
Yang berubah kamu/aku
Setelah beberapa bulan di rantau, aku sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan.
Aku pun sudah mulai akrab dengan beberapa orang di lingkungan itu, terutama om Rian.
Si dedek Delon juga semakin aktif tingkahnya. Sering kali sampai aku kualahan dibuatnya.
Setiap malam aku juga menangis merindukan ibuk. Yah itu sudah jadi kebiasaan kalau mas Afif kerja dapat sift malam. Kalau siang ada dedek, ada bu bos, ada kak Lili ada teman yang bisa sebentar mengalihkan kerinduanku terhadap keluargaku.
Tetapi kalau malam datang aku sendirian membuat kerinduan ku pada ibuk semakin terasa. Jauh dari orang tua memang bukan hal yang mudah untuk ku, apa lagi baru kali ini aku bekerja dan jarak yang jauh pula dari orang tua.
Rindu itu sudah pasti, apa lagi kalau lagi dihadapkan dengan hal yang sulit pasti rasanya pengen lari pulang.
Kalau pas mas Afif tidak kerja, mas Afif yang menemaniku, dia tau kalau aku sering nangis kala merindukan ibuk, biasanya mas Afif telpon menemani hingga aku ketiduran. Hanya dialah yang mampu membuatku tidak merasa sendiri, ketergantungan sama mas Afif itu sudah hal biasa. Memang dia bisa membuat hatiku tenang, bersamanya itu terasa nyaman. Mungkin karena aku sudah terbiasa dengan dia.
Ngobrol dengan mas Afif, walaupun hanya lewat telpon itu sejenak bisa melupakan perasaan rindu ini. Tetapi kalau mas Afif kerja malam aku merasa sendiri dan kesepian.
Malam ini seperti biasa, aku jadi guru dadakan buat bang Rafid. Saat tengah fokus mendengarkan bang Rafid belajar membaca, ponsel ku berdering ada panggilan masuk.
" Bang bentar kakak angkat telpon dulu, "
" Iya kak. "
" Halo assalamualaikum, "
" Waalaikum salam om, "
Yapp telpon itu dari om Rian. Beberapa hari yang lalu dia minta nomor ponselku.
" Ada apa om? "
" Aku mau ke warung makan depan ,kamu mau nitip apa sekalian? "
Memang sesekali om Rian sering telpon walau hanya untuk sekedar bertanya mau nitip apa kalau dia mau keluar. Yah memang disini jauh dari warung, mesti pake motor kalau mau ke depan cari makanan. Kalo jalan kaki jauh banget.
" Emang om mau beli apa ?"
" Mau beli pecel lele. "
" Kak itu om Rian ya? " tanya bang Rafid yang masih di hadapanku.
" Iya bang, "
__ADS_1
" Dia mau ke warung beli makan ya?" tanya bang Rafid.
" Iya bang,"
" Kak bilangin sekalian ya, suruh belikan aku ayam goreng."
Aku hanya menganggukkan kepalaku, tanda mengiyakan permintaannya.
" Halo om, "
" Iya Yu, "
" Bang Rafid minta di beliin ayam goreng katanya. "
" Iya, kalau kamu apa? "
" Aku nggak om, makasih. Aku udah makan tadi. Ya udah aku mau lanjut dulu ya. Assalamu'alaikum, "
" Waalaikumsalam. "
Lalu aku lanjut belajar dengan bang Rafid. Setelah beberapa bulan akhirnya ada kemajuan, bang Rafid sudah mulai bisa membaca walaupun belum lancar dan masih terbata - bata.
Setelah selesai belajar, seperti biasa aku mengantar bang Rafid sampai teras. Di teras depan rumah ramai kawan - kawannya om Rian.
" Udah om, "
" Nih! " om Rian menyodorkan minuman botol.
" Apa ini ? " tanyaku bingung.
" Susu kedelai buat kamu, aku nggak tau kamu sukanya apa, jadi tak belikan ini aja. "
" Aku mah apa aja suka om, hahaha. Terimakasih om. Ya udah aku masuk dulu ya? "
" Lah nggak ngobrol - ngobrol dulu? "
" Lain kali aja om. Mau istirahat. "
" Oke deh. "
Aku lalu bergegas ke kamar, mengambil ponsel dan menelpon mas Afif.
" Halo mas assalamu'alaikum. "
" Waalaikumsalam. "
__ADS_1
" Lagi apa mamas kuh? "
" Lagi nggak ngapa - ngapain. "
Ini perasaan aku atau, memang si mas jadi cuek bebek gini sih.
" Sudah makan mas? "
" Sudah tadi. Kok aku telpon tadi, nadanya sibuk ya? lagi telponan sama siapa? katanya lagi ngajarin bang Rafid. "
" Oh, tadi om Rian nelpon nanya mau nitip apa, dia mau ke warung. Tapi cuma bentar, terus lanjut ngajarin bang Rafid lagi. Kenapa tadi mas nggak nelpon lagi? "
" Nggak, takut ganggu adek, "
" Iya nggak lah mas. Kalau nggak percaya sih, tadi emang beneran cuma nelpon sebentar. Jangan marah dong mas, maafi ya."
" Iya percaya kok. Oh ya dek maaf mas nggak bisa nemenin malam ini. Temen - temenku ngajak keluar. "
Ha lagi? aku ditinggal lagi, tapi tumben biasanya juga diajak nggak mau, lebih milih telponan. Tapi ya sudah lah ya mungkin dia jenuh. Dia juga butuh waktu main sama temen nya.
" Ya udah nggak papa, hati - hati ya mas. Ingat ya nggak boleh aneh - aneh! "
" Siap mbak pacar, cepetan bobok. Jangan begadang. Ya udah muach, love you."
" Iya mas pacar, muach,, love you too, "
" Assalamualaikum ,"
" Waalaikumsalam. "
Sebenarnya aku sedikit kecewa dengan mas Afif karena tidak bisa menemani aku malam ini. Keseringan ditemenin dia, aku jadi ketergantungan sama mas Afif. Saat mas Afif nggak ada waktu buat ku, itu membuat ku kecewa. Tapi ya sudahlah aku tidak bisa egois, dia juga butuh waktu sendiri dan dengan temannya. Walaupun aku kecewa tapi aku juga tidak bisa memaksanya untuk terus ada waktu buatku.
Malam ini terpaksa aku bergulat dengan rasa lelah yang membuat rinduku pada keluargaku semakin menggebu. Bukan karena aku cengeng, tapi ya memang cengeng sih, hehehe sering nangis. Dengan menangis membuat rasa sesak di dadaku semakin berkurang dan itu membuat ku lega.
Ibuk kamu lagi apa? aku rindu. Sangat rindu. Walaupun disini nyaman tapi lebih nyaman dirumah. Aku lelah buk, aku rindu ibuk, pengen pulang. Hiks.
Sekarang pekerjaanku terasa melelahkan. Mengerjakan semua pekerjaan rumah belum lagi dedek yang sudah mulai aktif, jagain si dedek seharian itu cukup menguras tenaga. Kalau malam capek nya baru terasa dan disaat seperti ini, ibuk lah yang sangat aku butuhkan.
Entah lah terkadang pikiranku dan mood ku suka berubah - ubah. Kadang suka pengen menangis tanpa alasan, kadang pengen marah - marah apa lagi kalau pas lagi capek banget. Pengen lari pulang rasanya, minta pijit sama ibuk.
Mas tanpa mu, malam ini terasa begitu panjang. Kamu kemana? tanpa ku sadari, aku selalu bergantung kepadamu. Tega banget sih mas ninggalin aku sendiri, padahal kamu tau kan gimana malam ku tanpa mu. Kenapa kamu memilih bersama mereka dari pada ngobrol berdua dengan ku? apa kamu sudah bosan?
Begitulah rasa kecewa ku lagi malam ini.
Aku pun memilih memejamkan mata agar segera terlelap. Aku tidak ingin menikmati sendiri panjangnya malam ini. Memilih segera menunju mimpi dan terbangun tepat esok hari. Dengan begitu aku tidak harus melewati sepinya sepanjang malam seorang diri.
__ADS_1