
Kepergian ibuk
" Ibuk akan menyusul bapak ke Lampung nduk, "
Itulah perkataan ibuk yang langsung membuat ku terdiam. Aku bingung harus bereaksi bagaimana. Aku benar - benar nggak nyangka ibuk akan mengambil keputusan ini.
Ibuk memutuskan untuk menyusul bapak ke Lampung. Ntah apa yang ibuk rencanakan, meminta kejelasan status hubungan? apa memperjuangkan pernikahan?. Hanya ibuk yang mampu memberikan jawaban. Tapi aku memilih untuk tidak bertanya, biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan. Biarlah ibuk melakukan apa yang menurut nya perlu dilakukan. Aku tidak berhak mempertanyakan. Antara udahan atau bertahan kedua pilihan itu sama - sama menyakitkan.
" Sebentar lagi kamu ujian kan? jadi ibuk tidak bisa mengajak mu, "
" Ibuk berangkat kapan?? " tanyaku.
" Lusa."
" Lalu aku? "
" Ada simbah yang akan mengurus mu,"
" Berapa lama ibuk di sana? "
" Cuma sebentar. " Jawaban ibuk, yang aku gak tau itu kebenaran atau kebohongan, untuk menghibur ku saja. Aku tidak berani menatap ibuk, aku takut jika aku tidak bisa menahan tangis ku.
" Jika itu sudah keputusan ibuk, maka pergi lah buk. Aku akan baik - baik saja jika ibuk hanya pergi untuk beberapa hari. Aku akan jaga diri, tidak usah mengkhawatirkan ku." Jawab ku sambil tersenyum.
" Aku tau kamu pasti kecewa sama ibuk nduk, maafkan ibuk, ibuk harus mengambil keputusan ini, sebenarnya ibuk nggak tega harus ninggalin kamu. Tapi ibuk harus ke sana."
" Iya buk aku tau. Aku nggak papa buk. Pergilah, lakukan lah apa yang menurut ibuk benar. Aku akan selalu mendukung mu, "
" Terimakasih nduk. Sudah mengerti ibuk. Maafkan ibuk harus meninggalkan mu disini. Ibuk akan secepatnya kembali."
__ADS_1
" Aku akan menunggu mu disini buk." Jawabku sambil tersenyum.
" Jaga diri baik-baik selagi ibuk nggak ada, ingat harus bisa menjaga kehormatan mu, ibuk mengambil keputusan untuk meninggalkan mu, karena ibuk percaya, gadis ibuk ini pandai menjaga diri, ibuk percaya padamu, jangan kecewakan ibuk.Sering kabarin ibuk ya? "
" Iya buk, ibuk juga jaga diri ya. Maaf besok nggak bisa ikut mengantar ibuk, ibuk berangkat pagi kan?"
" Iya ibuk berangkat pagi, harus belajar agar nilainya lebih bagus ya, nanti nggak ada ibuk malah enek - enak kan nggak belajar."
" Iya buk, ibuk besok hati - hati ya?"
" Iya nduk."
" Aku pasti akan sangat merindukan mu buk."
" Ibuk juga pasti akan merindukan mu nduk, cepat lah istirahat ini sudah malam," ibuk memeluk ku sebentar, lalu mencium keningku sebelum dia meninggalkan aku sendiri dikamar.
Jangan ditanya lagi, bagaimana perasaan ku saat ini. Marah, kecewa, sedih bercampur jadi satu. Ini pertama kalinya aku berpisah dari ibuk, mungkin dalam waktu yang lama.
Aku kecewa karena ibuk lebih memilih menyusul bapak di sana, meninggalkan aku disini. Tapi setelah aku pikir lagi, itu egois. Mungkin ibuk ke sana ingin menyelesaikan masalahnya. Mungkin ibuk juga lelah karena masalah ini tak kunjung ada titik terangnya. Disini mungkin ibuk lah yang sangat tersakiti.
Tuhan, cobaan apa lagi ini? bisakah aku tanpa nya? aku masih membutuhkan nya.
Buk ? kenapa ibuk tega ninggalin aku sendiri disini, kenapa tak membawa ku bersama mu,?
Ini sangat berat bagi ku. Selama Ini aku begitu dimanja dan bergantung pada ibuk. Ini pertama kalinya aku akan berjauhan dengan ibuk. Jujur aku tidak ingin Ibuk pergi, aku masih butuh ibuk disini. Tapi disisi lain, mungkin ini keputusan yang harus ibuk ambil. mau tidak mau, aku harus menjalaninya. Meskipun aku tau, ini tidak akan mudah. Aku rela, jika ini yang harus aku korbankan demi kebahagiaan nya.
Aku kelelahan menangis hingga aku tertidur. Saat Adzan Subuh ibuk membangunkan ku, ntah kenapa aku malas sekali bangun.
" Nduk ayo bangun dulu. Nanti habis subuh baru tidur lagi. Besok kalau ujian jangan lupa habis subuh langsung belajar jangan balik tidur lagi."
__ADS_1
" Iya buk sebentar lagi."
" Bangun sekarang nduk, keburu siang. Kebiasaan kalau dibangunin susah. Besok kalau ibuk nggak ada, kalau kamu nggak belajar bangun sendiri, bisa - bisa kamu nggak sekolah terus karena bangun nya kesiangan. Ayo buruan bangun." Itulah omelan ibuk setiap pagi, kalau aku lagi susah bangun.
Besok siapa yang akan mengingatkan ku lagi tentang hal - hal kecil ini buk? siapa yang akan membangun kan ku? pasti aku akan sangat kesepian dan kehilangan mu. Aku akan sangat merindukan omelan ibuk yang seperti ini.
" Iya buk, ini sudah bangun."
" Dibiasakan kalau habis subuh itu jangan tidur lagi, belajar cuci baju atau beres-beres rumah. Belajarlah mandiri nduk, kamu sudah besar, jangan terus bergantung sama ibuk. Selama ibuk pergi kamu harus bisa mengurus dirimu dan keperluan mu sendiri, jangan merepotkan simbah, kerjaan simbah sudah banyak."
" Iya buk."
" Harus belajar bangun pagi sendiri. Kalau pas libur cobalah belajar memasak."
" Iya buk.
Omelan ibuk membuatku tidak mengantuk, aku hanya mengiyakan omelan panjang lebarnya. Yah mungkin ibuk begitu karena khawatir dengan ku. Memang selama ini aku begitu bergantung padanya.
Ntah kenapa mengetahui besok ibuk akan pergi, sebagian semangat ku hilang. Aku malas keluar dari kamar, ya padahal ibuk sudah ngomel - ngomel dari tadi pagi. Tapi ntah kenapa aku enggan turun dari ranjang ku. Aku hanya bermain ponsel dan bermalas-malasan. Tak ku hiraukan omelan ibuk. Biarlah aku menikmati kesedihan ku sekarang, karena besok sudah harus fokus mengerjakan ujian. Aku harus bisa memperbaiki nilai ku, harus bisa lebih baik lagi dari yang kemarin.
Aku pasti akan sangat merindukan omelan mu buk. Rumah ini pasti akan sepi tanpa mu.
Seharian aku hanya dikamar. Keluar hanya untuk makan dan mandi. Aku abaikan ibuk yang sedari tadi mengomel. Aku masih nggak bisa terima kalau besok ibuk sudah berangkat.
Pagi harinya seperti bisa. Hari ini aku nggak sarapan karena puasa. Iya hari ini aku ujian, hari ini juga hari keberangkatan ibuk. Ujian hari ini adalah yang terberat. bagaimana tidak? aku sedih di tinggal ibuk, tapi aku juga harus fokus mengerjakan soal ujian.
Karena sekolah, jadi aku gak bisa ikut mengantar ibuk ke terminal. Setidak nya aku nggak menangis menyaksikan ibuk pergi secara langsung.
Aku hanya bisa merelakan mu pergi buk, hanya dengan ini aku bisa membantu masalahmu, semoga dengan kedatangan mu ke sana akan ada titik terang untuk keluarga kita. Sebenarnya berat buk aku melepas mu pergi. Tapi untuk kebaikan keluarga kita maka pergilah, selamat berjuang, maafkan anak mu ini yang tidak bisa menemanimu. Aku akan selalu mendoakan mu. Hati - hati dijalan ya buk. Cepatlah kembali, aku menunggumu disini.
__ADS_1