
menceritakan
Aku malas untuk belajar. Pikiran ku lagi kacau begini. Belajar juga percuma, paling masuk kanan keluar kiri. Nggak ada yang nyantol.
Aku hanya main ponsel. Bertukar pesan sama mas Afif, sejenak bisa melupakan kesedihan ku. Hingga akhirnya aku ketiduran. Masih dengan ponsel yang masih aku genggam.
Baru sebentar, ku istirahatkan pikiran ku dari lelah nya masalah yang menimpa.
Dari kamar sebelah ku dengar ada yang ribut - ribut. Iya, itu adalah suara bapak dan ibu ku, mereka bertengkar lagi. Dan lagi - lagi itu membuat ku hati ku semakin teriris.
Aku duduk bersandar di ranjang, sambil ku lipat dan ku peluk kedua lutut ku. Aku menangis, berharap rasa sakit ini ikut hanyut deras nya air mata. Agar tidak terasa begitu menyiksa.
Pagi hari aku terbangun tanpa di bangunkan ibuk. Aku menghampiri ibuk yang sedang menyiapkan sarapan ku. Mata ibuk yang bengkak menghiasi wajah cantiknya. Miris aku melihat nya, tapi aku harus pura - pura tidak tau, dan aku bersandiwara seperti biasa.
Aku berangkat sekolah, dan bapak pun juga berangkat bekerja. Hari - hari ku berlalu begitu saja. Sering ku dapati ibuk melamun ntah memikirkan apa. Masih dengan sandiwara luar biasa nya. Di depan ku, ibuk tersenyum dengan senyuman termanisnya.
Bapak sekarang jarang pulang, ntah masih komunikasi sama ibuk apa gak aku tidak tau.
Di sekolah, aku bersikap biasa saja. Tapi itu tidak berlangsung lama. Sandiwara ku tidak sesempurna ibuk. Apa yang ku pikirkan, sering membuat ku nggak fokus saat jam pelajaran. Aku lebih memilih duduk di kelas sendiri dari pada ngumpul di kantin bersama sahabat ku. Sering nggak nyambung kalo lagi ngobrol dengan mereka. Semakin lama, itu membuat mereka semakin curiga. Mereka menyadari perubahan ku yang tak seperti biasanya.
" Nggak terasa ya sebentar lagi ujian semester," kata mbak Okta.
" Berarti bentar lagi liburan dong. Ahhhh senang nya, "sahut Aisyah.
" Heh Markonah!!! ujian aja belum, udah mikir liburan. Pikirkan belajar dulu Syah. " Kata mbak Yani.
" Nggak tau tuh si Aisyah, giliran liburan aja semangat banget. Nggak sabar banget ya, pengen pisah dari kita - kita? " tanya mbak Okta.
" Iya bosan sekolah. Masak tiap hari ketemunya ama kalian - kalian mulu. Sekali - kali cuci mata gitu. Pengen ketemu ama cogan. Hehehe, " jawab Aisyah.
Aku hanya menyimak obrolan mereka, tapa minat ikut bergabung.
" Yu ? " mbak Yani memanggil ku. Tapi aku tak mendengar.
" Gusti Ayu Purnamasari !!" mbak Yani memanggil ku ulang dengan nada yang agak meninggi.
" Eh!!! iya ada mbak Yani Putri wulandari. Kalau manggil pelan dikit napa mbak? " jawab ku agak kaget.
__ADS_1
" Akhir - akhir ini kita perhatikan kamu aneh gak seperti biasanya." kata mbak Okta.
" Aku pikir kamu ada masalah sama Afif. Tapi aku tanya Bima, katanya kamu baik - baik aja sama Afif ," imbuh mbak Yani.
" Kamu juga nggak fokus belajar. Nilai harian kamu turun. Sebenar nya kita nunggu kamu cerita. Tapi sampai saat ini, kayak nya gak ada niat buat kamu cerita. Senin besok sudah mulai ujian, tapi kamu, kamu gak fokus dalam pelajaran. Kalau kaya gini terus, pasti nilai mu akan anjlok. " Kata Aisyah.
" kita sahabat kamu, bagi lah masalah mu pada kita. Katanya kita saudara? kalau kamu anggap kita saudara cerita lah," bujuk mbak Okta.
" Kita sedih loh, liat kamu kaya gini. " kata mbak Yani.
Aku hanya menundukkan kepala ku, ku tahan air mata ku, agar tidak jatuh di depan mereka.
Mungkin ini saat nya mereka tau. Aku juga gak bisa lama - lama bersandiwara di depan mereka. Cepat atau lambat mereka pasti akan tau.
" Maaf, sudah bikin kalian khawatir. Bukan aku gak mau cerita. Tapi aku malu, "
Dan ku menceritakan semuanya kepada mereka, ya mereka menangis sambil memeluk ku.
" Kenapa kamu baru cerita? kenapa kamu tega nutupin masalah kayak gini dari kita,? " Tanya mbak Okta.
" Aku bangga padamu. Tetap lah tegar, jadilah wanita kuat. Kita selalu bersama mu. Jangan pernah tutupin masalah apa pun lagi, jika kamu tidak sanggup memendam nya sendiri. " kata mbak Yani.
" Pelukan kita, akan slalu terbuka untuk mu. bahu kita siap jadi sandaran mu. Telinga kita siap mendengar semua ceritamu. Kita akan membantu sebisa kita, jangan kaya gini lagi ya?" imbuh mbak Okta.
" Terimakasih. Kalian ada untuk ku. Dengan kalian mau mendengarkan cerita ku, memeluk ku dengan erat, tidak meninggalkan ku, itu sudah sangat membantuku. Aku butuh kalian untuk berbagi cerita, mensuport, dan mengingatkan ku. Sekali lagi terimakasih. Tuhan baik kepada ku, memberikan ku sahabat seperti kalian. "
Aku sangat menyayangi mereka, punya sahabat sebaik mereka adalah anugrah terindah.
Ujian awal semester ku lalui dengan penuh perjuangan. pikiran yang masih berantakan, hati yang masih tersakiti, membuat ku tidak fokus dengan soal ujian. Padahal setiap belajar selau di temenin mas Afif lewat telpon. Aku selalu bertanya dia jika ada hal yang tidak aku mengerti.
Ternyata pertengkaran dan masalah keluarga berpengaruh besar pada nilai sekolah ku. Iya, nilai sekolah ku anjlok. Nilai ku sangat buruk. Aku tidak lah kaget, karena memang aku sudah menebak nya. Banyak soal ujian yang aku tidak aku mengerti, mungkin karena saat pelajaran materi itu dijelaskan, aku tidak mendengarkan.
Ibuk tau, mungkin dia kecewa, tapi dia tetap menyemangati ku, agar ujian berikutnya nilai ku bisa diperbaiki. Sedangkan bapak sama sekali tidak peduli.
Bapak sudah jarang pulang. Untuk menyambung hidup, bahkan ibuk kerja di butik desa sebelah.
Akhirnya libur panjang pun tiba. Banyak yang pergi berlibur keluar kota, ada yang liburan ke tempat saudara di Ibu Kota.
__ADS_1
Aku hanya di rumah. Sesekali ketemuan sama mas Afif di tempat biasa. Hari ini ibuk kebetulan libur kerja, dan mas Afif sama mas Bima mau main ke rumah. Aku mengirim pesan ke mbak Yani, mengajaknya untuk ikut menjemput mereka. Karena mereka belum tau rumah ku. Jadi aku dan mbak Yani memutuskan menjemput mereka di desa sebelah di tempat biasa kita ketemu.
" Hay mas Bima, apa kabar ?" sapa ku.
" Sehat dek, kamu sendiri apa kabar ?" mas Bima balik nanya.
" Eehem, cuma mas Bima ni yang disapa, ini ada mas Afif loh disini, gak kelihatan ya? " Tanya mas Afif dengan nada kesalnya.
" Kan kalau sama mas sudah tiap hati telponan, jadi nggak perlu ditanya lagi. kalo mas Bima kan beda. Kita nggak pernah kontekan."
mbak Yani hanya tersenyum, dan menggelengkan kepalanya melihat kita. Mbak Yani segera menghampiri mas Bima dan mengajaknya jalan duluan.
" Mas?" panggilku.
" Mas, (panggil ku lagi). Kok diem aja sih di panggil?"
" Oh sekarang udah liat, kalau mas mu juga ada di sini?"
" Ihh gitu aja ngambek," kata ku.
" Itu mas Bima cowok loh dek, masa adek nyapa mesra cowok lain di depan ku ?"
Ku tepuk jidat ku, lalu ku cubit pinggang mas Afif.
" Aww, sakit dek.Ihh baru ketemu sudah di aniaya."
" Ya mas Afif sih aneh. Dia itu kan teman mas, kan gak salah kalau aku nyapa. Nanti dikira aku sombong lagi. Apa lagi dia juga deket sama mbak Yani."
" Tapi kan aku cemburu dek, bagaimanapun juga dia cowok. Aku gak suka adek ngobrol sama laki - laki lain. Lagian kalau dia suka sama adek gimana?"
" Ya Tuhan, ihhhh gemes aku, gemes banget deh. Itu mata mas rabun atau gimana? dia udah sama mbak Yani yang cantik jelita paripurna, montok, bohay, putih. Mana ada waktu buat melirik aku yang kaya begini mas?"
" Tapi dimata ku, kamu yang paling cantik dek. Pokok nya aku gak suka ya kamu deket - deket sama Bima."
Ini aku harus bahagia atau sedih sih? seneng sih di cemburuin gini, tapi kok ya nggak kira - kira. Memang di mata dia aku secantik apa sih?
yang ada kamu itu yang ganteng mas, harusnya aku yang khawatir, pasti di sekolahan banyak cewek yang naksir kamu. Kalau aku, mungkin cuma kamu yang rabun karena mau sama aku.
__ADS_1