini, kemarin ibu lupa bawa. Kamu kesini saja sama mas nya, sama sekalian ambil beberapa gaun yang mau diambil juga nanti siang."
" Baik buk."
" Maaf ya Yu jadi merepotkan kamu."
" Aduh ibuk jangan begitu, ini juga termasuk pekerjaan saya, ya sudah saya akan segera ke tempat ibuk, assalamualaikum"
" Waalaikumsalam, hati - hati dijalan."
" Iya buk."
***
" Mbak ini sudah aku cari kemana - kemana nggak ada."
" Ya ternyata masih di tempat bu Lidya."
" Pantas saja."
" Maaf mas sebelumnya, baju pesanan ibunya mas masih ada di tempatnya bu Lidya, kemarin bu Lidya lupa membawanya, bagaimana kalau mas saya antar ke sana sama sekalian saya mau ambil beberapa gaun pesanan juga yang mau di ambil nanti siang."
" Oh tidak apa - apa mbak."
Aku memakai helm ku, dan akan menghidupkan mesin motorku.
" Mbak, ikut di mobil saya saja biar lebih enak, dari pada bawa motor sendiri."
" Baik mas, maaf ya jadi merepotkan."
" Nggak sama sekali kok mbak."
Pria cakep itu membukakan pintu mobilnya untuk ku, aku agak sedikit kurang nyaman sih dengan perlakuannya mungkin karena kita baru kenal juga.
" Oh iya boleh saya tau nama mbak?"
" Panggil saja aku Ayu."
" Aku Isnan mbak, nah kalau sudah kenal begini kan enak ngobrolnya. Mbak sudah lama kerja sama bu Lidya?"
" Baru satu bulan kok mas."
" Ibu saya sudah langganan tetap bu Lidya, tapi baru kali ini saya disuruh mengambil pesanannya, karena kebetulan butiknya dekat dengan tempat kerja saya, jadi saya nggak tau rumahnya bu Lidya dimana, maaf harus merepotkan mbak untuk mengantar."
" Ini bagian dari kerja saya juga kok mas, sudah beberapa kali juga saya sering mengantar orang ketempat bu Lidya, ini juga saya sekalian mau ambil gaun pesanan lainya."
" Nggak kok mas, pertigaan itu belok kanan, terus lurus ada perempatan belok kiri."
" Oke."
***
Sesampainya di tempat bu Lidya.
" Haduh maaf ya Yu jadi merepotkan kamu terus, habisnya ibuk sering lupa."
" Nggak merepotkan kok buk, kalau ibuk perlu bantuan ibuk tinggal hubungi saya."
" Terimakasih Ayu. Nak Isnan maafin tante ya, jadinya kamu harus kesini mengambilnya."
" Iya tidak papa tante."
" Ya sudah buk, saya pamit dulu. Kasian Loli nanti kalau ditinggal lama - lama."
" Saya juga pamit ya tante."
" Oh baiklah, terimakasih dan hati - hati dijalan ya."
" Iya buk Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
***
" Mbak mari saya antar mbak ke butik."
" Nggak usah mas, terimakasih, saya naik ojol saja."
" Nggak papa mbak, kan saya juga lewat depan butiknya mbak. Kita searah,"
Aku terima ajakannya saja lah, lagian ini juga berat gaunnya, kalau naik motor takut rusak juga sih."
" Baiklah mas, terimakasih, maaf merepotkan."
" Sama sekali tidak kok mbak."
Duh ini cowok kalau lagi senyum manisnya nggak ketulungan.
" Sekali lagi terimakasih ya mas."
__ADS_1
" Jangan panggi mas dong mbak, panggil Isnan saja biar lebih akrab."
" Kalau begitu panggil saja aku Ayu, di panggil mbak kesannya jadi tua banget, hehehe."
" Oke baiklah. Mau makan siang sekalian nggak Yu?"
" Nggak Is lain kali saja, kasian temenku kalau kelamaan aku tinggal, lagian juga pasti dia sudah pesan makanan."
" Beneran nih? aku traktir kok."
" Beneran nggak usah, terimakasih."
Kita berbincang banyak selama perjalanan menuju butik.
" Terimakasih ya Is atas tumpangan nya."
" Iya sama - sama Yu, aku duluan ya."
" Oke, hati - hati."
***
" Mbak Ayu, akhirnya kamu datang."
" Ada apa Lol?"
" Aku sudah lapar mbak."
" Astaga, aku kirain ada apa, kenapa nggak pesan dari tadi?"
" Aku nungguin mbak lah."
" Lain kali kalau memang sudah lapar nggak usah nungguin langsung pesan saja."
" Tapi kan Loli nggak tau mbak sukanya apa, lagi pengen makan apa."
" Ya aku tuh sama kaya kamu, yang penting itu makanan, enak dimakan yang pasti mau lah."
" Gitu ya mbak?"
" Iya Lol. Kita itu satu Frekuensi hahaha."
" Ya sudah mbak saja yang pesan."
" Kamu saja Lol, telpon saja Adi."
" Mbak mau makan apa?"
" Bakso saja aku Lol,"
" Loli juga ah, kayaknya seger anget - anget terus pedes gitu. Pakai nasi ya mbak biar kenyang."
" Iya."
" Minumnya?"
" Es teh saja."
" Oke, udah dikirim pesan nya, tinggal nunggu si dia datang."
" Sudah sejauh mana hubungan kamu sama Adi Lol?"
" Masih dalam saling mengenal sih mbak. Menurut mbak Adi itu gimana?"
" Yang pasti dia baik, bisa di andalkan, bertanggung jawab juga, pekerja keras, kalau soal nakal, ya masih dalam kategori wajar, cuma kenakalan remaja biasa, itu bisa diubah dengan seiring berjalannya waktu, semakin dewasa juga pasti tau lah mana yang benar dan salah, tapi setau ku dia jarang nongkrong sekarang, jadi sudah nggak minum alkohol lagi."
" Dia juga bilangnya begitu, aku jadi penasaran kenapa sih mbak seperti tau banyak soal Adi?"
" Pengan tau ya? penasaran ya? pasti iya? hahaha."
" Apaan sih mbak, aku tanya beneran ini."
" Ya udah nanti sore pulang dari sini kamu mampir tempatku bentar ya, aku akan menjawab rasa penasaran mu itu."
" Bener ya mbak?"
" Iya, segitu penasarannya ya?"
" Iya mbak banget."
" Jangan - jangan kamu berfikir aku mantannya Adi?"
" Kok mbak tau? hehehe"
" Hadeh kamu ini. Ya makanya nanti mampir saja deh."
" Oke mbak."
***
__ADS_1