
**Menangis karena mu, lagi**.
Sesampainya ditempat tujuan, aku langsung menghubungi mas Afif.
Dia pun bertanya dimana alamat tempat aku bekerja.
Aku sangat berharap bisa bertemu dengan nya.
Aku udah nggak sabar pengen segera bertemu dengannya.
Di kepala ku sudah dipenuhi bayangan, bahwa aku akan bertemu dan jalan-jalan dengannya.
Sudah tergambar jelas raut kebahagian di wajah ku.
Tapi semua tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Kenyataan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Semua angan-angan itu sirna saat aku mengetahui dari mas bahwa,
ternyata jarak antara tempatku bekerja dan tempatnya mas Afif sangat jauh. Dan mustahil untuk bertemu, itu yang mas Afif katakan padaku.
Aku sangat kecewa. Sebenarnya nggak papa, toh masih bisa di tempuh dengan kendaraan. Masih jauhan jarak tempuh ke Lampung kan? Tapi tetap saja pendapatku tidak ada artinya, mas Afif tetap sangat keberatan.
Oke, aku pun sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi, meskipun aku sangat kecewa. Aku mengalah, karena tidak ingin egois. Kali ini aku akan mengikuti apa yang dia mau.
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu.
Aku pun juga sudah beberapa hari mulai bekerja.
Setiap setelah selesai bekerja aku selalu menghubungi mas Afif. Tapi anehnya dia tidak pernah mengangkat panggilan ku. Aku mulai takut dibuatnya.
Kok nggak diangkat lagi ya? dia kemana? apa mungkin lagi sibuk. Coba kirim pesan deh, kalau sudah nggak sibuk kan pasti dia balas.
Tapi tetap aku berusaha berfikir positif, menyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja, mungkin dia lagi bekerja. Aku pun mengirim pesan.
📨Aku
Mas apa kabar? kamu baik-baik saja kan?
kok telpon nggak pernah di angkat? apa lagi sibuk? tolong dong mas kalau sibuk setidaknya balas lah pesanku. Aku khawatir.
tapi hasilnya juga sama. Berhari - hari pesanku tak dibalasnya.
Sampai sekarang juga nggak ada balasan, sebenarnya kamu kemana sih mas? ada apa denganmu. Semakin kesini kok perasaan ku makin tidak enak.
Aku mencoba menghubungi lewat akun sosmed nya, tapi juga sama tidak ada respon maupun jawaban, padahal akun sosmed nya sedang aktif. Itu membuat perasaanku semakin tidak enak. Keyakinan dan pikiran positif yang selama ini selalu aku tanamkan, akhirnya memudar.
Dari situlah aku sudah yakin bahwa mas Afif memang sudah membuang ku.
__ADS_1
Sakit, kecewa, marah dan sedih tentunya. Terakhir dia menghubungi aku, dia nggak bilang apa - apa cuma bilang bahwa tidak bisa bertemu karena jarak tempat kita kerja itu lumayan jauh. Dan dia tidak bisa menemui ku. Aku pun menyetujui keputusannya itu, tanpa protes.
Karena aku sangat penasaran dan juga khawatir padanya.
Aku berusaha mencari tau.
Lalu aku ingat mas Bima, pasti dia tau sesuatu.
Oh iya mas Bima, dia kan sahabatnya. Pasti dia tau sesuatu. Pasti mas Bima juga tau alasannya kenapa dia kaya gini ke aku. Aku tanya dia saja.
Tapi aku sudah tidak punya nomor telponnya.
Coba deh tanya mbak Yani kali aja dia masih menyimpan nomor telponnya mas Bima.
Aku pun menghubungi mbak Yani berharap dia masih menyimpan nomor mas Bima.
" Assalamualaikum mbak."
" Iya waalaikumsalam Yu, tumben telpon ada apa?"
" Nggak ada apa - apa kok mbak cuma mau tau tanya mbak masih nyimpen nomornya mas Bima nggak ya?"
" Masih, tapi nggak tau masih aktif apa nggak."
" Emang mbak putusnya udah lama.'
" Udah lama banget, kamu sih jarang nelpon, jadi nggak tau berita terbaru kan, nelpon cuma kalau ada maunya saja."
" Ya maaf mbak, aku sibuk hehehe."
" Ada lah mbak, rahasia hehehe. Ada yang ingin aku tanyakan ke mas Bima mbak."
" Oh, ya nanti aku kirim, semoga saja masih aktif. Kapan kamu mau pulang kesini?"
" Masih direncanakan mbak, hehehe, belum pasti. Nanti kalau jadi tak kabarin."
" Oke lah. Kutunggu kabar baiknya."
" Siap mbak, ya udah makasih ya mbak."
" Iya."
Dan untungnya mbak Yani masih menyimpannya. Nomornya pun masih aktif, rupanya mas Bima belum menggantinya.
Tidak menunggu lama lagi aku segera menghubunginya.
" Halo assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam, maaf ini siapa ya? "
" Aku mas. Ayu, sudah lupa ya sama aku? "
__ADS_1
" Oh, gimana kabarnya dek? lama banget nggak ada kabar? "
" Kabar baik mas. Mas sendiri gimana kabarnya?"
" Baik juga dek. Adek dimana sekarang? "
" Kerja mas, di Jakarta."
" Tumben nih nelpon ada apa? "
" Mau tanya soal mas Afif gimana kabarnya sekarang?"
Aku tidak menceritakan soal mas Afif kepada mas Bima. Takutnya dia malah nggak mau jujur.
" Oh Afif, dia sehat dek. Sudah punya pacar dia sekarang. Dia juga kerja di Jakarta loh."
Deg!!!
Bagai dihantam batu besar. Dadaku sesak, untuk bernafas pun sangat sulit.
" Dek, Halo."
" Eh iya mas. Ya bagus lah kalau dia sudah bahagia. Aku ikut bahagia."
" Jadi ini nelpon cuma mau nanyain Afif saja."
" Hehehe iya mas."
" Emang kamu udah nggak pernah kontekan lagi sama dia dek?"
" Ya sudah lumayan lama sih mas."
" Cie, masih cinta ya? sampai di bela - belain nelpon aku cuma mau tanya kabar Afif aja"
" Nggak gitu juga mas, ya cuma mau tau kabarnya saja kok."
" Oh gitu. Ya sudah dulu ya dek. Mas mau kerja. Disambung nanti lagi ya? "
" Oke. Terimakasih mas. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam."
Malam ini akan menjadi malam yang panjang lagi untukku. Ku pandangi foto mas Afif yang masih tersimpan rapi di dalam buku harian ku.
Duniaku seakan hancur. Hal yang aku takutkan akhirnya terjadi. Kenyataan bahwa sekarang aku bukan lagi cinta dihatinya itu sangat membuatku sakit. Aku kecewa pada diriku yang terlalu berharap banyak. Akhirnya, akhirnya berakhir dengan luka.
Aku tidak menyangka harapanku yang pupus akan meninggalkan luka yang sesakit ini.
Kenyataan ini menamparku dengan sangat luar biasa, mampu membangunkan ku dari mimpi indah ku dan meghadapi kenyataan pahit yang sudah menyambut ku.
Mas apa ini balasan untukku? apa sakit seperti ini yang kamu rasakan dulu. Sekarang aku mengerti mas. Memang pantas aku menerimanya. Tapi kenapa tak kamu katakan dari awal. Kenapa kamu lakukan sekarang, saat aku datang dengan segudang harapan. Aku disini untukmu. Ingin bertemu dan melepas rindu padamu. Kenapa kamu memberiku harapan saat sudah tau bahwa kamu menjadi pasangan orang lain. Aku tak pernah menyangka akan ada hal seperti ini. Aku tidak menyangka mas akan membalas ku dengan cara ini. Ini terlalu menyakitkan mas, meski aku menerimanya. Apa aku bisa, apa aku sanggup?
__ADS_1
Yah, aku akan berusaha ikhlas menjalaninya. mungkin sudah saatnya aku menyerah. membiarkan takdir yang berbicara.
Ku relakan kamu bersamanya. Semoga dia bisa membuatmu bahagia.