
Kembali berkumpul
Suara tangisan jagoan kecilku, membangun ku dari tidur lelap ku.
Aku lihat sekeliling ternyata ibuk sudah tidak ada. Mungkin ibuk sudah memasak di dapur. Aku angkat dan ku gendong adek. Aku mengajaknya keluar rumah. Menikmati segarnya udara pagi. Aku berkeliling disekitar halaman rumah sembari mengendong si jagoan kecil kesayanganku.
Sudah banyak berubah, dari beberapa tahun yang lalu rupanya. Sekarang jadi lebih ramai. Oh astaga ponsel ku. Aku lupa, pasti mas Afif nungguin kabar ku. Semalam keasikan mendengarkan cerita ibuk, jadi lupa ngabarin mas Afif. Em nanti aja deh sekalian, mau menikmati suasana ini dulu.
" Ayu!"
Suara ibuk memanggil mencari ku.
" Iya buk."
" Nduk bawa sini adek nya, mau di mandiin. Udah bangun dari tadi? "
" Iya belum lama juga sih buk,"
" Pantas tadi ibuk ke kamar kalian udah nggak ada, sini mau ibuk mandiin dulu adiknya."
" Iya buk. Besok aku belajar mandiin ya buk. biar adek aku yang urus selama aku belum sekolah. "
" Iya, malah seneng ibuk, ada yang bantuin. Mandiin adek nggak susah kok, sini ikut ibuk sambil lihat ibuk yang mandiin, nanti sekali lihat juga kamu langsung bisa."
" iya buk. Oh iya ibuk tau nggak, nanti aku sekolahnya dimana ya? "
" Ibuk juga belum tau nduk. Coba nanti tanyakan ke bapak mu, karena dia yang ngurus semuanya. "
Jujur sebenar nya aku takut, takut nanti gak punya teman, atau gak bisa mengikuti pelajaran, nggak bisa beradaptasi, dan masih banyak lagi ketakutan ku yang lain.
" Iya deh nanti aku tanya sama bapak, aku ke kamar dulu ya buk. "
" Iya nduk, jangan lupa nanti sarapan dulu kalau masih mau tidur lagi."
" Iya buk nanti. Mau mecari ponsel dulu mau ngabarin temen-temen kalau aku sudah nyampe."
Aku bergegas ke kamar, lalu aku mencari ponsel ku. Dan segara aku aktifkan kembali. Di sana sudah banyak sekali pesan masuk dari sahabat ku dan mas Afif. Aku membalas pesan sahabat ku dulu. Lalu menelfon mas Afif.
" Assalamualaikum mas, "
" Waalaikum salam dek, "
" Mas maaf ya, kemarin ponsel nya aku matiin. Ini baru aku hidupin. Aku sudah sampai semalem mas, maaf baru ngabarin sekarang. "
" Iya dek, alhamdulillah kalau udah sampai dengan selamat, mas jadi lega. Pasti capek banget ya? "
__ADS_1
" Iya mas, aku mabuk perjalan parah sampai lemas. "
" Terus sekarang gimana? "
" Sudah baikan kok mas, tapi ya masih kerasa lemesnya, "
" Udah makan belum? "
" Duh aku lupa. Dari semalem nyampe sampai sekarang aku belum makan, gak kerasa lapar soalnya, hehehe. "
" Pasti karena terlalu antusias nya adek ketemu sama ibuk ya? "
" Iya, semalem juga ibuk cerita Sampek menjelang pagi, aku baru tidur, " dan aku menceritakan apa yang ibuk ceritakan pada ku ke mas Afif.
" Berarti memang keputusan yang tepat adek nyusul ibuk. Kasian banget ibuk dek. Mulai sekarang adek harus jagain ibuk ya. Biar ibuk nggak berjuang sendirian, ada kamu yang akan menjadi kekuatan ibuk."
" Pasti mas. Aku tidak akan membiarkan hal itu terulang lagi. Aku akan menjaga ibuk sebisa ku."
" Bagus. Jangan sungkan kalau ada apa - apa cerita ya dek. Ya walaupun jauh mas gak bisa kesitu, setidak nya mas bisa bantu kasih solusi, dan juga agar adek selalu ingat, ada aku disini dek, yang akan selalu ada untuk mu. "
" Pasti mas. Terimakasih untuk semuanya mas, udah jagain, udah selalu ada juga buat ku. "
" Iya dek sama - sama, oh iya, sekolah adek gimana,? "
" Ya mungkin daftar nya nanti sama adek."
" Aku takut mas."
" Takut kenapa?"
" Takut nggak bisa ngikutin pelajaran disini nantinya, takut nggak punya temen, takut nggak bisa beradaptasi dan banyak hal."
" Adek jangan pikirkan yang aneh-aneh dulu deh. Kalau pelajaran kan sama saja. Pasti adek bisa kok beradaptasi disitu, adek harus percaya diri. Pasti adek bisa."
" Yah semoga ya mas."
" Harus percaya diri dong. Kan adek cantik, hehehe"
" Apaan sih mas,"
" Hahaha, adek pasti bisa, mas yakin itu."
" Mas?? "
" Iya dek, apa? "
__ADS_1
" Aku kangen kamu,hiks, "
" Aku pun juga begitu. Saat ini aku memejamkan mata dan membayangkan seolah - olah kamu berbicara di depan ku. Sudah dek nggak boleh nangis, nanti ibuk tau. Baru juga sebentar sudah kangen aja. Jangan nangis dong, ntar aku dimarahin ibuk lho, dikira anak gadisnya aku apa-apakan ."
" Iya emang mas kok yang bikin aku nangis, kan gara-gara kangen kamu, walaupun baru sebentar tapi kayak udah lama banget mas."
" Bisa aja nih gadisnya ibuk, hehehe. Sama dek aku pun juga kangen banget sama adek. Tapi ya memang ini lagi ujian buat kita, yang sabar ya dek."
" Iya mas, tapi kok ya berat banget ya. Kenapa harus jauhan."
" Kalau deketan terus nanti malah nggak rindu dek. Nanti malah bosan. Hahaha. Jangan sedih terus ah mas nggak suka. Jangan buat mas kepikiran. Mas udah seneng banget lho, adek bisa kumpul lagi sama ibuk. Mas seneng kalau adek seneng."
" Iya mas. Ya udah aku tutup ya telepon nya, mau bantu bantu ibuk, sama mau bangunin bapak dulu mas."
" Iya, jangan lupa sarapan ya dek. Nanti malah sakit, dari semalem kan belum makan."
" Iya mas nanti."
" Jangan bohong ya, mas takut nanti adek sakit lho."
" Iya iya mas pacar, bawel banget sih."
" Demi kamu."
" Iya tau, ya udah disambung nanti lagi ya mas, jangan lupa makan juga, harus jaga kesehatan juga, jangan sampai sakit aku juga khawatir. Assalamu'alaikum mas pacar. "
" waalaikum salam, mbak pacar. I love you, miss you."
" Love you to. Miss you to mas."
Aku mengakhiri panggilan ku, karna jujur aku ingin menangis rasanya. Mendengar suaranya membuat ku menjadi sangat rindu, itu menyakitkan. Membuat ku ingin berlari pulang dan memeluk dirinya.
Lalu aku bergegas membangunkan bapak. Lalu sarapan dengan ibuk dan bermain dengan jagoan kecil ku.
Aku bahagia akhirnya bisa berkumpul lagi seperti dulu. Aku harap kejadian kelam kemarin tidak terulang kembali.
Bapak bisa berubah menjadi lebih baik.
Aku juga berharap bapak sama ibuk bisa saling mencintai seperti dulu.
Membesarkan adik ku dengan penuh kasih ditengah-tengah keluarga yang lengkap.
Aku tidak ingin adik ku merasakan, seperti apa yang aku rasakan kemarin.
Cukup hanya aku saja yang merasakannya, menjadi dampak pertengkaran keluarga dan kesalahan bapak, itu benar - benar luar biasa.
__ADS_1