Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Bab 64


__ADS_3

Aku menunggu mas Nirwan sampai selesai mandi.


" Maaf ya sek lama. Kok belum dimakan makanannya?"


" Belum, nungguin mas."


" Nggak harus di tungguin juga sek, kalau udah lapar y makan duluan aja."


" Kan enak kalau makanya sendiri - sendiri, nggak sopan juga masak yang di ajak makan malah makan duluan."


" Ya udah yok makan."


" Oke."


Kami pun tenang menikmati makanan, tidak sambil ngobrol.


Setelah selesai makan barulah kita lanjut ngobrol.


" Mas udah lama kerja disini?" tanya ku memulai obrolan.


" Belum, belum ada setaun."


" Tau gitu dulu aku ngelamar kerja disini, hehehe."


" Emang mau kerja disini? jangan lah dek disini sampai malam kok."


" Lha emang kenapa?"


" Nggak baik cewe kerja sampai larut malam."


" Ah alasan saja, bilang aja nggak boleh. Oh ya kok Adi sudah sampai disini sih, kan semalam sama mas?"


" Tadi pagi - pagi banget Adi aku suruh berangkat duluan."


" Jadi bos enak ya, mas tinggal suruh anak buah pekerjaan udah beres."


" Bos?"


" Iya kata Adi mas bos disini."


" Aku nggak pernah anggap diri aku seperti itu sek, bagi aku dia temen kerja, disini nggak ada bos atau apa pun. Kalau dia lagi libur atau ada keperluan ya gantian aku yang jaga, dan begitu pun sebaliknya."


" Emang ada berapa orang yang kerja disini?"


" Cuma aku sama Adi, tapi kalau lagi rame biasanya manggil temen nya Adi buat bantuin."


" Oh, "


" Ya udah yuk berangkat, atau mau jalan kemana lagi? kalau sampai di tempat kerja mu agak malem gimana?"


" Ya nggak papa sih mas, tapi jangan malem - malem banget."


" Nggak lah dek, kita muter - muter bentar yuk."


" Yuk, sekali - kali jalan sama cowok, biar dikira punya pacar, hehehe."


" Makanya punya pacar biar ada yang ngajak jalan."


" Belum ada yang mau mas, mas mau nggak? hahahaha."


" Mau aja sih sek."


" Bercanda mas, hehehe. Aku jelek mana mas mau sama aku, hehehe, udah yuk jalan."

__ADS_1


" Yuk, kamu maunya kemana?"


" Kemana aja asal sama kamu, hahaha."


" Kamu tuh ya sek, seriusan dikit napa? bercanda mulu."


" Hehehe, bercanda itu bikin bahagia tau mas, bikin awet muda."


" Ya bagus, bercanda aja terus biar nggak usah beli - beli skin care udah awet muda."


" Beda tau mas kalau itu."


" Ya udah terserah kamu aja deh, pegangan yang bener biar nggak jatuh."


" Iya wel bawel. Udah jatuh kali mas, jatuh hati sama kamu, hahaha."


" Yah mulai lagi."


" Hehehe, maaf."


Sambil ngobrol santai, dengan laju kendaraan yang pelan sambil menikmati pemandangan.


Yah sudah seperti sepasang kekasih sedang kencan.


Kenapa aku begini? aku begitu menurunkan kewaspadaan ku saat bersamanya, padahal baru kenal. Apa karena perhatian yang kadang dia berikan, sehingga membuat ku nyaman. Perhatian yang selama ini sudah tidak aku dapatkan dari lawan jenis. Padahal nih cowok nggak ada romantisnya, nggak ada manis - manisnya.


Setelah puas berkeliling, aku memintanya untuk segera melaju menuju tempat kerja ku.


" Sek ini tempat kerja kamu masih jauh nggak?"


" Nggak mas, tinggal belok kanan, terus perempatan di depan belok kiri masuk gang udah sampai."


" Mau mampir makan dulu nggak?"


" Kan udah beberapa jam yang lalu."


" Tapi masih kenyang."


" Oh, oke lah."


***


Sampailah aku di depan rumah buk Ririn.


" Akhirnya sampai, ih capek banget seharian naik motor."


" Ya udah buruan masuk terus istirahat. Aku mau langsung pulang."


" Lah? nggak mampir dulu mas? nggak capek apa?"


" Nggak sek makasih, mau bantuin Adi juga, kasihan dia kalau nanti rame nggak ada yang bantuin ."


" Oke lah mas, makasih udah di anter, udah di kasih makan, di ajak jalan - jalan."


" Sama - sama sek, kalau mau pulang ntar aku jemput lagi, kalau kamu mau."


" Mau banget dong. Hahaha ojek gratis."


" Heh kamu ini. Ya udah aku pamit assalamualaikum."


" Waalaikum salam, hati - hati di jalan mas, kabarin kalau udah sampai."


" Iya."

__ADS_1


Aku segera masuk dan beristirahat sejenak sebelum bikin soal buat anak - anak besok.


Mas Nirwan baik, aku mulai nyaman di buatnya. Apa ini saat nya aku mulai membuka hati ku buat dia. Tapi aku masih takut, takut kalau nggak bisa mengontrol lagi dan menyukainya terlalu dalam.


Ikutin alurnya aja lah. Nggak usah mikir terlalu jauh juga. Belum tentu juga dia suka sama aku.


***


Semakin hari hubungan aku dengan mas Nirwan semakin dekat. Kita sudah seperti hubungan kekasih, tapi nggak ada kata jadian di antara kita, mungkin karena kita sudah mengerti perasaan masing - masing. Perasaan saling suka, sudah tergambar jelas lewat perhatian yang bergantian kami berikan.


Akhirnya setelah sekian lama, ada cowok yang kembali membuat ku nyaman. Membuat ku merasakan di cintai dan saling merindukan. Membuatku bisa mengalihkan pikiran ku tidak tertuju lagi pada masa lalu yang selama ini berusaha aku lupakan.


Mas Afif, aku sudah menemukan laki - laki yang mampu menarik perhatian ku darimu.


Laki - laki yang membuatku merasakan indahnya jatuh cinta lagi.


Laki - laki yang membuatku merasa dicintai dan saling merindukan.


Mas, aku masih mencintaimu, namun cinta ini aku simpan di lubuk hati yang paling dalam. Cinta ini masih tersimpan rapi, karena tidak terbalas, sudah tidak mampu untuk bersemi kembali.


Meskipun sudah ada cinta yang baru, aku masih tidak bisa melupakan mu. Tinggi, tampan, mempesonanya senyum mu masih melekat dimata ku.


Nama mu, masih terukir jelas dalam hati ku, tidak bisa di hapus ataupun terganti.


Siapapun itu tidak akan ada yang bisa menggantikan mu di hati ku.


Dan cinta baru yang saat ini, bukan lah sebagai pengganti.


Ku letakkan di tempat yang baru, agar tidak di bayang - bayangi masa lalu.


Cinta yang baru, akan terus bersemi selama masih saling mencintai, mengasihi dan melengkapi.


Mas, aku sudah menemukan tambatan hati yang baru.


Yang membuat ku akhirnya menyerah mengejar mu.


Aku menyerah mengharapkan balasan cinta darimu.


Aku menyerah untuk berharap bisa bersamamu.


Semoga aku bisa terbebas dari belenggu cinta untuk mu, belenggu yang aku ciptakan sendiri karena aku terlalu dalam mencintaimu.


Aku ingin bahagia meski tidak bersamamu.


Dengan laki - laki pilihanku, yang mencintaiku meskipun tidak sebaik dirimu.


Membuka lembaran baru.


Melukisnya dengan berbagai warna yang baru. Menciptakan keindahan yang berbeda dengan yang lalu.


Semoga ini awal dari perjalanan asmaraku, dan tidak mengulang kesalahan yang dulu.


Kali ini, aku ingin ini menjadi tambatan yang terakhir.


Lelah rasanya jika harus terus berpindah ke hati yang lain.


Harus beradaptasi dengan hati yang baru, lalu berakhir dan memulainya kembali,


Itu bukan yang aku mau.


Jika boleh jujur, bisa memilih, aku memilih untuk tidak patah hati dan merasakan rasa sakit yang terulang kembali.


Ditinggal kan, di campakkan, rasa yang bertepuk sebelah tangan, itu sangat menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2