Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 32


__ADS_3

****Kembalinya dirimu****


Rutinitas pagi ku bercengkrama dengan sapu, alat pel, dan peralatan masak lainya, sebelum si dedek nya bangun.


" Gimana betah nggak mbak kerja disini? " kata nda.


" Betah kok nda. "


" Syukur deh mbak. Main - main lah mbak ke rumah sebelah ke tempatnya kak Lili kalo mbak jenuh dirumah. Pasti jenuh ya nggak ada temen kaya dikampung?


" Nggak juga nda, kadang sesekali ya suka ngobrol sama kak Lili di teras depan. "


Rumah yang aku tempati memang jauh dari pemukiman warga. Rumahnya di pekarangan kantor, dan yang tinggal disitu hanya keluarga kecil nda sama kak Lili. Suami kak Lili karyawan tetap di kantor itu.


Menurutku rumahnya nyaman. Walaupun jauh dari pemukiman warga, tetapi suasananya rame, ada para pekerja dan kendaraan yang keluar masuk angkut sama antar muatan.


" Kalau ada perlu apa, atau butuh apa bilang ya mbak nggak usah sungkan. "


" Bisa diatur itu mah nda, hehehe. Iya udah aku tak mandiin dedek dulu ya nda?"


" Iya mbak. Masak nya biar aku aja yang nerusin. Ini masaknya tinggal sedikit lagi, bentar lagi juga selesai kok. "


" iya nda, terimakasih."


Aku mengambil dedek yang lagi asik main sama ayahnya. Aku agak sungkan sama pak bosnya, tidak terlalu akrab.


" Permisi pak, adek nya mau saya mandiin, "


" Oh iya mbak, silahkan."


Aku segera memandikan dedek, memakaikan baju dan lanjut menyuapinya makan. Aku sangat menikmati pekerjaan ini, mungkin karena aku menyukai anak kecil. Aku senang bisa melihat setiap tahap perkembangan nya. setiap hari bersamanya membuatku sangat menyayanginya. Ada saja kejutan tingkah gemasnya yang dia tunjukan setiap harinya.


" Hay anak ayah, udah ganteng nih. Makan yang banyak ya, jangan nakal ya sama mbak, ayah kerja dulu. " Kata pak bos sambil mengendong adek.


" Yah, ni bekal nya jangan lupa ya? " kata nda yang baru datang dari dapur sambil membawa kotak bekal untuk suaminya.


Ini juga yang aku suka dari mereka. Mereka pasangan muda yang luar biasa, nda sangat mencintai suaminya, jarang berantem. Kalau ada masalah mereka bahas bareng - bareng. Kalau lagi nggak sejalan, mereka musyawarah cari jalan tengah nya. Mereka suka bercanda, kalau mereka sedang bercanda itu aku suka iri. Aku berharap kelak juga bisa seperti itu.


" Sini yah bunda mau gantian gendong. Sini jagoan gantian sama bunda. Bunda kerja dulu ya. Jangan nakal dirumah. Nda sama ayah kerja dulu ya ?" seolah mengerti apa kata bundanya dedek nya tertawa.


" Sini nda adek nya, udah siang lho. Nanti telat, " kata ku mengingatkan.


" Oh iya. Ya udah kami kerja dulu ya mbak. Nanti kalo adek rewel telpon atau langsung bawa ke kantor aja ya mbak. "


" Iya nda. "


Jarak rumah sama kantor tempat nda bekerja itu deket banget. Jadi sewaktu - waktu adek rewel aku nggak bisa nenangin, bisa langsung ke kantor nyari bu bos.


Setelah habis makan, si dedek nya tidur lagi. Mungkin karena kekenyangan jadi pules banget bobok nya.


Suara deringan ponsel ku mengagetkan ku, yang lagi asik memandangi si dedek nya yang lagi bobok.


" Halo Assalamualaikum buk, "

__ADS_1


" Waalaikum salam nduk. Gimana nduk betah kerja di situ? "


" Yah si ibuk tanya nya to the poin banget, nggak basa basi dulu kek, apa kek,"


" Mau basa basi gimana, ibuk dari kemarin kepikiran nduk, ibuk khawatir takutnya kamu nggak betah,dan nggak berani bilang. "


" Aku betah buk, bu bos sama pak bos juga baik kok. Oh iya buk gimana kabar adek aku kangen. "


" Sehat nduk alhamdulillah, itu adek mu juga kangen sama kamu, suka ke kamar kamu nyariin kamu. "


Aku langsung nangis. Memang berat buat ku jauh dari si mungilku. Dari bayi dia sudah terbiasa dengan ku. Karena aku ikut mengurusnya dari bayi jadi kita sangat dekat.


" Ya udah ya buk, aku mau sarapan lagi nanti disambung lagi. " Tanpa salam aku langsung memutus panggilanku. Aku nggak mau ibuk tau kalau aku nangis. Ditengah tengah tangisan ku ponsel ku berdering dan itu panggilan dari mas Afif.


" Assalamualaikum dek? "


" Waalaikumsalam mas, "


" Habis nangis ya?"


" He,em memang nggak bisa bohong kalau sama mas, "


" Iya jangan bohong lah dek, itu bukan hobi yang baik. Coba cerita kenapa nangis? "


" Kangen rumah, kangen ibuk, kangen adek, sama kangen mas juga, hehehe."


" Ya resiko anak rantau memang begitu dek, sabar ya,? "


" Selalu mas, eh mas nggak kerja? lagi ngapain? udah sarapan? "


" Hehehe. Pasti belum mandi? ihh jorok. "


" Iya kan baru bangun dek, nyawanya aja belum ngumpul semua. Boro - boro mandi nih masih sambil merem, hehehe. "


" Terus ngapain nelpon, kalau masih ngantuk? "


" Iya kangen aja. Kenapa? nggak boleh? "


" Boleh banget lah. Kangen aja apa kangen banget? Aku juga kangen kamu mas. "


" ihh bohong."


" nggak ya. "


" Kangen aja apa kangen banget? "


" Itu kan pertanyaan aku tadi. Kenapa dibalikin ke aku? "


" Ya jawab dulu geh dek? "


" Yah aturan kan mas yang jawab dulu, orang yang ngasih pertanyaan duluan aku."


" Iya deh iya. Aku kangen banget dek, kalau adek?

__ADS_1


" Aku, Aku kangen aja. Hahahaha, "


" Dek, balikan yok,? "


" Ehh apa mas? ulangi lagi, nggak denger, "


Ehh balikan? ini aku nggak salah dengar kan?


Untuk memastikannya aku menyuruhnya mengulangi lagi apa yang dia katakan. Takutnya aku yang salah dengar.


" Balikan yok? mau nggak? "


" Memang kapan kita putus mas? "


" Nggak ada kata putus sih dek, tapi kan adek udah deket sama cowok lain. Iya mas anggap putus lah. "


" Cuma temen mas. "


" Ya apa pun itu. Intinya aku nggak suka adek kaya kemarin lagi. Mas masih sayang dek. "


" Aku juga sama mas, "


Andai kamu tau mas. Seperti apa aku mencintai mu. Aku tidak bisa menjelaskannya kepada mu. Aku juga takut kamu tidak akan mempercayainya. Walaupun ada banyak pria datang mereka tidak bisa sebanding dengan mu. Seberapa banyak mereka, satupun tidak ada yang bisa menggantikan dirimu di hatiku. Aku harap kamu bisa merasakan tanpa aku menggambarkan dan mengungkap kan.


" Halo dek? kok diem? "


" Iya mas maaf. "


" Kenapa? udah nggak sayang ya?"


" Nggak, nggak bukannya begitu mas, masih kaget aja. "


" Kamu pacar pertamaku dek. Yang membuatku merasakan getaran cinta dan nikmatnya rasa rindu. Selama ini aku hanya diam, tidak menuntut kejelasan atas sikap yang kamu lakukan. Aku berusaha mengerti keadaanmu. Tapi sekarang aku tidak bisa menahannya lagi dek. Aku masih sayang, bahkan sangat sayang, dan ingin merajut kisah cinta lagi denganmu. Maukah dek,? "


" Iya mas. Aku minta maaf, sempat mengabaikan mu. Kali ini aku akan berusaha tidak mengecewakan mas lagi. "


" Makasih dek. "


" Aku yang makasih mas. Mas masih menyimpan rasa itu hingga saat ini. "


" Rasa ini selalu untukmu dek. "


" uhh so sweet, aku rindu gombalan mu mas, hahaha. "


" Sejak kapan mas ngegombal dek? "


" Sejak kita kenal mas. "


" Itu nggak gombal dek. Kenyataannya memang begitu. Setiap kata yang aku ungkapkan itu bukan bualan, tapi kenyataan yang aku rasakan.


Aku ngobrol sama mas Afif hingga menjelang makan siang. Menghabiskan waktu dengan bertukar cerita.


Tak bisa ku pungkiri, hadirnya dia kembali

__ADS_1


membuatku sangat bahagia.


__ADS_2