
" Mbak Ayu akhirnya kamu datang."
" Ada apa Lol, tumben yang datang kamu duluan? biasanya kamu telat."
" Hehehe, jangan gitu lah mbak. Eh mbak tuh ada pak Isnan nungguin mbak."
" Ngapain dia pagi - pagi kesini?"
" Kali aja kangen mbak, tau tuh pak Isnan udah setahun juga belum move on dari mbak."
" Sttt jangan kenceng - kenceng ngomong nya nanti dia denger loh?"
" Ya biarin kenyataannya gitu kan?"
" Aku samperin dia dulu ya Lol."
" Iya mbak."
***
" Ada apa Is, tumben kesini pagi - pagi?"
" Oh nggak ada apa - apa, ini cuma mampir mau ngasih makanan."
" Lah kenapa nggak kamu titipin ke Loli aja sih? bisa kan, nggak usah nungguin aku, kamu bisa telat masuk kerja."
" Aku cuma mau memastikan kalau kamu baik - baik saja, soal nya tumben kamu telat, aku kira kamu sakit."
Duh Is, kalau kamu kaya gini, aku bisa jatuh cinta beneran sama kamu.
" Oke, karena sekarang aku sudah nggak papa, kamu cepetan berangkat kerja, dan terimakasih untuk makanannya, lain kali plis tolong ya ngak usah begini."
" Iya, ya udah aku pergi dulu, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
" Aku heran deh sama mbak, kok bisa sih mbak, nggak jatuh cinta sama laki kaya dia, udah ganteng, baik, tajir, setia lagi, kurang apa coba?"
Kamu nggak tau aja Lol, aku sangat berusaha keras untuk menahan hati ku agar tidak jatuh hati pada nya.
" Wanita mana sih Lol, yang nggak luluh kalau dicintai sampai sebegini nya? Tapi belum tentu dia bisa menerima ku seperti mas Nirwan yang menerima semua kekurangan dan keburukan ku. Hem, mungkin dia memang lebih perhatian, tapi belum tentu saat dia tau kekurangan ku dia masih mau menerima ku, kali aja kan kalau tau aku tidurnya ngorok terus ileran dia jadi ilfil, hahaha."
" Iya juga ya mbak, hehehe."
" Pernikahan juga bukan sebuah ikatan yang sepele Lol, aku ingin cuma menikah sekali seumur hidup. Lagian aku juga ingin menjadi istri ya baik."
" Betul tuh mbak, aku juga pengen seperti mu mbak."
" Amin, semoga secepatnya di kabulkan dan kamu bisa segera menikah dengan Adi."
" Iya mbak Amin."
***
__ADS_1
Aku mengendari sepeda motorku dengan santai dengan laju yang tidak terlalu cepat.
Sesampainya di depan warung aku memarkirkan motor ku. Belum sempat aku turun dari motor, kedua mataku menangkap pemandangan yang sungguh menyakitkan.
Deg!
Ketika aku melihat dengan santainya mas Nirwan merokok bersama Adi dan temannya yang ntah siapa aku tidak mengenalnya.
Ada rasa sakit, kecewa, marah, sedih. Air mata ku lolos begitu saja, menggambarkan rasa sakit yang tidak bisa diutarakan.
Aku kembali menghidupkan mesin motorku, dan meninggalkan warung, aku menuju taman. Sesampainya di taman aku menghubungi Loli, agar dia menyusul ku ke taman.
Dan untung saja dia bersedia.
Mas aku tau selama ini kamu berbohong, tapi kenapa rasanya masih sakit saat mengetahuinya langsung dengan kedua mata ku.
" Mbak Ayu, kenapa?"
" Eh kamu sudah datang, maaf aku nggak tau kalau kamu sudah datang."
" Mbak Ayu kenapa, cerita dong sama Loli?"
" Kamu ingat nggak Lol aku pernah bilang dan sangat membanggakan suami ku karena dia tidak merokok?"
" Iya, ingat mbak."
" Bahkan aku membanggakan di depan orang tua ku. bagiku dia tidak merokok itu adalah kebanggaan tersendiri."
" Iya, terus?"
" Mungkin kalau aku jadi mbak, aku juga akan kecewa. Sekecil apa pun janji itu, kalau tidak bisa ditepati pasti juga akan kecewa mbak, apa lagi kalau kita sudah menaruh kepercayaan besar padanya. Aku nggak tau mbak, bagaimana caranya membuat mbak tenang, karena aku tau gimana rasanya kecewa."
" Dengan bercerita kepadamu aku sudah merasa lega Lol, terimakasih sudah mau mendengarkan cerita ku."
" Iya mbak, lain kali kalau ada masalah jangan sungkan ya untuk membaginya dengan Loli?"
" Pasti Lol, terimakasih banyak."
" Mbak gimana kalau kita cari makanan saja, kalau lagi sakit hati tuh enaknya dilampiaskan dengan makanan yang kita suka."
" Ya udah yuk."
" Perut kenyang, hati juga ikut senang mbak, hahahaha."
" Bisa aja kamu."
***
Setelah puas berburu makanan, aku pun memutuskan untuk pulang.
Yah hari memang sudah malam, aku pergi dengan Loli juga cukup lama.
" Eh baru pulang bos? Lembur ya?"
__ADS_1
" Nggak."
" Terus kok baru pulang?"
" Main."
" Buset deh, cuek banget, lagi kesambet ya?"
" Tau ah!!!
Aku langsung ke kamar. Entah kenapa kalau melihat Adi aku teringat lagi dengan kejadian tadi dan menjadi sebal.
Saat selesai mandi, mas Nirwan sudah berada dikamar. Aku tidak menyapanya, berganti pakaian di depannya menganggap seolah dia tidak ada.
Aku memang masih kesal kepada mas Nirwan.
" Mau makan apa sek?"
Aku hanya diam saja tidak menjawab.
" Sek mau makan apa?" tanya nya lagi.
" Sudah kenyang."
Aku lalu pergi ke depan untuk membantu Adi.
" Bos tadi bukanya kamu sudah pulang, terus balik pergi lagi ya?"
" Iya. Mas Nirwan tau nggak kalau tadi aku sempat pulang?"
" Tau, tadi aku kasih tau sama dia, aku kira tadi bos lembur."
Kamu pasti sudah tau kalau aku marah karena apa, tapi untuk sekedar minta maaf pun kamu tidak mau. Apa sungguh berat mas bagimu untuk berkata maaf mas?
Sepertinya memang membohongiku, adalah hal yang biasa bagi mu.
Aku benar - benar nggak nyangka hal sekecil itu saja tidak mampu kamu menepatinya, apa lagi janjimu yang besar lainnya.
Meskipun kamu membohongi ku ini hanyalah hal sepele dan kecil, tapi kalau berulang - berulang lama kelamaan juga menjadi besar.
Rasanya untuk percaya lagi sama kamu sepenuhnya, itu hal yang cukup sulit untuk dilakukan.
Aku benar - benar kecewa sama kamu mas.
" Bos kamu istirahat saja nggak usah bantuin. Ini juga sudah malam."
" Nanti lah, aku lagi malas dikamar."
Mas Nirwan menyusul ku ke depan.
" Di aku kemar dulu."
" Lah tadi katanya nanti?"
__ADS_1
" Malas disini, panas."