Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan

Kesalahan & Keegoisan Dibalik Kebahagiaan
Ekstra part 8


__ADS_3

Semuanya kembali seperti semula.


Hubungan ku baik - baik saja. Terkadang ada pertengkaran kecil atau perbedaan pendapat, tapi bagiku, itu hal biasa.


Sesekali aku menelpon ibuk menanyakan kabar. Melepas rindu juga, tapi tidak bisa berlama - lama. Aku masih tidak ingin ibuk tau tentang kebebasan aku disini.


Aku tidak mau menyakitinya.


Berulang kali ibuk mengingatkan ku untuk memikirkan kembali keputusan ku menikah dengan mas Nirwan, tapi jawaban ku masih tetap sama, aku tetap akan menikahinya.


Hari ini aku dibuat ketakutan setengah mati.


Seharusnya kemarin lusa itu tanggal biasa aku datang bulan, tapi hingga saat ini aku belum datang bulan juga.


Sebenarnya aku datangnya bulanya juga tidak teratur, kadang maju, kadang juga mundur bahkan pernah dua bulan hanya datang bulan satu kali.


Namun karena aku sudah beberapa kali melakukan " HAL ITU", telat datang bulan kali ini membuat ku takut setengah mati.


Yah aku takut sekali kalau hamil, bagaimana nanti perasaan orang tuaku jika aku hamil, apa lagi belum menikah. Pasti ibuk bapak sangat kecewa, belum lagi gunjingan para tetangga. Pasti mereka menyalahkan orang tuaku, padahal disini kesalahan terletak pada ku, yang tidak nurut, tidak mendengarkan, dan tidak bisa menjaga diri sendiri. Pasti bapak sama ibuk akan sangat malu.


Aku nggak mau kejadian itu terjadi.


Ditambah lagi aku meriang, kepala ku pusing, badan ku lemas, mual - mual juga, ah itu membuatku menjadi sangat takut. Pikiran ku sudang melanglang buana kemana - kemana.


Karena mual itu membuat perkiraan aku hamil itu sangat mungkin.


Karena nggak enak badan, serta pikiran ku yang kacau, aku minta izin untuk libur, dan aku menyuruh mas Nirwan untuk menjemput ku.


" Pulang ke warung saja mas, kayaknya aku nggak kuat kalau pulang ke rumah."


" Kenapa nggak bilang kalau sakit sih sek, kan aku bisa jemput sebelum kamu jadi parah begini."


" Ya aku kira nggak akan separah ini mas, biasanya juga cuma pusing bentar terus sembuh."


" Ya sudah pegangan yang kencang, nanti kalau misalnya nggak kuat bilang ya, aku takut kamu jatuh."


" Makanya agak ngebut biar cepat sampai."


" Iya."


Jarak dari tempat kerja ku ke warung mas Nirwan memang tidak begitu jauh, jadi tidak butuh waktu lama berkendara.


Sesampainya di warung, aku langsung bergegas ke kamar, karena aku nggak tahan lagi kepala ku pusing banget. Aku ingin segera rebahan.


Mas Nirwan menyusul ku dengan membawa teh hangat dan sepiring nasi beserta lauk.


" Makan dulu sek, pasti belum makan kan?"


Aku tidak selera melihat makanan yang mas Nirwan bawa, padahal biasanya aku paling suka menu ayam goreng di lesehan ini.


Aku ingin makan bakso dengan kuah yang panas dan pedas, minum nya es jeruk.


Dengan membayangkan makanan itu membuatku lapar.


" Bangun dulu geh, aku suapin."


" Aku nggak mau makan itu mas."


" Terus mau makan apa?"


" Bakso."


" Ya nanti biar dibelikan Adi, ya udah minum dulu tehnya, nanti keburu dingin."


" Pengen Es jeruk."

__ADS_1


" Tapi kamu kan lagi sakit sek. Nggak boleh minum es."


" Boleh ya, dikit aja. Pengen banget."


" Ya sudah aku buatin dulu,"


" Baksonya jangan lupa ya mas."


" Iya sayang."


Aku tak sabar menunggu bakso nya dateng, perutku sudah keroncongan.


Tidak menunggu lama, akhirnya mas Nirwan datang membawa nampan berisi makanan pesanan ku.


" Nih, sini aku suapin."


" Nggak mau, aku mau makan sendiri."


" Kasih sambel nya jangan banyak - banyak."


" Nggak enak kalau nggak pedes mas."


" Jangan ngeyel ngapa dek kalau dibilangin."


Kalau mas Nirwan sudah memanggil ku dengan sebutan " DEK " itu berarti dia dalam keadaan yang serius dan nggak bisa dibantah.


" Iya mas."


Aku menyantap nya dengan lahap, hingga mangkuknya bersih bahkan kuahnya pun tak bersisa.


" Seenak itu ya sek? "


" he,em. Enak banget mas."


" Sudah. Mas?"


Aku tidur di pangkuan mas Nirwan yang tengah duduk di sampingku.


" Iya sek."


" Pijitin kepala ku, biar ilang sakitnya tapi pelan ya."


" Iya."


" Mas?"


" Iya sek, ada apa?"


" Em. Kalau aku hamil gimana?"


" Nggak mungkin sek."


" Lha kenapa nggak mungkin?"


" Kan tiap kali main, nggak aku keluarin di dalem."


" Ya kan bisa aja mas, apa lagi nggak pernah pake pengaman, kali aja pas mas nggak kerasa atau telat nyabutnya."


" Ya nggak lah sek."


" Tapi aku udah telat datang bulan mas, terus aku mual - mual."


" Jangan - jangan kamu sakit karena kamu mikirin itu ya?"


" Nggak tau juga, aku takut banget mas, kita nggak usah ngelakuin itu lagi ya?"

__ADS_1


" Yakin? Emang kamu tahan?"


" Ya nggak tau juga sih, habis kamu nya yang selalu bikin aku nggak tahan. Tapi kalau kaya gini aku takut mas."


" Nggak usah takut sek, kamu nggak hamil, percayalah."


" Tapi kalau iya gimana?"


" Ya nggak papa."


" Tapi aku nggak siap mas."


Aku nggak mau nyakitin orang tua ku mas. Aku sadar aku nggak bisa ngebahagiain mereka, tapi setidak nya aku nggak nyakitin mereka.


" Mas nggak akan menyuruhku menggugurkan nya kan?"


" Ya nggak lah sek, aku nggak setega itu."


" Apa lagi aku mas, ini kan salah kita. Dia nggak tau apa - apa, dia berhak hidup. Hadirnya dia di luar pernikahan, bukan kah itu salah kita yang membuatnya. Berani berbuat ya harus berani bertanggung jawab. Meskipun aku belum siap, seandainya aku beneran hamil, walaupun aku harus menyakiti dan membuat malu orang tua ku, aku akan tetap merawatnya. Meskipun mas juga nggak mau tanggung jawab aku akan tetap membesarkannya, aku akan mencintainya dengan segala kasih sayang yang aku punya."


" Sudah lah sek kamu istirahat saja, jangan mikir yang aneh - aneh. Kalau kamu memang hamil, mas akan tanggung jawab tenang aja, itu kan tetap anak kita."


" Benar ya?"


" Iya sek."


Mungkin kalau sudah menikah, telat datang bulan adalah hal yang ditunggu - tunggu. Kehamilan adalah yang selalu jadi idaman. kabar kehamilan adalah hal yang membahagiakan.


Tapi kalau lagi pacaran gini, bagi ku telat datang bulan adalah hal yang paling nggak aku inginkan. Dan kalau hamil itu malah menjadi beban pikiran.


Kabar kehamilan adalah kesedihan, menjadi bahan gunjingan, menjadi hal yang sangat memalukan dan menyakitkan. Meskipun itu akan berlalu dengan seiring berjalanya waktu tapi tetap saja, jika aku boleh meminta, aku tidak ingin hamil sebelum dihalalkan.


Tapi jika itu benar terjadi, aku juga akan tetap menghadapinya meskipun itu bukan hal mudah. Akan ada banyak kemarahan, kekecewaan dari orang yang tersayang, dan gunjingan serta caci makian dari orang sekitar yang akan aku terima.


Yah aku memang harus menyiapkan hati untuk segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.


" Eh kamu sakit apa Yu?" tanya Adi yang tiba - tiba masuk.


" Sakit nggak enak." Jawabku.


" Dimana - mana, udah dari jaman dahulu juga kalau namanya sakit itu pasti nggak enak. Jangan - jangan sudah ada Nirwan junior ya?"


Pertanyaan Adi membuatku terdiam, aku tidak biasa menjawabnya.


" Dia mau istirahat Di jangan di ganggu! tungguin depan kalau ada pembeli." Kata mas Nirwan.


" Iya pak bos, galak banget sih, kan cuma mau lihat kondisi Ayu aja."


" Ya sudah mas, ke depan saja bantuin Adi. Aku mau istirahat, nggak ditemenin nggak papa." Kata ku kepada mas Nirwan.


" Biarin Yu, depan biar aku yang jaga, belum ramai juga, aku sendiri masih bisa kok. Biarin dia disini, nanti kalau kamu butuh apa - apa kan ada dia yang bisa ngambilin." Kata Adi.


" Iya biarin Adi yang nunggu di depan, nanti kalau udah ramai aku ke sana bantuin. Sekarang mau mastiin kamu istirahat." Imbuh mas Nirwan.


" Kalian ini bikin iri saja. Jiwa jomblo ku terus meronta - ronta melihat kemesraan kalian yang bikin sebel. Ya udah aku ke depan dulu, berlama - lama disini bikin sedih." Kata Adi sambil berlalu pergi.


Aku pun terkekeh dibuatnya.


" Ya udah sekarang tidur biar sembuh, jangan banyak pikiran."


" Usap - usap pinggang ku mas, pegel banget."


" Iya, tapi cepetan tidur."


Usapan tangan mas Nirwan mengantarkan ku ke dunia mimpi di tidur pulas ku siang Ini.

__ADS_1


__ADS_2